KONSULTASI
Logo

Tanpa Ekspansi Lahan, Sawit Malaysia Bertaruh pada Teknologi dan AI

4 Januari 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Tanpa Ekspansi Lahan, Sawit Malaysia Bertaruh pada Teknologi dan AI
HOT NEWS

sawitsetara.co - KUALA LUMPUR – Ketika pintu ekspansi lahan benar-benar tertutup, industri kelapa sawit Malaysia kini berada di persimpangan strategis: bertahan dengan cara lama atau bertransformasi lewat teknologi. Otoritas sawit Malaysia menegaskan, masa depan sektor ini sepenuhnya ditentukan oleh kemampuan meningkatkan produktivitas tanpa menambah satu hektare pun kebun baru.

Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menyatakan bahwa kombinasi regulasi keberlanjutan domestik dan internasional telah mengakhiri era pembukaan lahan. Standar Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO) 2.0 serta European Union Deforestation Regulation (EUDR) secara efektif membatasi ruang gerak industri dari sisi ekspansi.

“Tidak ada lagi ruang untuk membuka lahan. Produktivitas harus datang dari teknologi, mekanisasi, dan penggunaan material tanam yang lebih baik,” kata Direktur Jenderal MPOB Ahmad Parveez Ghulam Kadir dalam wawancara kelompok di sela International Palm Oil Congress and Exhibition 2025 (PIPOC 2025), dikutip InfoSawit dari New Straits Times, Sabtu (3/1/2026).

Sawit Setara Default Ad Banner

Parveez menjelaskan, tantangan industri sawit Malaysia bukan hal baru. Selama hampir dua dekade terakhir, produktivitas kebun cenderung tidak bergerak signifikan. Di sisi lain, struktur kebun didominasi tanaman tua, sementara program peremajaan berjalan lambat akibat berbagai kendala teknis dan finansial.

“Pohon sawit kita kini sudah memasuki generasi keempat setelah lebih dari 100 tahun penanaman. Hasilnya stagnan, sementara peremajaan berjalan lambat,” ujarnya.

Meski demikian, produksi crude palm oil (CPO) Malaysia pada tahun ini diperkirakan masih bisa mencapai sekitar 19,5 juta ton. Kondisi tersebut diperparah oleh kekurangan tenaga kerja yang bersifat kronis. Situasi ini mendorong perusahaan perkebunan untuk meninjau ulang model bisnis konvensional yang selama ini bergantung pada tenaga kerja manual.



Sawit Setara Default Ad Banner

Otomasi dan AI Masuk Kebun

Lonjakan harga sawit dalam beberapa tahun terakhir—terutama pada masa pandemi—menjadi momentum bagi perusahaan untuk berinvestasi pada otomasi dan kecerdasan buatan. Sejumlah perusahaan besar mulai mengintegrasikan drone, citra satelit, serta sistem analitik berbasis AI dalam pengelolaan kebun.

Parveez mencontohkan penggunaan data satelit oleh Kuala Lumpur Kepong Bhd untuk menyusun strategi replanting. Teknologi tersebut dimanfaatkan untuk membaca kontur lahan, kondisi tanah, hingga menentukan jenis bibit dan pola pemupukan yang paling sesuai.

Selain itu, drone dan pencitraan udara juga digunakan sebagai sistem peringatan dini untuk mendeteksi serangan hama seperti ulat kantong, kutu putih, dan kumbang badak sebelum menyebar luas. Dari sisi kelembagaan, MPOB telah membentuk Mechanisation and Automation Research Consortium of Oil Palm sejak 2021 guna mempercepat adopsi teknologi di tingkat industri.

Transformasi ini berlangsung di tengah perubahan peta permintaan global minyak nabati. Parveez menyoroti kebijakan Indonesia yang semakin agresif mengalihkan sawit ke sektor non-pangan, terutama biodiesel dengan mandat campuran B50.

“Jika Indonesia mengalihkan lebih banyak sawit ke sektor non-pangan, Malaysia harus siap mengisi celah pasar global. Tapi karena tidak bisa menambah lahan, kita harus mengoptimalkan apa yang sudah ada,” ujarnya. “Kuncinya ada pada genetika yang lebih baik, replanting yang tepat, dan pemanfaatan teknologi.”



Sawit Setara Default Ad Banner

Menjawab Tuduhan Deforestasi

Sementara itu, Ketua MPOB Mohamad Helmy Othman Basha menegaskan bahwa dorongan produktivitas juga merupakan bagian dari upaya melawan persepsi negatif global terhadap sawit, khususnya di pasar Barat. Menurutnya, posisi Malaysia berbeda dengan Indonesia yang memiliki pasar domestik besar untuk menyerap sawit.

“Indonesia punya populasi besar sehingga bisa menyerap sawit untuk biodiesel tanpa mengganggu ekspor. Malaysia berbeda, kami sangat bergantung pada pasar ekspor,” kata Helmy.

Ia juga membantah anggapan bahwa perkebunan sawit menjadi penyumbang utama deforestasi dunia. Helmy menyebut, secara global, sawit hanya menempati sekitar 8,5 persen dari total lahan tanaman minyak dunia atau sekitar 28 juta hektare—jauh di bawah kedelai, rapeseed, dan bunga matahari yang mencapai 288 juta hektare.

“Kelapa sawit tetap menjadi minyak nabati paling efisien dan produktif,” ujarnya. Meski hanya menggunakan sekitar 0,6 persen dari total daratan dunia seluas 4,8 miliar hektare, sawit mampu menyumbang sekitar 37 persen pasokan minyak nabati global.

Selain efisiensi lahan, Helmy menambahkan, sawit juga memiliki nilai fungsional tinggi karena kaya tocotrienol dan vitamin E, serta semakin banyak dimanfaatkan sebagai pengganti bahan berbasis petrokimia, termasuk di industri kosmetik.

“Di tengah tekanan keberlanjutan, sawit justru menawarkan solusi efisiensi dan diversifikasi penggunaan,” tutup Helmy.

Tags:

Malaysia

Berita Sebelumnya
Pencurian TBS Sawit Duduki Peringkat Keempat Kasus Menonjol di Kotim

Pencurian TBS Sawit Duduki Peringkat Keempat Kasus Menonjol di Kotim

Kasus pencurian tandan buah segar (TBS) kelapa sawit masih menjadi salah satu persoalan kriminal yang menonjol di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah.

3 Januari 2026 | Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *