KONSULTASI
Logo

Tragedi DAS Garoga Sumatera Utara Penyebab Fenomena Alam Ekstrem

9 Januari 2026
AuthorIbnu
EditorIbnu
Tragedi DAS Garoga Sumatera Utara Penyebab Fenomena Alam Ekstrem
HOT NEWS

sawitsetara.co – BOGOR – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Daerah Aliran Sungai (DAS) Aek Garoga, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Menurut kajian ilmiah Tim Ahli dari IPB University bahwa bencana ini sebagai murni peristiwa alamiah akibat siklon tropis yang tidak biasa.

Hasil kajian ilmiah mendalam yang dilakukan ini justru menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks. “Kajian ini menyimpulkan bahwa tidak terdapat bukti kuat PT TBS (Tri Bahtera Srikandi) sebagai penyebab utama (dominant cause) terjadinya banjir bandang dan longsor di DAS Garoga,” kata Ketua Tim Ahli IPB, Prof. DR. Yanto Santosa, DEA, IPU, pada konferensi pers di Kampus IPB University, Bogor, Jumat, (9/1/2026).

Dalam kesempatan itu, Yanto Santosa bersama dua anggota Tim Ahli, Dr. Ir. Basuki Sumawinata, M.Agr., dan Dr. Ir. Idung Risdiyanto, M.Sc., menjelaskan secara rinci hasil analisis hidrologi, geomorfologi, dan perubahan tutupan lahan terkait peristiwa banjir bandang dan longsor di DAS Aek Garoga.


Sawit Setara Default Ad Banner

Menurut Tim Ahli dari IPB University adanya bencana tersebut murni karena kombinasi cuaca ekstrem dan kondisi geologi unik.

Siklon Tropis Senyar sebagai pemicu terjadinya curah hujan ekstrem yang mencapai lebih dari 500 mm hanya dalam tiga hari (25-27 November), setara dengan volume 5.000 m³ air per hektare. Angka ini jauh melampaui ambang batas “bulan basah” dalam klasifikasi klimatologi yang hanya 200 mm per bulan. Fenomena siklon di dekat khatulistiwa ini disebut sangat jarang terjadi.

Dijelaskan pula bahwa tanah di lokasi tersebut tipis dan berada di atas batuan induk yang kedap air (masif). Ketika jenuh air, lapisan tanah kehilangan daya ikat dan berubah sifat menjadi cair (lumpur), sehingga longsor terjadi secara alami bahkan di kawasan hutan dengan tutupan lahan alami.


Sawit Setara Default Ad Banner

Masih menurut kajian Tim Ahli IPB, hujan dengan intensitas sedemikian besar menyebabkan tanah pada lereng-lereng curam mengalami perubahan sifat fisik. Lapisan tanah yang relatif tipis, berada di atas batuan induk yang masif dan kedap air, menjadi jenuh dan melampaui batas mencair (liquid limit). Akibatnya, lapisan tanah berubah menyerupai lumpur dan mudah meluncur mengikuti gaya gravitasi, membawa serta vegetasi di atasnya—termasuk pohon-pohon besar beserta akarnya

“Fenomena longsor justru banyak terjadi di kawasan berhutan alami, bukan hanya di area yang mengalami perubahan tutupan lahan,” tambah Basuki Sumawinata. Pernyataan ini diperkuat oleh citra Sentinel sebelum dan sesudah bencana.

Meski proses hukum terus bergulir, Tim IPB menegaskan pentingnya pendekatan ilmiah yang menyeluruh pada skala DAS, bukan penilaian parsial terhadap satu entitas usaha. Banjir bandang dan longsor DAS Garoga dinilai sebagai hasil kombinasi faktor ekstrem: hujan luar biasa, kondisi geologi dan geomorfologi wilayah, serta perubahan tutupan lahan yang terjadi di banyak titik, termasuk kawasan hutan alami.



Berita Sebelumnya
Seri I Perkelapasawitan Indonesia: Asal-Usul, Perkembangan, dan Dampaknya terhadap Perubahan Tata Ruang Wilayah

Seri I Perkelapasawitan Indonesia: Asal-Usul, Perkembangan, dan Dampaknya terhadap Perubahan Tata Ruang Wilayah

Kelapa sawit telah menjadi salah satu komoditas paling menentukan dalam perjalanan ekonomi Indonesia kontemporer. Ia hadir bukan hanya sebagai sumber devisa dan penggerak ekspor, tetapi juga sebagai kekuatan yang membentuk ulang struktur agraria, tata ruang wilayah, hubungan sosial pedesaan, dan arah pembangunan nasional.

| Edukasi

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *