KONSULTASI
Logo

Prof Suandi Dorong Jambi Jadi Pusat Nilai Tambah Hijau Sawit di Sumatera 2045

12 Agustus 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Prof Suandi Dorong Jambi Jadi Pusat Nilai Tambah Hijau Sawit di Sumatera 2045

sawitsetara.co - JAMBI — Provinsi Jambi memiliki modal besar untuk mengembangkan industri kelapa sawit dari sekadar penghasil bahan baku menjadi pusat nilai tambah hijau di Pulau Sumatera. Transformasi tersebut dinilai perlu diarahkan hingga 2045 dengan menggabungkan penguatan sektor hulu, hilirisasi industri, digitalisasi, ekonomi sirkular, serta pembangunan agroindustri yang berkelanjutan.

Guru Besar dan akademisi Universitas Jambi Prof. Dr. Ir. Suandi, M.Si., IPU, dalam esainya bertajuk Hilirisasi Komoditas Kelapa Sawit: Menuju Jambi sebagai Pusat Nilai Tambah Hijau di Sumatera 2045, mengatakan kelapa sawit masih menjadi salah satu komoditas perkebunan paling dominan dalam struktur ekonomi Provinsi Jambi.

Data 2024 menunjukkan luas areal perkebunan kelapa sawit Jambi mencapai 1.131.327 hektare. Dari luas tersebut, sebanyak 816.450 hektare merupakan tanaman menghasilkan, 192.469 hektare tanaman belum menghasilkan, dan 130.094 hektare tanaman tua atau rusak.

Produksi TBS Jambi pada tahun yang sama mencapai sekitar 2.442.402 ton dengan produktivitas rata-rata 2.991 kilogram per hektare. Sektor ini juga melibatkan sekitar 351.815 kepala keluarga petani.

apkasindo

Besarnya areal, produksi dan jumlah petani tersebut menunjukkan bahwa sawit tidak hanya berperan sebagai komoditas perdagangan, tetapi juga menjadi salah satu fondasi ekonomi masyarakat pedesaan. Karena itu, menurut Suandi, pengembangan sawit Jambi harus mulai diarahkan pada penciptaan nilai tambah yang lebih besar di dalam daerah.

“Transformasi ekonomi Provinsi Jambi melalui hilirisasi komoditas kelapa sawit merupakan agenda strategis yang tidak hanya bertujuan meningkatkan nilai tambah ekonomi, tetapi juga memperkuat daya saing daerah dalam menghadapi dinamika perdagangan global yang semakin kompetitif dan berorientasi pada keberlanjutan,” kata Suandi.

Ia mengatakan potensi sawit Jambi dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah tinggi. Industri hilir yang dapat dibangun antara lain oleokimia, bioenergi, pangan, farmasi, kosmetik hingga biomaterial ramah lingkungan.

Menurut Suandi, perubahan orientasi tersebut penting karena sebagian besar produksi sawit Jambi masih dipasarkan dalam bentuk CPO dan palm kernel. Sementara industri hilir seperti oleokimia, surfaktan, gliserin, fatty acid, fatty alcohol, bioplastik, pangan fungsional, kosmetik, farmasi, biomaterial dan energi terbarukan masih berkembang secara terbatas.

Kondisi tersebut membuat sebagian nilai tambah ekonomi justru dinikmati oleh daerah lain yang telah memiliki kawasan industri pengolahan.

apkasindo

Karena itu, pembangunan kawasan industri hilir berbasis klaster menjadi salah satu agenda penting. Kawasan tersebut dapat diarahkan untuk mengolah CPO menjadi oleokimia, biodiesel generasi baru, bioavtur, biomassa, biochar, green hydrogen, pupuk organik, biofertilizer, activated carbon hingga bahan baku industri farmasi dan kosmetik.

“Pendekatan klaster industri akan memperkuat keterkaitan antara sektor hulu, hilir, logistik, lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan dunia usaha sehingga tercipta ekosistem inovasi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Suandi menilai pembangunan industri hilir juga harus dibarengi dengan penguatan infrastruktur. Logistik, pelabuhan, energi, konektivitas digital dan iklim investasi yang kondusif menjadi bagian penting agar Jambi mampu menarik investasi domestik maupun internasional.

Di sisi lain, pembangunan industri tidak boleh mengabaikan aspek keberlanjutan. Penerapan prinsip ESG, sertifikasi ISPO dan RSPO, perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi, restorasi lahan terdegradasi, transparansi rantai pasok serta sistem pemantauan berbasis satelit diperlukan untuk memperkuat daya saing produk sawit Jambi di pasar global.

Transformasi tersebut pada akhirnya diharapkan membuat Jambi tidak lagi hanya menjadi sentra produksi bahan baku.

“Dengan demikian, Provinsi Jambi tidak hanya menjadi sentra produksi bahan baku, tetapi juga berkembang sebagai pusat manufaktur agroindustri berbasis kelapa sawit yang berdaya saing tinggi di Pulau Sumatera,” kata Suandi.

Menurut dia, jika modernisasi budidaya, hilirisasi industri, digitalisasi rantai pasok, ekonomi sirkular, pembiayaan hijau dan penguatan kelembagaan petani dapat dilakukan secara terpadu, Jambi memiliki peluang menjadi Green Value Added Hub berbasis kelapa sawit di Sumatera.

Tags:

Berita SawitSawit

Berita Sebelumnya
Harga TBS Riau Turun Rp61,75/Kg, Umur 9 Tahun Jadi Rp3.874,89

Harga TBS Riau Turun Rp61,75/Kg, Umur 9 Tahun Jadi Rp3.874,89

Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kemitraan swadaya di Provinsi Riau kembali mengalami penurunan pada periode 12–18 Agustus 2026. Berdasarkan penetapan harga TBS kemitraan swadaya No. 29, harga TBS untuk tanaman umur 9 tahun turun Rp61,75 per kilogram menjadi Rp3.874,89 per kilogram.

11 Agustus 2026Harga TBS

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *