KONSULTASI
Logo

Peluang Baru Peningkatan Ekonomi Warga Manokwari Lewat Budidaya Jamur dari Limbah Sawit

17 Oktober 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Peluang Baru Peningkatan Ekonomi Warga Manokwari Lewat Budidaya Jamur dari Limbah Sawit

sawitsetara.co – MANOKWARI — Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) berpotensi menjadi bahan baku alternatif untuk budidaya jamur tiram. Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (UNAIR) mengembangkan pemanfaatan limbah sawit tersebut sebagai upaya membuka peluang usaha baru bagi masyarakat di Prafi, Manokwari, Papua Barat.

Program ini tidak hanya menyasar pengurangan limbah perkebunan kelapa sawit, tapi juga mendorong masyarakat menghasilkan produk pangan bernilai ekonomi. Upaya ini dilakukan melalui pelatihan pembuatan media tanam jamur tiram atau baglog serta pengolahan hasil panen menjadi makanan siap olah.

Pada Kamis (8/10/2026), tim yang dipimpin Prof. Dr. Apt. Sukardiman, M.S., menggelar pelatihan di Kampung Desay, Manokwari. Kegiatan itu memperkenalkan tahapan pemanfaatan TKKS sebagai media tanam sekaligus membuka wawasan masyarakat mengenai peluang pengembangan usaha berbasis potensi lokal.

TKKS Jadi Alternatif Bahan Baku Budidaya Jamur

Dalam pelatihan tersebut, masyarakat mempelajari proses pengolahan TKKS menjadi baglog jamur tiram. Tahapannya meliputi pencacahan dan pengomposan tandan kosong, pencampuran bahan tambahan, pengemasan ke dalam plastik, sterilisasi, hingga penanaman bibit jamur.

Prof. Sukardiman menjelaskan, kandungan selulosa dan lignoselulosa dalam TKKS berpotensi mendukung pertumbuhan jamur. Karena itu, limbah perkebunan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai alternatif serbuk gergaji yang lazim digunakan dalam budidaya jamur tiram.

“TKKS mengandung selulosa dan lignoselulosa yang dapat mendukung pertumbuhan jamur. Bahan ini berpotensi menjadi alternatif serbuk gergaji yang umum digunakan dalam budidaya jamur tiram. Pemanfaatannya juga membuka peluang untuk mengurangi timbunan limbah kelapa sawit di lingkungan sekitar,” jelas Prof. Sukardiman, dilansir dari laman unair.ac.id.

tamplate

Selain pengolahan bahan baku, peserta mempelajari komposisi media tanam yang terdiri atas TKKS, dedak padi, kapur atau dolomit, serta air. Ketepatan komposisi, kebersihan selama proses pembuatan, dan pengaturan kelembapan menjadi faktor penting untuk mendukung pertumbuhan miselium.

Setelah bibit diinokulasikan, media tanam perlu ditempatkan di ruang tumbuh dengan suhu dan kelembapan yang terjaga. Pengelolaan kondisi tersebut diperlukan agar jamur berkembang optimal hingga siap dipanen.

Jamur Tiram Diolah Menjadi Nugget

TEP UNAIR juga memperkenalkan pengolahan jamur tiram menjadi nugget. Diversifikasi produk ini ditujukan untuk memperluas pemanfaatan hasil budidaya, sehingga masyarakat tidak hanya bergantung pada penjualan jamur segar.

“Jamur tiram mengandung protein, serat pangan, vitamin B kompleks, dan berbagai mineral. Pengolahannya menjadi nugget dapat memperluas pilihan pangan sekaligus membuka peluang usaha makanan olahan bagi masyarakat Kampung Desay,” ujarnya.

Pengembangan produk olahan memungkinkan masyarakat memperoleh nilai tambah dari hasil panen. Peluang usaha tersebut dapat diperluas melalui pengemasan produk, penyimpanan beku, serta strategi pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.

Dengan pendekatan ini, pemanfaatan limbah sawit tidak berhenti pada pengolahan bahan sisa perkebunan menjadi media tanam. Rangkaian kegiatan juga mencakup budidaya, pengolahan pangan, dan pengembangan produk yang berpotensi dipasarkan.

tamplate

Dukung Ekonomi Lokal dan Pembangunan Berkelanjutan

Program optimalisasi limbah sawit untuk budidaya jamur tiram ini turut mendukung sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Kontribusinya mencakup SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan melalui diversifikasi pangan, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengembangan peluang usaha masyarakat, serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemanfaatan limbah.

Program tersebut juga sejalan dengan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui kolaborasi dalam pengembangan potensi ekonomi masyarakat.

Pemanfaatan TKKS sebagai media tanam menunjukkan bahwa limbah perkebunan kelapa sawit memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi sumber daya produktif. Jika diterapkan secara berkelanjutan dan didukung pengelolaan usaha yang memadai, inovasi ini dapat membuka alternatif pendapatan bagi masyarakat di sekitar wilayah perkebunan.

Tags:

limbah sawitBerita Sawit

Berita Sebelumnya
GAPKI Sebut Korporasi Siap Hadapi EUDR, Legalitas Lahan Petani Sawit Jadi Tantangan

GAPKI Sebut Korporasi Siap Hadapi EUDR, Legalitas Lahan Petani Sawit Jadi Tantangan

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, menegaskan bahwa secara umum korporasi sawit nasional telah siap memenuhi persyaratan EUDR. Namun, kesiapan tersebut belum mencerminkan kondisi seluruh rantai pasok kelapa sawit Indonesia, terutama yang melibatkan perkebunan rakyat.

16 Oktober 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *