
sawitsetara.co - PEKANBARU — Ketua Percepatan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan Sarpras DPP APKASINDO, Dr. Eko Jaya Siallagan, SP., M.Si., C.APO menilai Provinsi Riau sudah seharusnya menjadi pusat pengembangan pendidikan dan teknologi sawit nasional.
Menurutnya, daerah penghasil sawit terbesar di Indonesia itu membutuhkan peran aktif perguruan tinggi untuk mendukung pembangunan sektor perkebunan rakyat dan kampus-kampus di Riau harus menjadi rujukan dan sangat sesuai dengan Asta Cita Bapak Presiden Prabowo, terkhusus nomor 6.
“Ketika bicara sawit, seharusnya orang datang ke Riau. Karena itu kampus harus ikut terlibat dan mengenal kami petani sawit lebih jauh tentunya membantu petani, terutama dalam pembangunan infrastruktur dan penguatan sumber daya manusia,” ujarnya usai penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara Fakultas Teknik Universitas Riau (UR) dan APKASINDO, Senin (11/5/2026).

Dr. Eko menjelaskan, selama ini penyerapan dana Sarana dan Prasarana (Sarpras) sawit yang berasal dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) masih menghadapi berbagai kendala, tidak hanya dari sisi persyaratan administrasi, tetapi juga rendahnya kemampuan teknis petani dalam memahami penyusunan dokumen desain dan perencanaan infrastruktur, pada dana Sarpras tiap tahun disediakan ratusan milyar.
“BPDP-KS itu di bawah Kemenkeu yang tugasnya tukang pungut, lalu kelola dan disalurkan dana sawit tadi, termasuk memberikan beasiswa full dan uang saku Rp2,3 juta per bulan kepada 5.000 orang TA 2026 ini kerja sama ke 41 kampus tahun lalu. Tahun ini akan diumumkan segera,” kata Dr Gulat dalam sambutannya.

Kita jangan menunggu “kue’” APBN tapi semua kesempatan dan peluang harus kita raih, termasuk dari dana sawit BPDP-KS hal yang sama jaga saya sampaikan ke 25 DPW Provinsi APKASINDO dari Aceh sampai Papua, supaya merangkul Fakultas Teknis di Provinsi masing-masing. Tahun lalu terkumpul Rp36 Triliun dan orang banyak tidak tahu bahwa dana itu bukan APBN tapi dana gotong royong dari stakeholder sawit melalui levy (pungutan ekspor). Periode bulan Mei ini petani sawit terbebani Rp425/kg TBS-nya akibat levy tersebut dan kami petani sawit tidak keberatan sepanjang berguna sesuai lima tujuan didirikannya BPDP-KS, jadi sesungguhnya petani sawitlah pahlawannya 36 triliun tadi, urai Dr. Eko.
Ia menyebutkan, banyak petani belum memahami tata cara penyusunan Site Investigation Design (SID), termasuk desain jalan dan jembatan di kawasan perkebunan sawit. Karena itu, APKASINDO melihat perguruan tinggi sebagai mitra strategis yang mampu memberikan pendampingan teknis kepada petani.

Menurutnya, di tengah efisiensi anggaran negara, program Sarpras dari dana BPDPKS menjadi peluang besar untuk memperbaiki infrastruktur perkebunan rakyat. Ia berharap pembangunan sektor sawit dapat menjadi bagian dari upaya membangun Indonesia dari desa.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik Universitas Riau, Prof.. Ahmad Fadli, ST, MT, PhD menyambut baik kerja sama tersebut. Ia menegaskan bahwa Universitas Riau memiliki komitmen untuk menghadirkan kampus yang berdampak langsung bagi masyarakat melalui implementasi Tridharma Perguruan Tinggi.
“Riau ini daerah sawit terbesar. Ketika orang bicara sawit, seharusnya ke Riau. Karena itu kami ingin teknologi dan pengembangan sawit juga lahir dari sini,” katanya.
Agenda ini dihadiri Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Umum, Dr. Eng. Alex Kurniawandy, S.T., M.T; Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama, Yohanes, S.T., M.T; Ketua Jurusan Teknik Sipil, Muhamad Yusa, S.T., M.Sc., Ph.D. serta Ketua Umum DPP APKASINDO Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO, bersama jajaran delegasi APKASINDO Provinsi Riau.

Kerja sama antara Fakultas Teknik Universitas Riau dan APKASINDO mencakup bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pelatihan, seminar, kuliah umum, hingga pengembangan sumber daya manusia melalui kolaborasi akademisi dan praktisi industri.
Salah satu program awal yang akan dijalankan adalah survei perencanaan jalan di salah satu Kelompok tani dan Koperasi Sawit dan ini langsung action. Program tersebut diharapkan menjadi bentuk nyata kontribusi kampus dalam mendukung pembangunan infrastruktur perkebunan rakyat.
Melalui kolaborasi ini, kedua pihak berharap Riau tidak hanya dikenal sebagai penghasil sawit terbesar di Indonesia, tetapi juga tumbuh menjadi rumah bagi kampus sawit yang mampu melahirkan inovasi dan solusi bagi sektor perkebunan nasional.

“Selama ini saya melihat bahwa untuk membuat dokumen SID terpaksa mendatangkan dari kampus luar Riau, padahal di Riau banyak sekali kampus-kampus yang memiliki fakultas teknik dan tentunya ini bisa dijadikan sebagai program pemagangan dari mahasiswa fakultas teknik. Kalau bicara infrastruktur perkebunan sawit termasuk pabrik dan hilirisasi, harusnya kampus Riau menjadi rujukan bukan sebaliknya kita bertanya kepada kampus yang melihat pohon sawit saja hanya dari YouTube,” kata Dr. Eko.



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *