KONSULTASI
Logo

Harga TBS Swadaya Naik 0,8 Persen, Plasma Justru Turun 1,2 Persen

19 Oktober 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Harga TBS Swadaya Naik 0,8 Persen, Plasma Justru Turun 1,2 Persen

sawitsetara.co – JAKARTA — Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit rakyat bergerak berlawanan pada pekan ketiga Oktober 2026. Rata-rata harga TBS petani swadaya naik 0,8 persen, sedangkan harga TBS petani plasma justru terkoreksi 1,2 persen.

Laporan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) untuk periode 12–18 Oktober 2026 mencatat rata-rata harga TBS swadaya mencapai Rp2.923 per kilogram. Harga tersebut naik Rp24 per kilogram dibandingkan pekan sebelumnya.

Sebaliknya, rata-rata harga TBS plasma turun Rp41 per kilogram menjadi Rp3.486 per kilogram. Perbedaan arah pergerakan ini menunjukkan bahwa harga TBS pada kedua skema tidak selalu mengalami perubahan yang sama

Meski harga TBS swadaya mengalami kenaikan, nilainya masih terpaut cukup jauh dari harga plasma. Selisih rata-rata kedua skema mencapai Rp563 per kilogram atau sekitar 16,2 persen dari harga plasma.

Data APKASINDO menunjukkan harga plasma lebih tinggi daripada harga swadaya di seluruh 22 provinsi yang memiliki data lengkap. Namun, pergerakan harga di tingkat provinsi memperlihatkan variasi yang cukup besar.

Di Sumatera Selatan, misalnya, harga TBS swadaya meningkat 2,4 persen. Sementara itu, Kalimantan Tengah mencatat kenaikan harga swadaya tertinggi dalam laporan tersebut, yakni 8,6 persen.

Sebaliknya, harga TBS plasma di Sumatera Barat turun 6,8 persen. Penurunan juga terjadi di Kalimantan Barat sebesar 4,5 persen dan Kalimantan Timur sebesar 2,1 persen.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa penguatan harga swadaya secara nasional tidak berarti seluruh petani di daerah mengalami kenaikan harga. Begitu pula penurunan rata-rata harga plasma tidak terjadi dengan besaran yang seragam di setiap provinsi.

apkasindo

Riau Catat Harga Plasma Tertinggi

Dari sisi wilayah, Riau mencatat harga TBS plasma tertinggi dalam laporan APKASINDO, yakni Rp3.783 per kilogram. Namun, harga tersebut turun 0,3 persen dibandingkan pekan sebelumnya.

Harga TBS swadaya di Riau tercatat Rp3.030 per kilogram, turun 0,7 persen. Dengan demikian, selisih harga kedua skema di provinsi tersebut mencapai Rp753 per kilogram.

Sementara itu, Kalimantan Tengah mencatat harga TBS swadaya tertinggi sebesar Rp3.349 per kilogram. Adapun harga plasma di provinsi tersebut mencapai Rp3.741 per kilogram.

Di ujung lainnya, Papua Barat mencatat harga TBS swadaya terendah, yakni Rp1.870 per kilogram. Harga plasma di provinsi itu mencapai Rp3.239 per kilogram, sehingga terdapat selisih Rp1.369 per kilogram.

Perbedaan harga antardaerah dan antarskema tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam membaca kondisi ekonomi petani sawit rakyat. Rata-rata nasional dapat menggambarkan arah pergerakan harga, tetapi belum sepenuhnya mencerminkan kondisi yang dihadapi petani di setiap wilayah.

Kesenjangan Harga Masih Menjadi Tantangan

Selain perbedaan pergerakan harga, laporan APKASINDO juga menyoroti kesenjangan harga antara petani plasma dan swadaya. Selisih Rp563 per kilogram secara nasional menunjukkan bahwa kedua kelompok petani masih menerima harga rata-rata yang berbeda.

Namun, laporan tersebut tidak merinci penyebab langsung perbedaan pergerakan harga pada periode ini. Faktor seperti pola kemitraan, struktur biaya, dan rantai pasok dapat memengaruhi selisih harga antarskema maupun antarwilayah.

Karena itu, kenaikan harga TBS swadaya pada pekan ketiga Oktober belum cukup untuk menyimpulkan bahwa posisi ekonomi petani swadaya telah membaik secara merata. Perkembangan berikutnya masih perlu dicermati, terutama melalui perubahan harga di masing-masing provinsi.

APKASINDO memperkirakan rata-rata harga TBS plasma berpotensi mencapai Rp3.539 per kilogram dalam empat pekan mendatang. Sementara itu, harga TBS swadaya diproyeksikan berada di kisaran Rp2.934 per kilogram.

Proyeksi tersebut menunjukkan potensi pergerakan harga yang relatif terbatas. APKASINDO juga menegaskan bahwa angka proyeksi merupakan perkiraan statistik, bukan jaminan harga aktual.

Dengan demikian, perkembangan harga TBS berikutnya akan menjadi penentu apakah penguatan harga swadaya dapat berlanjut atau kembali melemah, sementara harga plasma berupaya pulih dari koreksi pekan ini.

Informasi lebih lengkap terkait harga TBS sawit, silakan klik tautan berikut: https://hargasawitindonesia.id.

Tags:

Berita Sawit

Berita Sebelumnya
Jangan Cuma Untungkan Korporasi, Investasi Sawit Harus Angkat Nasib Petani

Jangan Cuma Untungkan Korporasi, Investasi Sawit Harus Angkat Nasib Petani

Dewan Negara-Negara Produsen Minyak Sawit (CPOPC) mendorong investasi industri kelapa sawit agar tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi perusahaan, tetapi juga memperluas akses pembiayaan bagi petani kecil dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

17 Oktober 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *