KONSULTASI
Logo

TBS Ditolak Pabrik, Petani Sawit Terpaksa Jual Murah akibat El Nino

19 Oktober 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
TBS Ditolak Pabrik, Petani Sawit Terpaksa Jual Murah akibat El Nino
HOT NEWS

sawitsetara.co – JAKARTA — Petani sawit rakyat di Kalimantan Barat menghadapi kesulitan menjual tandan buah segar (TBS) setelah kekeringan ekstrem mengganggu distribusi minyak sawit. Surutnya Sungai Kapuas membuat kapal pengangkut sulit beroperasi. Akibatnya, tangki penyimpanan pabrik penuh dan pembelian TBS dari petani dibatasi.

Situasi ini membuat petani kehilangan akses pasar ketika hasil panen harus segera diolah. Sebagian petani terpaksa mencari pabrik yang lebih jauh dengan harga jual lebih rendah.

Reuters melaporkan pada Senin (19/10/2026), gangguan distribusi tersebut telah berlangsung selama beberapa pekan. Kekeringan akibat fenomena super El Nino membuat sejumlah pabrik kesulitan mengirimkan minyak sawit olahan.

Supendi, petani sawit berusia 33 tahun di Sanggau, Kalimantan Barat, menjadi salah satu yang terdampak. Pada awal Oktober, ia menunggu empat hari di sebuah pabrik sebelum diminta pergi karena kapasitas penampungan sudah penuh.

“Buahnya tidak diterima,” kata Supendi kepada Reuters melalui sambungan telepon. “Sekarang kami tidak tahu bagaimana cara menjualnya,” tambahnya.

Supendi mengangkut sekitar tujuh ton TBS dari kebunnya dan kebun tetangga ke pabrik kelapa sawit Multi Prima Entakai di Kota Sanggau. Namun, hasil panen tersebut tidak dapat langsung dijual karena keterbatasan kapasitas penampungan.

tamplate

Tangki Penuh, Pabrik Kurangi Pembelian

Gangguan pengangkutan membuat persediaan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) menumpuk di pabrik. Ketika minyak sawit tidak dapat segera dikirim, ruang penyimpanan semakin terbatas.

Kepala GAPKI Kalimantan Barat Aris Supratman mengatakan, 13 dari 50 pabrik kelapa sawit di provinsi tersebut terdampak gangguan transportasi. Pabrik-pabrik itu mewakili sekitar separuh kapasitas pengolahan sawit di Kalimantan Barat.

Aris memperkirakan pasokan minyak sawit dari provinsi tersebut turun sekitar 11 persen pada September dibandingkan Agustus. Penumpukan persediaan dan keterlambatan pengiriman menjadi penyebabnya.

“Akibat gangguan tersebut, pengiriman mengalami penundaan. Ketika tangki penyimpanan mereka penuh, mau tidak mau mereka harus membatasi produksi,” ujarnya.

Dian Kurniawan, manajer pabrik Multi Prima Entakai, mengatakan pembelian TBS perusahaan turun menjadi 10.000 ton pada September. Jumlah tersebut jauh di bawah volume 30.000 ton yang diproses pada Juli.

Per 1 Oktober, pabrik itu menyimpan sekitar 8.200 ton CPO. Kapasitas maksimum tangki penyimpanannya mencapai 8.500 ton.

Dian menjelaskan, pengiriman melalui truk jauh lebih lambat daripada menggunakan tongkang. Biaya pengangkutannya pun bisa mencapai tiga kali lipat.

“Biasanya kami bisa mengirimkan 2.000 ton dalam empat hari, tetapi dengan truk terkadang kami hanya bisa mengirimkan 100 ton per hari,” kata Dian.

Keterbatasan transportasi membuat pabrik kesulitan mengosongkan tangki. Perusahaan akhirnya harus membatasi pembelian TBS agar persediaan CPO tidak terus bertambah.

tamplate

Petani Jual TBS Lebih Murah

Dampak gangguan penjualan turut menekan keuangan petani. Indra Rustandi, kepala cabang Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Kalimantan Barat, mengatakan petani yang kesulitan menjual hasil panen mulai menghadapi kendala pembiayaan pemeliharaan kebun.

Sebagian petani bahkan memangkas penggunaan pupuk hingga 70 persen untuk menghemat biaya operasional. Pengurangan pemupukan berpotensi mengganggu produktivitas kebun apabila berlangsung dalam jangka panjang. Petani membutuhkan pemeliharaan rutin agar tanaman tetap produktif dan menghasilkan buah berkualitas.

Rahmat Wiyono, petani sawit berusia 63 tahun di Sanggau, juga mengaku kesulitan menjual TBS selama dua bulan terakhir. Ia terkadang harus menempuh perjalanan enam jam untuk menjual hasil panen dengan harga Rp2.650 per kilogram. Harga tersebut lebih rendah dibandingkan Rp3.400 per kilogram yang biasanya diterima di pabrik langganannya, dengan waktu tempuh sekitar tiga jam.

“Beberapa teman kami bahkan tidak mendapatkan hasil panen selama dua bulan terakhir, sehingga mereka harus mencari cara lain untuk menambah penghasilan sehari-hari,” kata Rahmat.

Sungai Kapuas Jadi Titik Kritis

Sungai Kapuas memiliki panjang sekitar 1.143 kilometer. Berdasarkan data GAPKI, jalur perairan tersebut mengangkut sekitar 40 persen produksi minyak sawit Kalimantan Barat. Surutnya sungai memunculkan gosong pasir yang membuat sejumlah tongkang dan kapal tunda kandas. Pengiriman melalui jalur darat menjadi alternatif, tetapi kapasitas truk jauh lebih kecil dibandingkan tongkang.

Petani setempat mengatakan kekeringan serupa pernah terjadi saat El Nino pada 2015 dan 2018. Namun, kejadian sebelumnya berlangsung sekitar satu bulan, sedangkan gangguan tahun ini telah berlangsung sekitar dua bulan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan awal musim hujan mundur dari Oktober menjadi November. Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang surutnya sungai dan menunda pemulihan distribusi.

Krisis ini memperlihatkan bahwa hambatan logistik dapat menjalar hingga ke tingkat kebun. Ketika pabrik tidak mampu mengirimkan CPO, pembelian TBS berkurang. Petani pun menanggung risiko kehilangan pendapatan, menjual hasil panen dengan harga lebih rendah, dan mengurangi biaya perawatan kebun.

Tags:

Berita Sawit

Berita Sebelumnya
Jangan Cuma Untungkan Korporasi, Investasi Sawit Harus Angkat Nasib Petani

Jangan Cuma Untungkan Korporasi, Investasi Sawit Harus Angkat Nasib Petani

Dewan Negara-Negara Produsen Minyak Sawit (CPOPC) mendorong investasi industri kelapa sawit agar tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi perusahaan, tetapi juga memperluas akses pembiayaan bagi petani kecil dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

17 Oktober 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *