
sawitsetara.co - JAKARTA – Sektor perkebunan merupakan tulang punggung perekonomian nasional, baik dari sisi sosial maupun devisa.
Bahkan lebih dari 10,8 juta rumah tangga, yang didominasi petani kecil, menggantungkan hidup pada usaha perkebunan. Kontribusi sektor ini terhadap ekspor pertanian sangat dominan. Bahkan, pada 2022, nilai ekspor pertanian yang mencapai Rp640,56 triliun, sebagian besar (97,16 persen) berasal dari sektor perkebunan.
“Kelapa sawit menjadi penyumbang terbesar dengan nilai sekitar Rp468,64 triliun atau sekitar 75 persen ekspor pertanian, disusul kopi, kakao, serta komoditas lain seperti karet, kelapa, lada, pala, dan jambu mete yang memperkuat basis ekonomi daerah dan pendapatan petani,” ungkap Kuntoro Boga Andri, Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementerian Pertanian, Senin (12/1/2026).
Namun, lanjut Kuntoro, di tengah dinamika global yang tidak menentu, sektor perkebunan memiliki potensi besar sebagai penopang ekonomi yang tangguh di tahun 2026 dan seterusnya. Permintaan dunia terhadap produk pangan, minuman, rempah, dan bahan baku industri tetap tinggi, namun perlu dijawab dengan strategi penguatan yang menyeluruh.
Hilirisasi industri menjadi kunci peningkatan nilai tambah dan penciptaan lapangan kerja, diiringi penguatan petani melalui peningkatan produktivitas dan kemitraan usaha. Penerapan prinsip keberlanjutan dan standar internasional akan menjaga akses pasar sekaligus kelestarian sumber daya.
Hilirisasi menjadi kunci strategis dalam memperkuat ekonomi perkebunan dengan cara mengolah komoditas di dalam negeri agar bernilai tambah tinggi sebelum diekspor. Arah kebijakan ini telah ditegaskan sejak era Presiden Joko Widodo dan berlanjut pada pemerintahan Presiden Pabowo Subianto, dengan menahan ekspor bahan mentah serta mendorong industrialisasi produk perkebunan.
Keberhasilan paling nyata terlihat pada kelapa sawit yang hingga 2023 telah menghasilkan 193 jenis produk turunan, mulai dari pangan, oleokimia, kosmetik hingga biofuel. Industri hilir sawit yang kuat tidak hanya meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga menopang penghidupan sekitar 2,4 juta petani swadaya dan menyerap lebih dari 16 juta tenaga kerja di sepanjang rantai pasoknya.
Sebelumnya, Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat menjelaskan, sawit merupakan penopang utama perekonomian nasional dan sumber penghidupan bagi jutaan keluarga petani.
Diketahui, saat ini 42 persen atau sekitar 6,94 juta hektare perkebunan sawit nasional dikelola oleh petani kecil, yang melibatkan lebih dari 2,9 juta pekebun. Industri ini juga menciptakan 4,2 juta pekerjaan langsung dan 12 juta tidak langsung.
“Kementan terus mempercepat peningkatan produktivitas melalui Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penguatan sarana prasarana, peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) perkebunan, serta pemberdayaan kelembagaan pekebun. Penyederhanaan regulasi PSR dengan memberikan norma waktu untuk pelaksanaan verifikasi persyaratan terbukti mempercepat layanan bagi petani,” ujar Roni.
Roni menegaskan, arah kebijakan perkebunan nasional menitikberatkan pada tiga aspek, yaitu peningkatan produktivitas, hilirisasi industri, dan penguatan tata kelola berkelanjutan, termasuk percepatan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), integrasi sistem ketertelusuran, serta dukungan pembiayaan melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *