KONSULTASI
Logo

Bioavtur dari Limbah Sawit Diklaim Pangkas Emisi Penerbangan hingga 80 Persen

7 Februari 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Bioavtur dari Limbah Sawit Diklaim Pangkas Emisi Penerbangan hingga 80 Persen
HOT NEWS

sawitsetara.co - DEPOK — Pemanfaatan limbah cair industri kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) sebagai bahan baku bioavtur dinilai mampu menekan emisi gas rumah kaca industri penerbangan secara signifikan. Berdasarkan skema Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA), sustainable aviation fuel (SAF) berbasis POME memiliki life cycle emission factor (LCEF) sebesar 18,1 gram CO₂e per megajoule.

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan avtur fosil yang mencapai 89 gCO₂e/MJ, atau setara dengan penurunan emisi sekitar 79,6 persen. Kepala Divisi Riset Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) Dimas H. Pamungkas menyebut rendahnya emisi POME disebabkan tidak adanya beban emisi dari alih fungsi lahan tidak langsung (indirect land use change).

“POME merupakan residu yang tidak bisa dihindari dari proses pengolahan tandan buah segar kelapa sawit. Karena itu, emisi siklus hidupnya jauh lebih rendah dan ini menjadi peluang penting bagi Indonesia,” ujar Dimas di Depok, Jawa Barat, Kamis (5/2/2026).

Promosi ssco

Menurut Dimas, POME yang diusulkan Indonesia sebagai bahan baku SAF telah diterima oleh International Civil Aviation Organization (ICAO) dan masuk dalam daftar positif pada November 2025. ICAO mengklasifikasikan POME sebagai residu sehingga memenuhi kriteria CORSIA untuk bahan bakar rendah emisi.

Secara potensi, minyak yang dapat dipulihkan dari POME berkisar 0,76–2,8 persen dari total berat tandan buah segar (TBS). Dengan produksi TBS Indonesia sekitar 138 juta ton per tahun, potensi minyak dari POME diperkirakan mencapai 1,5 juta ton per tahun.

SAF berbasis minyak sawit mentah (crude palm oil atau CPO) juga masih dinilai layak, asalkan proses produksinya dilengkapi fasilitas methane capture. SAF berbasis CPO memiliki nilai LCEF sekitar 76,5 gCO₂e/MJ, atau sekitar 14 persen lebih rendah dibandingkan avtur fosil. Namun, Dimas menilai penurunan emisi dari POME jauh lebih signifikan.

Riset International Air Transport Association (IATA) menunjukkan SAF berbasis CPO berpotensi menyumbang hingga 65 persen dalam upaya dekarbonisasi penerbangan global. Seiring penerapan standar CORSIA, permintaan SAF diproyeksikan terus meningkat dan secara bertahap menggantikan avtur fosil.

Promosi ssco

World Economic Forum (WEF) memproyeksikan kebutuhan SAF global pada 2050 dapat mencapai 515 juta kiloliter. Sementara itu, konsumsi avtur Indonesia saat ini sekitar 5 juta kiloliter per tahun.

“Angka Indonesia memang kecil dibandingkan kebutuhan global, tetapi kita punya keunggulan bahan baku. Karena itu, Indonesia perlu mulai mengambil peran sebagai produsen SAF,” kata Dimas.

Untuk dapat dikategorikan sebagai SAF, bahan bakar harus memenuhi standar ASTM D7566 dan ASTM D1655 dengan emisi setidaknya 10 persen lebih rendah dibandingkan avtur fosil. Salah satu teknologi pengolahan yang digunakan adalah hydroprocessed esters and fatty acids (HEFA).

Selain standar teknis, pengelolaan lingkungan menjadi syarat utama. Emisi metana dari POME harus dikendalikan melalui pembangkit listrik tenaga biogas agar tidak dilepas ke atmosfer. Dimas menambahkan, Indonesia juga perlu mendiversifikasi bahan baku SAF, termasuk minyak jelantah (used cooking oil), palm fatty acid distillate (PFAD), dan minyak kelapa non-standar.

“Dengan kekayaan sumber bahan baku tersebut, Indonesia memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam pengembangan SAF global sekaligus mendorong ekonomi sirkular berbasis sumber daya domestik,” ujar Dimas.


Berita Sebelumnya
Pembibitan Sawit APKASINDO di Pesantren Teknologi Riau Perkuat Kemandirian Ekonomi Berbasis Sawit

Pembibitan Sawit APKASINDO di Pesantren Teknologi Riau Perkuat Kemandirian Ekonomi Berbasis Sawit

Pembibitan sawit ini diresmikan oleh Wakil Presiden RI ke-13, KH Ma’ruf Amin, dan dirangkaikan dengan panen perdana bibit sawit, penanaman kecambah sawit hibrida, serta pengenalan teknologi pengolahan minyak kelapa sawit merah.

6 Februari 2026 | Edukasi

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *