
sawitsetara.co - JAKARTA – Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian resmi meluncurkan aplikasi hargasawitindonesia.id di Hotel 101 Urban Thamrin, Jakarta Pusat, pada Sabtu (1/8/2026).
Aplikasi yang menyajikan informasi harga Tandan Buah Segar (TBS) dan crude palm oil (CPO) secara transparan tersebut diharapkan menjadi rujukan bagi petani, pelaku industri, dan pemerintah dalam mewujudkan tata niaga sawit yang lebih adil, transparan, dan berkelanjutan.
Ketua Umum DPP APKASINDO, Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO., menyebut peluncuran aplikasi tersebut sebagai momentum bersejarah bagi petani kelapa sawit Indonesia. Menurutnya, kehadiran platform digital itu menjadi bukti bahwa petani kini mampu menghadirkan sistem informasi harga yang terbuka dan berbasis data.
“Hari ini adalah hari yang cukup bersejarah untuk petani kelapa sawit. Pada 1 Agustus, petani sawit bisa bangkit melalui aplikasi hargasawitindonesia.id,” ujar Dr. Gulat dalam sambutannya.
Ia menjelaskan, aplikasi yang dirilis pada 1 Juli lalu tersebut lahir bukan semata hasil kerja organisasi petani, melainkan berkat dukungan berbagai pihak, mulai dari akademisi, Dewan Pakar APKASINDO, hingga tenaga ahli teknologi informasi.
Dr. Gulat mengatakan, aplikasi tidak hanya menampilkan harga TBS harian, tetapi juga memuat harga CPO domestik dan dunia, analisis pasar, rangkuman berita berbasis AI, hingga layanan yang memudahkan pengguna memperoleh informasi secara cepat.
Ia menyebut, dalam sekitar 15 hari masa uji coba, aplikasi telah dikunjungi sekitar satu juta pengguna dan memperoleh pengakuan dari Google News sebagai salah satu dashboard yang berkembang pesat. Selain menggunakan Bahasa Indonesia, platform tersebut juga telah tersedia dalam Bahasa Inggris dan Mandarin untuk menjangkau pengguna internasional.
Untuk memastikan akurasi data, APKASINDO membangun jaringan pengumpulan informasi harga TBS dari 164 kabupaten dan kota sentra sawit di Indonesia. Data dikirim setiap hari oleh petugas lapangan, kemudian diverifikasi sebelum dipublikasikan.
Menurut Dr. Gulat, transparansi harga menjadi tujuan utama aplikasi tersebut. Selama ini, kata dia, masih terdapat perbedaan harga yang cukup lebar antara harga CPO internasional dengan harga yang diterima petani di dalam negeri.
Ia mencontohkan, ketika harga CPO di pasar Rotterdam telah mencapai sekitar Rp28.000 per kilogram, harga CPO di Indonesia masih berada di kisaran Rp15.000 per kilogram. Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan agar tata niaga sawit semakin efisien dan adil.
Selain itu, aplikasi diharapkan dapat membantu mengawasi praktik pembelian TBS di tingkat pabrik kelapa sawit (PKS), khususnya terhadap pabrik yang masih membeli TBS di bawah harga yang wajar.
“Aplikasi ini kami hadirkan agar tidak ada lagi dusta di antara para pemangku kepentingan sawit. Semua pihak harus berbicara berdasarkan data, sehingga petani memperoleh harga yang lebih transparan dan berkeadilan,” kata Dr. Gulat.
Ia menambahkan, ke depan APKASINDO akan terus mengembangkan fitur aplikasi, memperluas kerja sama dengan berbagai lembaga, serta menjadikan hargasawitindonesia.id sebagai pusat informasi harga sawit nasional yang dapat dimanfaatkan oleh petani, pelaku usaha, pemerintah, maupun masyarakat luas.
Peluncuran aplikasi tersebut turut dihadiri Ketua Kelompok Pemasaran Hasil Ditjenbun, Elvyrisma Nainggolan, STP., MP., mewakili Direktur Jenderal Perkebunan Dr. Iim Mucharam, M.P., Analis Divisi UKMK BPDP Anwar Sadat yang mewakili Direktur Utama BPDP Eddy Abdurrachman.
Hadir pula tenaga ahli Dashboard hargasawitindonesia.id, perwakilan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta perwakilan GPPI, Asian Agri, Sawit Pro, GAPKI, SPKS, SAMADE, ASPEKPIR, POPSI, Dewan Pakar DPP APKASINDO, ITSI, DMSI, dan insan media.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *