KONSULTASI
Logo

Uni Eropa Perketat Kontaminan, BRIN Siapkan Alat Deteksi Sawit dalam Sejam

15 September 2026
AuthorIbnu
EditorHendrik Khoirul
Uni Eropa Perketat Kontaminan, BRIN Siapkan Alat Deteksi Sawit dalam Sejam

sawitsetara.co - JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan alat uji cepat untuk mendeteksi kontaminan 3-monochloropropane-1,2-diol (3-MCPD) dan glycidol pada minyak sawit hasil pemurnian. Inovasi ini dikembangkan di tengah ketatnya pengawasan terhadap keamanan produk minyak nabati di pasar global, termasuk Uni Eropa.

Kedua senyawa tersebut menjadi perhatian karena berpotensi membahayakan kesehatan. International Agency for Research on Cancer (IARC) mengategorikan 3-MCPD dan glycidol sebagai senyawa yang berpotensi karsinogenik bagi manusia.

Karena itu, pengawasan terhadap kandungan kedua kontaminan tersebut menjadi penting, terutama bagi produk minyak nabati yang masuk ke pasar dengan persyaratan keamanan pangan yang ketat.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Syiffa Fauzia, mengatakan 3-MCPD dan glycidol dapat terbentuk selama proses pemurnian minyak pada suhu tinggi.

“Kontaminan tersebut terbentuk selama proses pemurnian minyak pada suhu tinggi. Meskipun metode laboratorium seperti kromatografi gas memiliki akurasi tinggi, prosesnya membutuhkan waktu dan biaya yang cukup besar,” kata Syiffa dalam webinar ORNAMAT ke-91, Selasa (1/9/2026).

DPP

Kondisi tersebut mendorong Syiffa bersama tim riset kimia analitik mengembangkan metode deteksi yang lebih cepat dengan memanfaatkan molecularly imprinted polymers (MIP).

MIP merupakan polimer yang memiliki rongga pengenal dengan ukuran dan bentuk yang dirancang menyerupai molekul target. Dalam pengembangan ini, rongga tersebut dirancang untuk mengenali 3-MCPD dan glycidol sehingga kontaminan dapat dipisahkan dari matriks minyak dan gangguan senyawa lain dapat diminimalkan.

“Prinsip MIP bekerja seperti kunci dan gembok yang sangat spesifik. Rongga dalam polimer dirancang untuk mengenali molekul target sehingga mampu memisahkan kontaminan dari matriks minyak dan mencegah hasil positif palsu,” jelas Syiffa.

Polimer tersebut kemudian dikombinasikan dengan nanopartikel perak atau silver nanoparticles (AgNPs) yang dimodifikasi menggunakan cysteine. Ketika kontaminan berikatan dengan material tersebut, terjadi interaksi kimia yang memicu agregasi nanopartikel.

Perubahan itu menghasilkan perubahan warna yang dapat diamati secara langsung, dari kuning menjadi cokelat. Dengan mekanisme tersebut, keberadaan kontaminan dapat diketahui tanpa harus melalui proses analisis laboratorium yang panjang.

DPP

BRIN menyebut metode ini memiliki sejumlah keunggulan, antara lain waktu pengujian yang lebih singkat, sensitivitas, serta kemudahan penggunaan di lapangan.

Syiffa mengatakan seluruh proses pengujian, mulai dari pemisahan hingga pembacaan perubahan warna, dapat dilakukan dalam waktu sekitar satu jam.

“Jika pengujian laboratorium membutuhkan waktu hingga belasan jam, metode uji cepat ini dapat memangkas seluruh proses, mulai dari ekstraksi hingga pembacaan warna, menjadi sekitar satu jam dengan batas deteksi yang memenuhi standar internasional,” tegas Syiffa.

Pengembangan alat uji cepat berbasis molecularly imprinted polymers (MIP) atau MT-MIPs ini diharapkan dapat digunakan sebagai metode skrining awal oleh industri maupun regulator.

Bagi industri sawit, keberadaan alat tersebut dapat membantu memastikan kualitas produk sebelum dipasarkan. Sementara bagi regulator, metode deteksi cepat dapat mendukung pengawasan terhadap keamanan pangan secara lebih praktis.

Inovasi ini juga dinilai penting untuk memperkuat daya saing minyak sawit Indonesia di pasar global yang semakin menuntut pemenuhan standar keamanan dan keberlanjutan. Dengan deteksi kontaminan yang lebih cepat, potensi masalah kualitas dapat diketahui sejak awal.

Tags:

EUDRBerita SawitBRIN

Berita Sebelumnya
Integrasi Sawit-Sapi Didorong untuk Perkuat Ketahanan Pangan Kalsel

Integrasi Sawit-Sapi Didorong untuk Perkuat Ketahanan Pangan Kalsel

Integrasi perkebunan kelapa sawit dan peternakan sapi dinilai memiliki potensi untuk memperkuat ketahanan pangan Kalimantan Selatan. Pengembangan pola tersebut menjadi salah satu perhatian Komisi II DPRD Provinsi Kalimantan Selatan saat melakukan kunjungan kerja ke PT Astra Agro Lestari Tbk, Jumat (11/9/2026).

14 September 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *