KONSULTASI
Logo

Bukan Industri, Sawit Tumbuh di Kebun Warga Ciamis untuk Bertahan Hidup

15 Januari 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Bukan Industri, Sawit Tumbuh di Kebun Warga Ciamis untuk Bertahan Hidup
HOT NEWS

sawitsetara.co - CIAMIS — Bagi warga di sejumlah wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, kelapa sawit bukan dipahami sebagai simbol industrialisasi pertanian. Tanaman ini justru hadir sebagai pilihan bertahan hidup, di tengah lahan yang makin sulit diandalkan untuk padi maupun komoditas kebun lainnya.

Perlahan namun nyata, sawit mulai tumbuh di kecamatan-kecamatan yang selama ini tidak dikenal sebagai sentra tanaman tersebut. Di Dusun Ciloa, Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, pohon-pohon sawit kini berdiri di kebun warga yang sebelumnya ditanami palawija dan tanaman campuran.

Promosi ssco

Pemandangan serupa juga muncul di Desa Sukasari, masih di wilayah Tambaksari. Sementara di Kecamatan Sukadana, jejak penanaman sawit mulai ditemukan meski belum dalam skala luas.

Berbeda dengan perkebunan sawit di Sumatera atau Kalimantan yang membentang ribuan hektare, sawit di Ciamis tumbuh dalam petak-petak kecil. Jumlahnya bervariasi, dari puluhan hingga ratusan batang, menyatu dengan kebun, tegalan, dan lahan pertanian milik warga yang selama ini terus bergulat dengan penurunan kesuburan tanah.

Di kawasan selatan dan timur Ciamis, kondisi lahan marginal menjadi persoalan utama. Curah hujan yang kian tidak menentu dan produktivitas tanah yang menurun membuat banyak tanaman pangan dan kebun tak lagi menjanjikan hasil.

“Di sini sudah susah untuk padi dan tanaman kebun. Sawit malah bisa hidup,” ujar seorang petani di wilayah Tambaksari kepada InfoSAWIT, Rabu (14/1/2026).

Promosi ssco

Ungkapan tersebut menggambarkan alasan pragmatis di balik pilihan menanam sawit. Dalam situasi serba terbatas, sawit dipandang lebih toleran terhadap kondisi tanah yang kurang ideal dan menawarkan stabilitas hasil dalam jangka panjang. Bagi petani kecil, stabilitas ini menjadi kunci untuk mempertahankan sumber penghasilan ketika komoditas lain berulang kali gagal panen.

Namun, kemunculan sawit sebagai strategi bertahan hidup ini juga memunculkan pertanyaan. Penanaman sawit di berbagai desa dan kecamatan dinilai tidak sepenuhnya berlangsung spontan. Bibit kelapa sawit bukan komoditas yang lazim tersedia di kios pertanian desa. Distribusinya terbatas, harganya relatif mahal, dan umumnya beredar melalui jaringan khusus. Hal serupa berlaku untuk pupuk dan sarana produksi pendukung.

Karena itu, ketika sawit muncul hampir bersamaan di banyak lokasi, publik mempertanyakan dari mana sumber bibit dan dukungan produksinya berasal. Di tingkat desa, arus masuk komoditas ini bahkan nyaris tidak tercatat secara administratif.

Promosi ssco

Sekretaris Desa Karangpaningal, Wastim Rusdiana, menyebut pemerintah desa tidak pernah menerima pemberitahuan atau koordinasi terkait penanaman sawit oleh warga.

“Tidak ada koordinasi ke desa. Tahu-tahu sudah ada yang menanam,” ujarnya.

Dalam tata kelola desa, pengenalan komoditas baru dalam skala berarti biasanya disertai komunikasi untuk pendataan, pendampingan, atau setidaknya pencatatan. Ketiadaan proses tersebut menunjukkan bahwa penyebaran sawit di Ciamis berjalan lewat jalur yang lebih senyap dan informal.

Di satu sisi, sawit menjadi simbol daya adaptasi petani menghadapi krisis lahan. Di sisi lain, kemunculannya yang nyaris tanpa jejak administratif menandai perubahan pola tanam yang berlangsung di luar radar kebijakan desa, sekaligus membuka pertanyaan tentang arah pertanian rakyat Ciamis ke depan.

Tags:

sawit rakyat


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *