
sawitsetara.co - SEMARANG — Wakil Ketua Komisi VII DPR Evita Nursanty meminta industri sawit memastikan kebutuhan minyak goreng dalam negeri terpenuhi sebelum meningkatkan orientasi ekspor produk turunannya. Hilirisasi, kata dia, tidak boleh berujung pada terganggunya pasokan pangan di pasar domestik.
“Jangan sampai terjadi kelangkaan minyak goreng. Industri punya tanggung jawab memenuhi kebutuhan dalam negeri,” kata Evita saat memimpin kunjungan kerja Komisi VII DPR ke pabrik PT Berkah Emas Sumber Terang (BEST) di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (18/9/2026).
Menurut Evita, industri pengolahan dan hilirisasi kelapa sawit memiliki peran strategis bagi perekonomian. Kemampuan mengolah minyak sawit menjadi produk bernilai tambah, kata dia, perlu terus dikembangkan tanpa mengesampingkan kebutuhan nasional.
“Tantangannya adalah bagaimana keunggulan tersebut ditransformasikan,” katanya.
Evita mengapresiasi perkembangan industri hilir kelapa sawit yang mampu menghasilkan berbagai produk turunan untuk menembus pasar internasional. Menurut dia, capaian tersebut menunjukkan Indonesia memiliki kapasitas untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sawit di dalam negeri.
“Kita punya kemampuan menghasilkan produk bernilai tambah dan tembus pasar internasional,” tambahnya.
Namun, Evita meminta ekspor tidak menjadi prioritas apabila kebutuhan minyak goreng domestik belum aman. Ia mencontohkan konsumsi minyak goreng di Jawa Tengah yang mencapai 566 ton per hari.
“Kebutuhan di Jawa Tengah cukup tinggi, kita jangan sampai terjadi kelangkaan,” katanya.
Data Kementerian Perindustrian menunjukkan kapasitas produksi minyak goreng sawit nasional cukup besar. Staf Ahli Menteri Perindustrian Bidang Percepatan Transformasi Industri 4.0, Andi Rizaldi, mengatakan produksi minyak goreng sawit pada 2025 mencapai 24,45 juta kiloliter.
Dari jumlah tersebut, kebutuhan nasional tercatat 5,9 juta kiloliter atau sekitar 25 persen dari total produksi dalam negeri.
Pada periode yang sama, ekspor produk minyak kelapa sawit mencapai 14,24 juta kiloliter, kata Andi.
Besarnya produksi dan ekspor tersebut menunjukkan posisi industri sawit Indonesia tidak hanya ditopang pasar domestik. Namun, pemenuhan kebutuhan dalam negeri tetap menjadi salah satu perhatian dalam pengelolaan pasokan minyak goreng.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *