KONSULTASI
Logo

Biodiesel Solusi Energi Berbahan Baku Nabati Pengganti Fosil

29 Desember 2025
AuthorIbnu
EditorIbnu
Biodiesel Solusi Energi Berbahan Baku Nabati Pengganti Fosil
HOT NEWS

sawitsetara.co – JAKARTA – Suka tidak suka harus diakui bahwa penguatan inovasi melalui sinergi yang melibatkan peneliti, dunia usaha, dan pemerintah, menjadi solusi dalam menghadapi tantangan ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil di tengah kondisi geografis yang sangat luas.

Salah satunya inovasi teknologi melalui program biodiesel berbahanb baku kelapa sawit yang rencananya akan di implementasikan B50 (50 persen berbahan baku kelapa sawit). langkah strategis untuk mengurangi emisi tanpa mengorbankan kebutuhan energi nasional. Selain itu program biodisel menjadi solusi sebagai energi bahan baku fosil.

"Selain itu, kebijakan hilirisasi melalui Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2025 diharapkan menjadi kunci untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen dan menciptakan 3 juta lapangan kerja baru," ungkap Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Satya Hangga Yudha Widya Putra.


natal dpp

Seperti diketahui, Indonesia menghadapi tantangan defisit minyak yang signifikan, yang mana konsumsi mencapai 1,6 juta barel per hari, sementara produksi atau lifting berkisar 605.000 barel per hari.

Manajer Industrialisasi Sales Pertamina Patra Niaga, Samuel Hamonangan Lubis menekankan pentingnya biodiesel berkelanjutan bagi masa depan Indonesia. Mengingat bioenergi berpotensi untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang dinilai berdampak bagi keberlangsungan hidup.

Seperti diketahui, pemerintah Indonesia per 1 Januari 2025 telah menerapkan campuran sawit untuk biodiesel sebesar 40 persen atau dikenal dengan B40 yang merupakan langkah besar menuju ketahanan energi. Pemanfaatan bio energi ini akan terus dilakukan pada tahun depan, di mana pemerintah akan mulai malakukan penelitian untuk B50.

"Kini, kita berharap bisa melanjutkan ke B50 pada 2026, dan bahkan B100 di masa depan, kita harus mempersiapkan ini untuk mendapatkan energi yang berkelanjutan," terang Samuel.


natal dpp

Namun, perjalanan menuju keberlanjutan tidak tanpa rintangan. Samuel mengidentifikasi dua masalah utama, antara lain skala ekonomi dan kendala teknis. "Pemerintah memberikan insentif positif bagi petani dan produsen, sehingga produksi biodiesel meningkat, tapi isu teknis tetap ada," ungkap Samuel.

Data menunjukkan peningkatan signifikan sekitar 20 persen dalam realisasi penggunaan biodiesel dari 9,4 juta kiloliter pada 2021 menjadi 15,61 juta kiloliter pada 2025. Sementara pada 2026 diproyeksikan akan ada penggunaan biodiesel mencapai 19,52 juta kiloliter dengan nilai Rp 290 triliun. "Ini adalah peluang besar bagi petani dan produsen," imbuh Samuel.

Di sisi lain perihal harga biodiesel juga menjadi tantangan besar, dengan harga sekitar Rp22.650-Rp 22.900/liter sesuai wilayah. Sementara untuk diesel jenis Dexlite Rp 14.600/liter dan Pertamina Dex Rp 14.800/liter, artinya lebih murah daripada biodiesel.

"Pelanggan mengeluh soal harga, dan produsen perlu menstabilkan harga agar tetap terjangkau oleh masyarakat. Jika tidak terjangkau, industri akan mati. Kita tidak bisa menunggu," terang Samuel.

Pertamina juga berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon dan ketergantungan bahan bakar fosil melalui diesel HVO (hydrotreated vegetable oil) sebagai alternatif. Ia menuturkan bahwa masa depan biodiesel di Indonesia tampak menjanjikan, tetapi keberhasilan bergantung pada kerjasama antara pemerintah, produsen, dan masyarakat.



Berita Sebelumnya
5 Inovasi Sawit Berkelanjutan: Solusi Teknologi Ramah Lingkungan untuk Masa Depan Perkebunan

5 Inovasi Sawit Berkelanjutan: Solusi Teknologi Ramah Lingkungan untuk Masa Depan Perkebunan

Seiring berkembangnya teknologi dan riset lingkungan, berbagai solusi inovatif mulai diterapkan untuk menjawab dilema tersebut.

27 Desember 2025 | Edukasi

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *