
sawitsetara.co – SIJUNJUNG — Produksi perkebunan kelapa sawit di Sumatera Barat menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa waktu terakhir.
Kenaikan ini dipicu mulai berproduksinya kebun hasil program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang sebelumnya digencarkan pemerintah bersama Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO).
Ketua Dewan Pengurus Daerah APKASINDO Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, Bagus Budi Antoro, mengatakan program PSR yang didukung dana Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) kini mulai memberikan hasil nyata bagi petani.
“Di Sumbar, DPW Apkasindo memiliki 6 DPD kabupaten dan kota. Sebelumnya bergerak mendorong agar percepatan PSR tercapai. Alhasil saat ini kebun PSR tahap 1 dan 2 sudah menghasilkan uang untuk petani pemiliknya,” kata Bagus, dikutip pada Senin (19/1/2025).
Menurut dia, mulai berproduksinya kebun PSR berdampak langsung terhadap peningkatan produktivitas sawit di Ranah Minang. Bagus memperkirakan produksi sawit Sumatera Barat ke depan bisa menembus angka 2,3 juta ton per tahun.
“Bisa jadi peningkatan hasil kebun kelapa sawit se-Sumbar dapat di atas 2,3 juta ton per tahun nantinya. Dimana luas perkebunan kelapa sawit di Sumbar mencapai 854.419 hektar pada tahun 2022. Sekarang bisa jadi meningkat jumlah luasannya dan hasil kebunnya,” ujarnya.
Meski demikian, Bagus menilai kebun PSR yang mulai menghasilkan ini masih membutuhkan dukungan lanjutan, terutama sarana dan prasarana.
Ia menjelaskan kebun PSR tahap pertama dan kedua dibangun dengan dana hibah Rp30 juta per hektare, sehingga petani masih harus menambah biaya sendiri hingga tanaman benar-benar masuk fase Tanaman Menghasilkan (TM) tahun pertama.
“Kebun PSR tersebut masih perlu dukungan sarana dan prasarana. Sebab kebun PSR tahap 1 dan 2 tersebut dulunya masih dibangun dengan dana hibah sebesar Rp30 juta per hektar. Artinya petani masih harus keluarkan dana pribadi untuk mencukupi biaya lanjutan peremajaan hingga tahap Tanaman Menghasilkan tahun 1,” kata dia.
Salah satu kebutuhan paling mendesak, menurut Bagus, adalah pupuk. Ia menyebut biaya pupuk menyerap porsi besar dari total biaya perawatan kebun.
“Petani butuh dukungan pupuk, dimana kebutuhan pupuk dapat memangkas anggaran sebesar 30 persen sendiri dari biaya perawatan seluruhnya. Nah jika kebutuhan ini tercukupi tidak kecil kemungkinan jumlah produksi meningkat kembali,” ucapnya.
Bagus berharap BPDP dan pemerintah mempermudah pengurusan serta pengajuan bantuan sarana dan prasarana bagi petani, khususnya untuk pupuk. Menurut dia, tanpa dukungan tersebut, peningkatan produksi sawit rakyat akan berjalan lebih lambat.
“Mau tidak mau BPDP dan pemerintah harus hadir untuk membantu pupuk petani perkebunan rakyat,” kata Bagus.
Tags:
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *