
sawitsetara.co - JAKARTA – Pakar ekonomi sekaligus Rektor Universitas Koperasi Indonesia (IKOPIN), Prof. Agus Pakpahan, mengusulkan pembangunan kedaulatan gizi nasional melalui pemanfaatan tiga komoditas tropis Indonesia, yakni rice bran (dedak padi), minyak sawit merah, dan minyak kelapa nyiur.
Dalam artikel serial Tropikanisasi-Kooperatisasi edisi 3 Agustus 2026, Prof. Agus menyebut ketiga komoditas tersebut merupakan “tiga berkah tropika” yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber nutrisi masyarakat.
“Rice bran, minyak sawit merah, dan minyak kelapa nyiur adalah tiga berkah tropika yang terhampar di ladang, kebun, dan perkebunan kita. Ketiganya adalah bukti bahwa solusi gizi sudah ada di depan mata,” tulis Prof. Agus.
Ia menjelaskan, rice bran yang selama ini sebagian besar menjadi limbah atau pakan ternak sebenarnya mengandung vitamin B kompleks, serat, vitamin E, mineral, dan berbagai senyawa bioaktif yang penting bagi kesehatan.
Menurutnya, proses penyosohan beras menyebabkan sebagian besar vitamin B hilang dari beras putih.
“Dengan rice bran yang kita buang setiap hari, kita sebenarnya membuang potensi untuk mencerdaskan bangsa, melindungi saraf, dan meningkatkan produktivitas nasional,” katanya.
Sementara itu, minyak sawit merah dinilai mampu menjadi sumber alami beta-karoten dan vitamin E yang berperan menjaga kesehatan mata, meningkatkan kekebalan tubuh, serta membantu mencegah kekurangan vitamin A.
Menurutnya, minyak sawit merah menjadi contoh paling nyata bagaimana Indonesia justru kehilangan nutrisi terbaik dari komoditas yang diproduksi paling besar di dunia. Kandungan beta-karoten, vitamin E, tokotrienol, fitosterol, skualen, koenzim Q10, hingga polifenol yang terdapat secara alami pada minyak sawit mentah hilang setelah melalui proses refining, bleaching, dan deodorizing (RBD).
Padahal, berdasarkan penelitian yang dikutip Prof. Agus, minyak sawit merah mengandung beta-karoten sekitar 214,13 mg/kg, dengan total karotenoid mencapai 500-700 ppm dan vitamin E 600-1.000 ppm.
“Minyak sawit yang kita konsumsi sehari-hari adalah versi ‘mati’ dari apa yang seharusnya menjadi sumber nutrisi. Proses pemurnian yang dianggap sebagai keharusan teknis sebenarnya adalah pilihan yang mengutamakan kepentingan industri di atas kesehatan publik,” katanya.
Prof. Agus menilai kondisi tersebut menjadi ironis karena Indonesia masih menghadapi persoalan kekurangan vitamin A dalam skala besar. Berdasarkan SKMI 2014, sekitar 59,07 persen penduduk Indonesia berisiko mengalami defisiensi vitamin A, sementara prevalensi defisiensi vitamin A pada balita berdasarkan Riskesdas 2018 dan SKI 2023 mencapai 7,8-9,1 persen. Bahkan, hampir 70 persen ibu hamil mengalami ketidakcukupan asupan vitamin A.
Di sisi lain, Prof. Agus menilai minyak kelapa nyiur memiliki keunggulan karena kaya medium-chain triglycerides (MCT) yang dapat menjadi sumber energi alternatif bagi otak.
“Bayangkan jika kita memanfaatkan minyak kelapa sebagai pangan fungsional nasional. Generasi tua terlindungi dari Alzheimer dan demensia, anak-anak mendapatkan energi otak yang optimal, fungsi kognitif masyarakat meningkat, dan obesitas serta sindrom metabolik dapat ditekan,” ujarnya.
Menurut Prof. Agus, ketiga bahan pangan tersebut memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia.
“Rice bran berperan sentral dalam membangun kecerdasan bangsa melalui vitamin B kompleks. Minyak sawit merah menjadi benteng pertahanan penglihatan dan kekebalan tubuh. Minyak kelapa nyiur melindungi otak dari penuaan dini sekaligus memberikan perlindungan antimikroba bagi tubuh,” katanya.
Ia membayangkan Indonesia pada 2045 mampu membangun generasi yang lebih sehat apabila kekayaan nutrisi lokal dimanfaatkan secara maksimal.
“Bayangkan Indonesia 2045. Generasi emas yang tumbuh dengan nutrisi dari tiga berkah tropika: anak-anak yang cerdas karena otaknya mendapat cukup vitamin B dan MCT, sehat karena mendapat cukup vitamin A dan E, serta produktif karena tubuhnya memperoleh nutrisi seimbang,” ujar Prof. Agus.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Prof. Agus mengajukan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah. Di antaranya mendorong produksi pangan berbasis rice bran, memperluas penggunaan minyak sawit merah dan minyak kelapa sebagai pangan fungsional, memperkuat riset dan inovasi, serta membangun edukasi publik mengenai manfaat ketiga komoditas tersebut.
Selain itu, ia juga menilai hilirisasi pangan harus melibatkan petani sebagai pemilik rantai nilai melalui model koperasi.
“Petani bukan hanya pemasok bahan baku, tetapi mitra pemilik dalam rantai nilai. Model koperasi seperti CUKK dan American Crystal Sugar harus diadaptasi ke dalam tata kelola industri pangan nasional,” tegasnya.
Prof. Agus menutup tulisannya dengan menegaskan bahwa Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan sumber gizi, melainkan belum mampu memanfaatkan kekayaan alamnya secara optimal.
“Kita tidak kekurangan sumber nutrisi; kita membuangnya. Kita tidak kekurangan pengetahuan; kita mengabaikannya. Kita tidak kekurangan pemberian Ilahi; kita tidak mensyukurinya,” pungkasnya.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *