
sawitsetara.co - JAKARTA – Suka tidak suka harus diakui bahwa pabrik kelapa sawit (PKS) tanpa kebun tidak hanya menciptakan iklim kompetisi harga tandan buah segar (TBS) yang lebih adil bagi petani swadaya, mengurangi monopoli harga oleh PKS besar, serta mempermudah akses penjualan buah petani swadaya. Akan tetapi PKS tanpa kebun juga meningkatkan ekonomi bagi pemerintah daerah (Pemda), pemerintah pusat dan mewujudkan swasembada energi.
“Jadi PKS tanpa kebun mempunyai dampak positif yang cukup luas baik kepada pemerintah daerah, pemerintah pusat dan dapat mewujudkan swasembada energi melalui peningkatan produksi minyak sawit atau crude palm oil (CPO),” ungkap H Sahurudin, salah seorang petani swadaya asal Babel kepada sawitsetara.co, Senin (13/4/2026).

H Sahurudin menguraikan mengapa PKS tanpa kebun bisa meningkatkan ekonomi atau pendapatan daerah dan pusat. Hal ini karena dengan adanya PKS tanpa kebun dapat mengakomodir petani swadaya yang belum bermitra dengan PKS besar atau konvesional.
Seperti diketahui PKS besar biasanya sudah memiliki pasokan TBS dari kebun intinya sendiri sehingga PKS besar tersebut hanya menerima TBS milik petani swadaya sebesar 10% saja. Maka dari itu dengan adanya PKS tanpa kebun maka TBS milik petani swadaya bisa diolah oleh PKS tanpa kebun tersebut.
Artinya jika PKS tanpa kebun tumbuh maka TBS-TBS milik petani swadaya bisa tersalur. Sehingga dalam hal ini bukan hanya petani swadaya yang ekonominya terangkat tapi juga pemerintah daerah melalui pajak dari PKS tanpa kebun tersebut. Lalu, ekonomi pemerintah pusat juga terangkat dengan ekspor cpo yang dihasilkan oleh PKS tanpa kebun tersebut.
“Jadi bukan hanya petani swadaya saja yang merasakan manfaatnya tapi juga pemerintah melalui pajak dari PKS tanpa kebun tersebut,” jelas H. Sahurudin.

Kedua, lanjut H. Sahurudin, mengapa PKS tanpa kebun turut mewujudkan swasembada energi? Hal ini karena dengan program pemerintah melalui implementasi biodiesel 50% berbahan baku kelapa sawit atau dikenal B50 pasokannya bisa aman atau terjaga.
Seperti diketahui, apabila program B50 diimplementasikan, maka kebutuhan CPO untuk biodiesel diperkirakan meningkat menjadi sekitar 16 juta ton/tahun. Kondisi ini berpotensi menekan ekspor CPO Indonesia karena sebagian produksi akan dialokasikan untuk kebutuhan energi domestik.
Akan tetapi, jika PKS tanpa kebun ini tumbuh maka kebutuhan CPO untuk biodiesel bisa dipasok dari PKS tanpa kebun tersebut. Seperti diketahui tidak sedikit di beberapa daerah yang jumlah PKS-nya tidak mampu mengakomodir TBS milik petani swadaya diantaranya di Babel. Maka dari itu jika PKS tanpa kebun tumbuh maka otomatis seluruh TBS milik petani swadaya yang belum bermitra dengan PKS besar bisa terakomodir dan dapat meningkatkan produksi CPO untuk kebutuhan B50 tanpa harus mengurangi ekspor. Kebutuhan biodiesel aman dan ekspor tetap tinggi ditengah terus meningkatnnya kebutuhan CPO dan pemasukan pemerintah tetap terjaga.
“Artinya secara tidak langsung PKS tanpa kebun sama saja mendukung program Presiden Prabowo untuk mewujudkan swasembada energi,” tegas H. Sahurudin.

Ketiga, H Sahurudin pun menjelaskan, dengan adanya PKS tanpa kebun maka lahan-lahan petani swadaya dapat menjadi mitra baru dengan PKS tanpa kebun tersebut. Sehingga dengan hubungan mitra baru antara PKS selaku industri dan petani swadaya selaku pemasok bahan baku bisa terjalin hubungan simbiosis mutualisme dimana PKS tanpa kebun membutuhkan pasokan dan petani swadaya membutuhkan pabrik mengolah hasil panennya.
“Artinya dengan hubungan kemitraan yang baru ini maka PKS tanpa kebun bisa mengajarkan ke patani swadaya bagaimana cara memanen yang baik dengan standar kebutuhan industri (PKS tanpa kebun). Lalu, petani akan mendapatkan harga yang menarik karena bisa menghasilkan TBS sesuai keinginan PKS tanpa kebun tersebut,” urai H. Sahurudin
Lebih dari itu, H Sahurudin mengakui dengan adanya PKS tanpa kebun maka PKS tanpa kebun tersebut bisa menjadi bapak angkat terhadap petani swadaya yang belum bermitra dengan PKS besar, dengan begitu petani swadaya akan teredukasi oleh PKS tanpa kebun yang berujung terciptanya sawit yang berkelanjutan.
Tags:



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *