
sawitsetara.co - LEBAK – Musim kemarau membawa berkah bagi perajin krey atau tirai sawit di Kabupaten Lebak, Banten. Meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pelindung bangunan dari paparan sinar matahari langsung membuat permintaan krey sawit melonjak, sehingga omzet para pelaku usaha naik hingga 100 persen.
Pengepul krey sawit di Lebak, Toto (55), mengatakan omzet usahanya kini mencapai sekitar Rp60 juta per pekan, dua kali lipat dibandingkan sebelumnya yang hanya sekitar Rp30 juta.
”Kita sekarang bisa menghasilkan omzet Rp60 juta dari sebelumnya Rp30 juta per pekan,” kata Toto di Lebak, Minggu (2/8/2026), dikutip Antara.
Lonjakan tersebut sejalan dengan meningkatnya permintaan dari sekitar 1.000 unit menjadi 2.000 unit krey setiap pekan. Di tingkat pedagang pengecer, satu unit krey dijual seharga Rp30 ribu.
Menurut Toto, sebagian besar permintaan datang dari Serang, Cilegon, hingga Jakarta. Krey sawit banyak digunakan sebagai tirai penahan panas matahari agar tidak langsung mengenai bangunan.
”Kami memasok krey ke pelanggan tetap yakni pedagang pengecer dengan sistem pembayaran kontan,” katanya.
Peningkatan serupa juga dirasakan Timan (45), pengepul krey sawit asal Desa Rangkasbitung Timur, Kabupaten Lebak. Ia mengaku omzet usahanya naik dari sekitar Rp25 juta menjadi Rp50 juta per pekan.
Timan memasok tirai sawit kepada pelanggan tetap di Depok, Bogor, dan Jakarta.
"Kami sangat terbantu adanya peningkatan permintaan pasar itu,” katanya.
Di tingkat perajin, meningkatnya permintaan turut mendorong kenaikan produksi. Rosad (55), perajin krey dari Desa Rangkasbitung Timur, mengatakan kini mampu membuat sekitar enam unit krey setiap hari.
”Kami memproduksi krey itu dijual ke pengepul Rp25 ribu per krey dan bisa menghasilkan Rp150 ribu per hari,” katanya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak, Imam Suangsa, mengatakan pemerintah daerah terus mendorong masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan perkebunan kelapa sawit untuk mengembangkan berbagai produk kerajinan, termasuk krey dan sapu lidi.
Menurut dia, permintaan terhadap kedua produk tersebut relatif tinggi, tidak hanya di Banten tetapi juga dari DKI Jakarta dan Jawa Barat.
Imam menyebutkan, saat ini terdapat lebih dari 172 ribu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Lebak, termasuk usaha kerajinan krey dan sapu lidi. Keberadaan UMKM tersebut dinilai terus berkembang, terutama di wilayah yang berdekatan dengan perkebunan kelapa sawit.
”Kami mengapresiasi keberadaan UMKM kerajinan tirai sawit dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat, sekaligus mengatasi kemiskinan dan pengangguran,” katanya.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *