
sawitsetara.co - JAYAPURA — Petani kelapa sawit di Papua, Albert Yoku, turut menyuarakan penolakan tegas terhadap wacana penutupan pabrik kelapa sawit (PKS) tanpa kebun.
Ia menilai keberadaan PKS jenis tersebut justru menjadi penopang penting bagi keberlangsungan ekonomi petani, khususnya di wilayah timur Indonesia.
Albert menjelaskan, petani sawit di Papua yang tersebar di delapan kabupaten pada enam provinsi selama ini menggantungkan harapan pada ekosistem industri sawit yang terbuka dan kompetitif.

Menurutnya, program Hutan Masyarakat dan skema petani mandiri telah memberi ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan ekonomi keluarga secara legal melalui pemanfaatan lahan yang dimiliki.
“Program ini menjadi motivasi kuat bagi masyarakat untuk mandiri secara ekonomi. Karena itu, kami sangat mendukung selama tetap berjalan sesuai mekanisme perundang-undangan,” ujar Albert dalam keterangannya kepada sawitsetara.co.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa keberadaan PKS tanpa kebun tidak boleh dihilangkan. Justru, menurutnya, pemerintah perlu membuka peluang seluas-luasnya bagi pengusaha perorangan yang mampu membangun PKS tanpa harus memiliki kebun sendiri.

Albert menilai, kehadiran PKS tanpa kebun akan menciptakan persaingan pasar yang sehat dan memberikan alternatif bagi petani dalam menjual hasil panen mereka. Hal ini dinilai krusial, terutama ketika perusahaan pemilik kebun mengalami kendala operasional.
Ia mencontohkan kondisi yang terjadi di Kabupaten Keerom, Papua. Di wilayah Arso, PKS milik PTPN II dilaporkan tidak beroperasi, sehingga berdampak langsung pada ribuan hektare kebun sawit milik petani.
“Kami merasakan langsung dampaknya. Sekitar 12.000 hektare lahan sawit, baik kebun inti maupun plasma, hasilnya menjadi mubazir karena PKS tidak berjalan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa sekitar 1.650 kepala keluarga petani plasma yang mengelola lebih dari 6.000 hektare kebun sawit mengalami penurunan pendapatan yang signifikan akibat kondisi tersebut.
“Pendapatan petani anjlok hingga hari ini. Ini menjadi bukti nyata bahwa ketergantungan pada satu PKS sangat berisiko,” tegas Albert.
Oleh karena itu, ia menekankan bahwa keberadaan PKS tanpa kebun harus tetap dipertahankan sebagai bagian dari solusi untuk menjaga stabilitas ekonomi petani sawit di daerah.
“PKS tanpa kebun harus tetap ada. Ini penting agar petani memiliki pilihan dan tidak terjebak ketika satu pabrik berhenti beroperasi,” kata dia.
Tags:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *