
sawitsetara.co - JAKARTA — Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) meminta penguatan bursa sawit nasional untuk memperbaiki transparansi pembentukan harga komoditas. Pergerakan harga sawit di dalam negeri dinilai belum mengikuti perubahan harga pasar global secara proporsional.
Persoalan tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal DPP APKASINDO Dr. (cn) Djono A. Burhan, S.Kom, MMgt (Int. Bus), CC, CL setelah menghadiri Bulan Literasi Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) 2026 yang digelar Kementerian Perdagangan di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Djono mengatakan APKASINDO melihat perdagangan berjangka komoditas sebagai bagian penting dalam upaya memperkuat bursa komoditas nasional. Terutama setelah pemerintah berencana menerbitkan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS), di mana sawit jadi salah satu sektor yang masuk proyek strategis nasional tersebut.
“APKASINDO sangat tertarik untuk menghadiri kegiatan ini karena baru-baru ini kita mendengar pidato arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto bahwa akan diterbitkan namanya BMKS,” kata Djono kepada sawitsetara.co.
Isu utama yang disampaikan APKASINDO secara langsung kepada Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso adalah transparansi pembentukan harga sawit. Djono menyebut harga CPO Rotterdam menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam melihat pergerakan pasar saat ini. Namun, perubahan harga dinilai belum selalu tercermin secara sebanding pada harga CPO dan TBS petani di Indonesia.
“Kita sampaikan bahwa penguatan bursa kelapa sawit di Indonesia memang perlu diperkuat. Karena kalau kita melihat saat ini, pada saat harga CPO Rotterdam turun, harga CPO dan TBS Indonesia juga turun. Tapi pada saat harga CPO Rotterdam naik, harga CPO dan TBS Indonesia belum tentu naik,” kata Djono.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan perlunya mekanisme perdagangan dan pembentukan harga yang lebih terbuka. Bursa sawit Indonesia yang saat ini berjalan melalui ICDX atau yang akan datang melalui BMKS, dinilai dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperjelas referensi harga dan memperkuat posisi petani dalam rantai perdagangan sawit dan tentunya menjadikan Indonesia sebagai referensi utama harga sawit dunia.
Djono menyampaikan Ketua Umum DPP APKASINDO Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO menekankan persoalan transparansi harga harus segera diatasi, terutama di saat Bapak Presiden sudah memerintahkan untuk melaksanakan program Biodiesel B50 yang sejatinya meningkatkan harga TBS petani.
Sementara itu, Mendag Budi Santoso dalam pembukaan Bulan Literasi PBK 2026 menyebut peningkatan aktivitas perdagangan digital perlu diikuti dengan penguatan literasi. Masyarakat, kata dia, tidak cukup hanya menjadi digital traders, tetapi perlu memahami risiko perdagangan, bagaimana harga sebuah komoditas dapat bergerak dan mampu mengambil keputusan secara rasional.
Menurut Budi, perdagangan berjangka komoditi memiliki sejumlah fungsi dalam perekonomian. Di antaranya sebagai instrumen lindung nilai atau hedging, pembentukan referensi harga, dan diversifikasi investasi.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *