
sawitsetara.co - JAKARTA — Komisaris PT Pertamina (Persero), Hasan Nasbi, menilai Indonesia memiliki peluang strategis untuk keluar dari ketergantungan energi fosil dengan mengandalkan komoditas yang selama ini kerap diperdebatkan: kelapa sawit.
Menurut dia, posisi Indonesia dalam peta energi global sejatinya tidak jauh berbeda dengan Australia, terutama dalam hal cadangan batubara. Kedua negara sama-sama memiliki sumber daya batubara yang melimpah dan menjadi pemain penting di pasar ekspor.
“Australia besar di batubara, kita juga besar. Tapi batubara itu energi yang akan habis, karena bukan energi terbarukan,” ujar Hasan.
Ia menekankan, keunggulan Indonesia justru terletak pada energi terbarukan berbasis hayati yang dapat diproduksi secara berkelanjutan. Dalam hal ini, sawit dinilai sebagai komoditas multifungsi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai tulang punggung energi nasional.
“Sawit ini tanaman ajaib. Dia bisa jadi minyak goreng, bisa jadi bensin, solar, bahkan bahan bakar pesawat,” kata dia.
Hasan mencontohkan, minyak jelantah saja dapat diolah menjadi avtur atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Apalagi, kata dia, bahan baku utama berupa minyak sawit mentah memiliki potensi yang jauh lebih besar untuk dikembangkan sebagai sumber energi alternatif.
Ia juga menyoroti bahwa tanaman sawit hanya dapat tumbuh optimal di wilayah tertentu, terutama di Indonesia dan Malaysia. Keunggulan geografis ini, menurut Hasan, seharusnya menjadi modal strategis dalam membangun kemandirian energi.
Namun, jalan menuju optimalisasi sawit tidak sepenuhnya mulus. Ia menyinggung adanya tekanan dari pasar global, termasuk kebijakan dari Uni Eropa yang sempat membatasi produk berbasis sawit.
“Selalu ada tekanan dengan isu lingkungan. Dikatakan pembukaan lahan sawit menyebabkan bencana, banjir, dan sebagainya,” ujarnya.
Hasan menilai, di balik isu lingkungan tersebut terdapat persaingan komoditas dengan minyak nabati lain, seperti minyak bunga matahari, yang secara efisiensi produksi dinilai kalah dibandingkan sawit.
Di tengah dinamika geopolitik global dan fluktuasi harga energi, ia melihat peran sawit semakin relevan. Ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM), menurut dia, menjadi risiko strategis yang perlu dikurangi.
“Dalam situasi perang dan gejolak global, harga minyak bisa melonjak dan kita berebut sumber energi. Sawit bisa menjadi alternatif untuk memutus ketergantungan impor BBM,” kata Hasan.
Ia menegaskan, jika dikelola dengan visi jangka panjang, sawit dapat menjadi kunci kemandirian energi Indonesia. “Kalau kita berpikir 100 sampai 200 langkah ke depan, sawit ini adalah masa depan energi kita,” ujar dia.
Tags:
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *