KONSULTASI
Logo

Ekspor Sawit Melemah pada Mei, Bagaimana Prospek Harga TBS Petani?

17 Juli 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Ekspor Sawit Melemah pada Mei, Bagaimana Prospek Harga TBS Petani?

sawitsetara.co - JAKARTA – Pelemahan ekspor minyak sawit Indonesia pada Mei 2026 memunculkan kekhawatiran terhadap prospek harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani. Namun, kondisi tersebut belum serta-merta menjadi sinyal bahwa harga TBS akan ikut tertekan.

Selain dipengaruhi kinerja ekspor, pembentukan harga TBS juga ditentukan oleh harga minyak sawit mentah (CPO), permintaan domestik, serta kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas tata niaga sawit.

Berdasarkan laporan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), total ekspor produk sawit Indonesia pada Mei 2026 mencapai 1,996 juta ton, turun 28,14 persen dibandingkan April yang sebesar 2,777 juta ton. Secara tahunan, ekspor juga terkoreksi 25,1 persen dibandingkan Mei 2025. Penurunan terjadi pada hampir seluruh jenis produk sawit, mulai dari crude palm oil (CPO), produk olahan, hingga produk turunan inti sawit.

Apj

Masih mengacu pada laporan GAPKI, produksi gabungan CPO dan palm kernel oil (PKO) pada Mei 2026 tercatat sebesar 4,552 juta ton, turun sekitar 7,16 persen dibandingkan April yang mencapai 4,903 juta ton. Meski produksi menurun, stok nasional justru meningkat menjadi sekitar 3,042 juta ton atau naik hampir 19 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan stok terjadi karena penurunan ekspor lebih besar dibandingkan penurunan produksi.

Meski demikian, laporan GAPKI juga menunjukkan bahwa kinerja industri sawit nasional secara kumulatif masih berada dalam tren positif. Selama periode Januari–Mei 2026, produksi meningkat sekitar 10,68 persen, konsumsi domestik naik 5,33 persen, dan ekspor tumbuh 10,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data tersebut mengindikasikan bahwa pelemahan pada Mei belum mencerminkan penurunan fundamental industri sawit nasional.

Di tingkat petani, pergerakan harga TBS tidak hanya dipengaruhi oleh volume ekspor. Harga referensi CPO, harga lelang KPBN, nilai tukar rupiah, biaya logistik, serta permintaan industri pengolahan di dalam negeri turut menjadi faktor yang menentukan harga pembelian TBS oleh pabrik kelapa sawit (PKS).

Sementara itu, dilansir dari InfoSAWIT, implementasi mandatori biodiesel B50 yang mulai berlaku pada Juli 2026 diperkirakan akan memperkuat serapan CPO di pasar domestik. GAPKI memperkirakan kebutuhan bahan baku CPO untuk program tersebut mencapai sekitar 17,5–18 juta ton per tahun, lebih tinggi dibandingkan kebutuhan pada program B40. Meski demikian, dampak program B50 terhadap peningkatan konsumsi domestik baru akan terlihat pada periode setelah implementasinya dan belum tercermin dalam data ekspor Mei 2026.

Apj

Di sisi lain, berdasarkan pemberitaan Kontan, pemerintah sebelumnya juga telah mengambil langkah untuk menjaga stabilitas harga TBS setelah sempat terjadi gejolak akibat ketidakpastian kebijakan ekspor. Pemerintah memperkuat pengawasan terhadap pembelian TBS oleh pabrik serta mendorong perusahaan kembali mengacu pada harga referensi yang berlaku. Seiring membaiknya kepastian pasar dan pergerakan harga CPO, harga TBS di berbagai sentra produksi pun mulai menunjukkan tren pemulihan.

Meski prospek harga TBS dinilai masih relatif terjaga, tantangan industri sawit tetap perlu diantisipasi. Dilansir dari Tempo, pelemahan permintaan dari sejumlah negara tujuan ekspor, fluktuasi harga minyak nabati dunia, serta perubahan kebijakan perdagangan internasional masih berpotensi memengaruhi kinerja ekspor Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.

Dengan demikian, penurunan ekspor sawit pada Mei 2026 lebih tepat dipandang sebagai dinamika jangka pendek daripada indikator melemahnya industri secara keseluruhan. Selama konsumsi domestik tetap kuat, harga CPO stabil, dan kebijakan pemerintah berjalan efektif, prospek harga TBS di tingkat petani dinilai masih memiliki ruang untuk tetap terjaga.

Tags:

CPO

Berita Sebelumnya
Harga TBS Mulai Pulih, Amran Ancam Perusahaan yang Mainkan Harga

Harga TBS Mulai Pulih, Amran Ancam Perusahaan yang Mainkan Harga

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memperingatkan perusahaan kelapa sawit agar tidak kembali menekan harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani. Pemerintah, kata dia, akan mengambil langkah tegas terhadap pelaku usaha yang sengaja mempermainkan harga.

16 Juli 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *