
sawitsetara.co – JAKARTA – Puji Ismartini, Deputi Bidang Distribusi dan Jasa, Badan Pusat Statistik mengungkapkan, sepanjang Januari-Oktober 2025 neraca perdagangan non migas menyumbang surplus USD51,51 miliar dengan nilai terbesar HS 15 (lemak dan hewan minyak nabati, yang didominasi minyak sawit) USD28,12 miliar.
Harga minyak sawit Oktober 2025 di pasar internarsional menurut USD1.045,04/MT, secara m to m naik 0,8% sedang YoY turun 2,99%. Ekspor CPO dan turunannya selama Januari-Oktober 2025 sharenya mencapai 9% dari total nilai ekspor non migas.
Nilai ekspor CPO dan turunannya Januari-Oktober 2024 USD16,7miliar, sedang Januari-Oktober 2025 USD20,2 juta atau naik 25,73%. Volume ekspor Januari-Oktober 2024 18,08 juta ton, Januari-Oktober 2025 19,4 juta ton, naik 7,83%.
Nilai ekspor non migas ke India Januari-Oktober 2025 nomor 5 terbesar dengan lemak dan minyak hewan/nabati yang didominasi minyak sawit mencapai USD3 miliar. Pangsanya terhadap ekspor non migal total ke India 19,55%, dibanding periode yang sama tahun lalu turun 13,1%. Ekspor HS 15 juga ke Filipina menyumbang devisa USD830 juta.
Sementara itu, Mukti Sardjono, Direktur Eksekutif GAPKI menyatakan produksi CPO bulan September 2025 mencapai 3.932 ribu ton, turun -22,32% dari bulan sebelumnya 5.062 ribu ton. Produksi PKO bulan September juga turun menjadi 366 ribu ton dari 481 ribu ton. Secara YoY sampai dengan bulan September, produksi CPO+PKO tahun 2025 mencapai 43.335 ribu ton atau naik sekitar 11,30% lebih tinggi dari produksi tahun 2024 sebesar 38.937 ribu ton.
Total konsumsi dalam negeri mengalami penurunan dari 2.100 ribu ton di bulan Agustus menjadi 2.053 ribu ton pada bulan September. Penurunan terbesar terjadi pada konsumsi biodiesel yang turun menjadi 1.070 ribu ton atau -3,69% dari bulan sebelumnya sebesar 1.111 ribu ton. Konsumsi pangan juga turun menjadi 793 ribu ton dari 806 ribu ton pada bulan sebelumnya atau turun sebesar -1,61%. Namun, konsumsi oleokimia naik 3,83% menjadi 190 ribu ton dari 183 ribu ton pada bulan sebelumnya.
Total ekspor produk sawit pada bulan September turun menjadi 2.200 ribu ton atau -36,65% dari ekspor bulan sebelumnya sebesar 3.473 ribu ton. Penurunan ekspor terbesar terjadi pada minyak sawit olahan yang turun menjadi 1.573 ribu ton dari 2.343 ribu ton pada bulan September (-32,86%) diikuti oleh CPO yang turun menjadi 91 ribu ton dari 494 ribu ton (-81,58%) dan oleokimia yang turun menjadi 93 ribu ton dari 199 ribu ton (-53,27%).
Menurut negara tujuannya, penurunan ekspor pada bulan September dari bulan sebelumnya antara lain India (-409 ribu ton), China (-212 ribu ton), Malaysia (-144 ribu ton), Afrika (-143 ribu ton), Pakistan (-123 ribu ton), USA (-73 ribu ton), EU-27 (-50 ribu ton), Bangladesh (-26 ribu ton), dan Middle east (-24 ribu ton).
Sedangkan kenaikan ekspor terjadi untuk tujuan Rusia (18 ribu ton). Nilai ekspor produk sawit bulan September mengalami penurunan dari US$ 3,819 miliar di bulan Agustus menjadi US$ 2,528 miliar pada bulan September atau turun sebesar -33,80%.
Secara YoY sampai dengan bulan September, nilai ekspor 2025 mencapai US$ 27,313 miliar lebih tinggi 39,85% dari ekspor tahun 2024 sebesar US$ 19,530 miliar. Peningkatan nilai ekspor yang terjadi karena harga rata-rata Januari-September tahun 2025 sebesar US$ 1.210/ton Cif Rotterdam yang lebih tinggi dari rata-rata Januari-September tahun 2024 sebesar US$ 1.020/ton Cif Rotterdam.
Dengan stok awal bulan September sebesar 2.543 ribu ton, produksi CPO+PKO turun menjadi 4.298 ribu ton, konsumsi dalam negeri turun menjadi 2.053 ribu ton dan ekspor turun menjadi 2.200 ribu ton, stok di akhir September naik menjadi 2.592 ribu ton.
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *