
sawitsetara.co - SEMARANG – Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat global terhadap gaya hidup berkelanjutan dan kesehatan preventif, kelapa sawit Indonesia mulai dilirik melampaui perannya sebagai bahan baku energi dan pangan. Dari ruang-ruang akademik vokasi, muncul gagasan bahwa sawit juga menyimpan peluang besar sebagai bahan dasar minuman fungsional berkhasiat kesehatan.
Gagasan tersebut dikembangkan oleh Dr. Mohamad Endy Julianto, ST, MT, dosen Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI) Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (Undip). Ia melihat minyak sawit bukan semata komoditas massal, melainkan sumber senyawa bioaktif bernilai tinggi yang dapat diolah menjadi produk minuman antioksidan dan antidiabetes.
“Selama ini sawit dikenal sebagai tulang punggung energi dan industri oleokimia. Padahal, di dalamnya terdapat fraksi minor yang sangat potensial untuk kesehatan,” ujar Endy dalam artikelnya di Kompasiana, dikutip Jumat (16/1/2026).
Kajian yang dikembangkan Endy berfokus pada pemanfaatan fraksi minor minyak sawit, seperti tokotrienol, tokoferol, polifenol, serta berbagai fitonutrien bioaktif. Senyawa-senyawa ini telah banyak dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan kuat, sifat antiinflamasi, serta potensi membantu pengendalian kadar glukosa darah.
Melalui pendekatan rekayasa kimia industri dan ilmu pangan fungsional, fraksi tersebut diekstraksi dan dimurnikan dengan teknologi ramah lingkungan, kemudian diformulasikan menjadi minuman fungsional yang aman, stabil, dan efektif secara biologis.
Produk yang dibayangkan bukan sekadar minuman kesehatan konvensional, melainkan nutraseutikal generasi baru yang menjawab kebutuhan masyarakat urban akan produk praktis, berbasis sains, dan berorientasi pencegahan penyakit.
Berbeda dari tren minuman fungsional yang sering mengandalkan klaim pemasaran, kajian ini dibangun di atas fondasi rekayasa proses yang ketat. Setiap tahapan—mulai dari ekstraksi hijau, pemurnian terkontrol, hingga formulasi food-grade—dirancang dengan prinsip efisiensi energi, process intensification, dan ekonomi sirkular.
Pendekatan tersebut sekaligus menunjukkan arah baru hilirisasi sawit Indonesia: produk bernilai tambah tinggi, berbasis teknologi, dan berorientasi kesehatan.
Dari sisi industri, konsep ini membuka peluang substitusi bahan baku impor untuk sektor minuman fungsional, pengembangan produk berbasis bahan lokal, hingga pendirian pilot plant dan teaching factory berbasis riset terapan vokasi.
Di tengah meningkatnya prevalensi diabetes dan penyakit degeneratif di Indonesia, pengembangan minuman fungsional berbasis sawit dinilai semakin relevan. Sawit tidak lagi hanya diperdebatkan dalam konteks ekonomi dan lingkungan, tetapi juga diposisikan sebagai bagian dari solusi kesehatan nasional.
Melalui kajian ini, Endy menegaskan bahwa masa depan sawit terletak pada kecerdasan pengolahan, bukan sekadar besarnya produksi. “Sawit Indonesia bukan hanya soal volume produksi, tetapi tentang kecerdasan kita mengolahnya menjadi solusi masa depan,” tegasnya.
Lebih jauh, riset ini juga mencerminkan peran strategis pendidikan vokasi dalam mendorong inovasi terapan. Di lingkungan TRKI Vokasi Undip, riset tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi diarahkan menuju produk, kesiapan industri, dan manfaat nyata bagi masyarakat.
Tags:
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *