KONSULTASI
Logo

Petani Harus Jadi Aktor Utama Hilirisasi Sawit Jambi

12 Agustus 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Petani Harus Jadi Aktor Utama Hilirisasi Sawit Jambi

sawitsetara.co - JAMBI — Hilirisasi kelapa sawit di Provinsi Jambi harus memberikan manfaat langsung kepada petani. Pembangunan industri pengolahan tidak boleh membuat petani hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, sementara nilai tambah terbesar justru dinikmati pelaku usaha di sektor hilir.

Guru Besar dan akademisi Universitas Jambi Prof. Dr. Ir. Suandi, M.Si., IPU, mengatakan petani merupakan bagian penting dari struktur ekonomi sawit Jambi, seperti dikutip dari esainya bertajuk Hilirisasi Komoditas Kelapa Sawit: Menuju Jambi sebagai Pusat Nilai Tambah Hijau di Sumatera 2045.

Pada 2024, sebanyak 351.815 kepala keluarga menggantungkan kehidupan ekonominya pada perkebunan kelapa sawit. Jumlah terbesar berada di Muaro Jambi sebanyak 75.069 KK, Batanghari 72.220 KK dan Merangin 57.405 KK.

Besarnya jumlah rumah tangga yang bergantung pada sawit menunjukkan bahwa kebijakan hilirisasi memiliki dampak sosial-ekonomi yang luas. Karena itu, pembangunan industri hilir harus dirancang agar petani dapat masuk dan memperoleh manfaat dalam rantai nilai tersebut.

“Petani menjadi aktor utama yang harus memperoleh manfaat terbesar dari proses transformasi tersebut,” kata Suandi.

apkasindo

Menurut dia, tantangan yang dihadapi petani rakyat saat ini masih cukup kompleks. Sebagian petani memiliki skala usaha kecil dengan keterbatasan akses terhadap pembiayaan formal, teknologi, pasar dan informasi harga.

Penguatan kelembagaan menjadi salah satu solusi yang perlu diprioritaskan. Model korporasi petani, koperasi modern, Badan Usaha Milik Petani atau BUMP hingga Koperasi Desa Merah Putih dapat menjadi instrumen untuk memperkuat posisi tawar petani sekaligus menghubungkan mereka dengan industri hilir.

Suandi menilai kelembagaan petani yang kuat akan membuat petani memiliki posisi lebih baik dalam rantai pasok. Selain memperkuat pemasaran, kelembagaan juga dapat membuka akses terhadap pembiayaan dan teknologi secara kolektif.

Namun, penguatan petani tidak cukup hanya melalui kelembagaan. Program PSR, penyediaan benih unggul, pembiayaan hijau, pelatihan teknologi digital dan pengembangan kewirausahaan juga harus berjalan secara berkelanjutan.

“Pemberdayaan petani rakyat menjadi salah satu pilar utama keberhasilan hilirisasi,” ujarnya.

apkasindo

Dalam konsep transformasi yang ditawarkan, pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga penelitian dan petani perlu ditempatkan dalam satu ekosistem. Pemerintah daerah berperan sebagai regulator, fasilitator dan katalisator investasi. Dunia usaha menjadi motor pengembangan industri, inovasi teknologi dan perluasan pasar.

Sementara itu, perguruan tinggi dan lembaga penelitian berperan menghasilkan inovasi, teknologi dan sumber daya manusia yang kompeten. Petani menjadi aktor utama dalam sektor hulu sekaligus harus memperoleh manfaat dari proses hilirisasi.

Suandi menyebut pola tersebut sebagai pendekatan kolaboratif atau quadruple helix. Kolaborasi antarpihak dinilai dapat mempercepat terbentuknya sistem agroindustri modern yang efisien, inklusif dan berkelanjutan.

Keterlibatan petani dalam industri hilir juga harus didukung dengan digitalisasi rantai pasok. Sistem digital yang menghubungkan petani, koperasi, pabrik kelapa sawit, lembaga keuangan, eksportir dan pemerintah daerah dapat meningkatkan transparansi serta efisiensi rantai pasok.

Teknologi seperti blockchain, IoT, AI dan big data analytics dapat digunakan untuk memantau produksi, distribusi dan pemasaran secara lebih terintegrasi. Sistem tersebut sekaligus dapat membantu meningkatkan transparansi harga dan pelayanan kepada petani.

apkasindo

Pada akhirnya, keberhasilan hilirisasi akan diukur bukan hanya dari bertambahnya jumlah industri pengolahan, tetapi juga dari meningkatnya produktivitas dan kesejahteraan petani.

“Dengan meningkatnya produktivitas dan keterlibatan petani dalam rantai nilai industri hilir, kesejahteraan masyarakat pedesaan akan meningkat secara signifikan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi daerah,” kata Suandi.

Dengan demikian, hilirisasi sawit Jambi perlu dibangun sebagai transformasi menyeluruh yang menghubungkan sektor hulu hingga hilir. Petani tidak hanya menjadi pemasok TBS, tetapi bagian dari ekosistem industri yang ikut menikmati nilai tambah dari pengembangan kelapa sawit.

Tags:

Berita Sawit

Berita Sebelumnya
Harga TBS Riau Turun Rp61,75/Kg, Umur 9 Tahun Jadi Rp3.874,89

Harga TBS Riau Turun Rp61,75/Kg, Umur 9 Tahun Jadi Rp3.874,89

Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kemitraan swadaya di Provinsi Riau kembali mengalami penurunan pada periode 12–18 Agustus 2026. Berdasarkan penetapan harga TBS kemitraan swadaya No. 29, harga TBS untuk tanaman umur 9 tahun turun Rp61,75 per kilogram menjadi Rp3.874,89 per kilogram.

11 Agustus 2026Harga TBS

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *