
sawitsetara.co - KISARAN - Senin (12/1/2026), Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) melakukan fieldtrip ke fasilitas PT Bakrie Sawit Unggul (BSU) di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Kunjungan edukasi ini guna menyaksikan langsung proses pembuatan benih sawit unggul bersertifikat — dari hulu ke hilir.
sawitsetara.co, media resmi APKASINDO, yang tergabung dalam rombongan berkesempatan berbincang langsung dengan Direktur Operasional BSU, Ukur Kami Surbakti. Dalam wawancara eksklusif ini, Ukur membagikan perjalanan sejarah berdirinya perusahaan, komitmen hingga mekanisme BSU dalam menjamin mutu benih kelapa sawit bersertifikat.
Awal Mula dan Transformasi Perusahaan
Jejak sejarah BSU bukan sekadar cerita tentang berdirinya sebuah perusahaan agribisnis. Ia bermula dari sebuah nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada 2005 antara Bakrie Sumatera Plantations dan ASD Costa Rica (Agriculture, Service and Development) — sebuah entitas riset kelapa sawit terkemuka di Amerika Tengah.
Kolaborasi awal ini mengarahkan kedua pihak untuk menggabungkan kapabilitas lokal dan kekuatan riset genetika internasional guna menghasilkan benih sawit unggul yang sesuai dengan kondisi tropis Indonesia.
Sepuluh tahun kemudian, pada 2011, kolaborasi itu diwujudkan dalam pendirian perusahaan bernama PT ASD Bakrie — sebuah usaha patungan antara ASD Costa Rica dan Bakrie Sumatera Plantation. Nama itu melekat selama bertahun-tahun, hingga pada Juli 2025 perusahaan secara resmi berganti nama menjadi PT Bakrie Sawit Unggul (BSU), mencerminkan identitas baru yang lebih fokus pada benih unggul sawit berkualitas tinggi.
“Akar perusahaan ini berasal dari dua entitas, yaitu ASD Costa Rica dan Bakrie Sumatera Plantation, yang kemudian disatukan dalam PT ASD Bakrie sebelum bertransformasi menjadi PT Bakrie Sawit Unggul,” kata Ukur.
Adapun Fieldtrip APKASINDO bertujuan mengenal produk BSU, sekaligus edukasi penggunaan bibit atau benih bersertifikat yang sesuai dengan ketetapan Kementerian Pertanian (KEPMENTAN). Peserta diajak memahami setiap langkah proses, mulai dari perakitan varietas, perbanyakan benih, pengemasan, hingga pemasaran.
“Fieldtrip ini bertujuan mengenalkan produk PT Bakrie Sawit Unggul, kita ingin mengedukasi untuk menggunakan bibit atau benih bersertifikat sesuai dengan ketetapan dari Kementan,” ujar Ukur, Senin (12/1/2025).

Kegiatan diawali dengan kunjungan ke Seed Garden Mother Palm (pohon induk) — tempat basis genetika benih disiapkan. Selanjutnya rombongan bergerak ke blok komersil varietas unggul DxP Spring, kemudian ke nurseri, dan akhirnya melihat proses produksi di Seed Processing Unit (SPU) hingga tahap pengemasan.
Ukur menjelaskan, kapasitas maksimum produksi kecambah di SPU adalah 10 juta per tahun. Sedangkan untuk pembibitan (polybag), BSU mampu menghasilkan hingga 150.000 polybag bibit siap salur dalam satu periode penyemaian hingga penjualan.
Pasar BSU tidak terbatas pada perusahaan besar semata. Pasar utama mereka meliputi petani kelapa sawit, perusahaan perkebunan, kelembagaan petani seperti kelompok tani dan koperasi, serta penangkar bibit yang menanam benih untuk dibesarkan kemudian dijual kembali.
“Pasar terbesar kami tetap petani, kemudian perusahaan, termasuk internal grup Bakrie, serta penangkar dan kelembagaan petani seperti koperasi,” ujar Ukur.
Keunggulan Kompetitif: Varietas Unggul dan Genetika Advance
Salah satu keunggulan kompetitif utama BSU adalah jumlah varietas unggul yang sudah dirilis. Sejak riset dimulai sekitar tahun 2007 hingga 2025, BSU telah berhasil melepas 8 varietas baru. Rata-rata, perusahaan ini melepas varietas baru hampir setiap dua tahun, sebuah indikator komitmen terhadap inovasi genetika.
Varietas unggul tersebut antara lain:
• DxP Spring
• DxP Themba
• DxP CR Supreme
• DxP CR Ovane
Empat varietas pertama berfokus pada produktifitas tinggi, baik dilihat dari ton TBS per hektare maupun rendemen minyak (CPO). Sedangkan empat varietas terakhir ditujukan pada primary grades (produktifitas) sekaligus secondary grades seperti ketahanan terhadap penyakit Ganoderma — salah satu ancaman utama kelapa sawit di lahan tropis.
Lebih jauh, BSU juga sudah mulai melihat peluang merakit varietas yang toleran di lahan marginal, sebagai bagian dari strategi riset ke depan yang lebih adaptif terhadap kondisi agroekologi yang beragam di Indonesia.
“Kami memiliki koleksi material genetik yang relatif lebih advance karena akses introduksi material dari Costa Rica masih terbuka bagi kami,” katanya.
Seluruh sumber material genetik yang digunakan BSU berasal dari Costa Rica — bukan dari Indonesia — termasuk genetika induk Dura (indukan betina) dan Pisifera (induk jantan>. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Costa Rica dikenal sebagai pusat koleksi plasma nutfah kelapa sawit yang luas dan telah teruji, sehingga memberikan BSU basis genetika yang kompetitif.
Menimbang kompleksitas genetika dan adaptasi varietas, BSU menyatakan bahwa siklus riset hingga satu varietas dilepas secara resmi memakan waktu minimal 10–12 tahun. Namun, jika varietas sudah ada dan hanya dilakukan upgrade genetik, waktu yang dibutuhkan bisa kurang dari lima tahun karena basis data genetika sudah tersedia.
Alur Produksi yang Detail dan Ketat
Proses produksi benih di BSU diawali dari kebun induk, di mana tanaman diintroduksi, kemudian bunga betina melalui tahapan bagging (pembungkusan) hingga polinasi terkontrol. Seluruh proses ini diawasi ketat oleh tim dengan keahlian khusus untuk memastikan fase bunga betina sudah reseptif dan serbuk sari memiliki viabilitas baik.
Dari kebun induk hingga panen tandan, tahapan ini memakan sekitar 6 bulan. Tahapan berikutnya, yaitu dari panen tandan hingga menjadi kecambah siap tanam, memakan sekitar 3 bulan. Secara keseluruhan, produksi benih dari hulu ke hilir memakan waktu ±9 bulan.
BSU juga menerapkan sistem pengendalian mutu yang dimulai dari lapangan hingga SPU melalui berbagai langkah: pemantauan waktu bagging bunga agar tidak terlambat, pengecekan kesiapan stadium bunga reseptif, Viabilitas serbuk sari yang terus diukur, penggunaan jaring dan label untuk memastikan identitas genetik tidak tertukar, hingga proses seleksi benih abnormal seperti broken seed, white sheet, atau ukuran kecil.
Model quality control ini dianalogikan seperti memasang gelang identitas pada bayi baru lahir: identitas benih harus tetap terjaga sepanjang perjalanan produksi hingga siap tanam. Selain itu, BSU secara rutin melakukan blank pollination test, sebuah metode untuk mendeteksi kontaminasi penyerbukan, yang diawasi langsung oleh balai besar di Medan dengan menghitung nilai fruit set.
Benih BSU mengikuti standar mutu nasional yang ditetapkan melalui KEPMEN No. 26 Tahun 2021, dengan standar tersebut, tingkat germination rate benih BSU berkisar antara 60–70%, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Salah satu bahasan menarik di fieldtrip adalah perbandingan produktivitas antara benih unggul dan bibit asalan (tidak bersertifikat). Menurut BSU, penggunaan varietas unggul seperti DxP Spring dan DxP Themba dapat menghasilkan potensi produksi hingga 38–40 ton TBS/ha/tahun, dengan potensi CPO sekitar 10 ton/ha/tahun.
Sementara itu, jika petani menggunakan bibit asalan, potensi produksi bisa turun drastis — bahkan hingga minus 65%, sehingga produktivitas menjadi jauh di bawah standar yang diharapkan.
Tags:
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *