
sawitsetara.co - JAKARTA — Pemerintah kembali membuka kesempatan bagi generasi muda yang memiliki keterkaitan dengan sektor kelapa sawit untuk melanjutkan pendidikan tinggi melalui Program Beasiswa Pendidikan SDM Perkebunan Kelapa Sawit Tahun 2026. Tahun ini, kuota penerima beasiswa meningkat menjadi 5.000 orang, menjadikannya salah satu program pengembangan sumber daya manusia terbesar di sektor perkebunan nasional.
Informasi tersebut disampaikan Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Dr. Iim Mucharam, S.P., M.P., dalam agenda Sosialisasi Perdana Beasiswa Pendidikan SDM Perkebunan Kelapa Sawit Tahun 2026 yang digelar secara daring, Rabu (3/6/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Perkebunan melalui Tim Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Perkebunan tersebut menjadi langkah awal dalam proses seleksi penerima beasiswa yang didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Sosialisasi diikuti berbagai pemangku kepentingan dari seluruh Indonesia, mulai dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, perusahaan perkebunan, organisasi petani, penyuluh, hingga calon peserta beasiswa.

Dalam pemaparannya, Iim menegaskan bahwa program beasiswa ini memiliki landasan hukum yang kuat dan merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam membangun SDM unggul di sektor kelapa sawit.
Ia menyebut pelaksanaan program tersebut mengacu pada Undang-Undang Perkebunan, Peraturan Pemerintah tentang penghimpunan dana perkebunan, Peraturan Presiden mengenai pengelolaan dana perkebunan, Peraturan Menteri Pertanian tentang pengembangan SDM perkebunan, serta berbagai ketentuan teknis yang diterbitkan Direktorat Jenderal Perkebunan.
Menurut Iim, keberadaan program beasiswa tidak hanya bertujuan memberikan akses pendidikan, tetapi juga menyiapkan tenaga profesional yang mampu menjawab tantangan industri sawit yang semakin kompleks dan kompetitif.
“Program Beasiswa Perkebunan Kelapa Sawit memberikan kesempatan kepada generasi muda perkebunan untuk menempuh pendidikan tinggi pada jenjang akademik maupun vokasi yang relevan dengan kebutuhan pembangunan sektor perkebunan kelapa sawit,” kata Iim.

Ia menjelaskan bahwa program akademik yang dapat dipilih penerima beasiswa mencakup bidang agroteknologi, agribisnis, serta teknologi pengolahan hasil pertanian. Sementara pada jalur vokasi, peserta dapat memilih berbagai bidang keterampilan yang secara langsung berkaitan dengan aktivitas perkebunan dan industri pengolahan sawit.
Bidang-bidang tersebut antara lain pembenihan, pembibitan, budidaya tanaman, pemeliharaan tanaman, teknologi produksi tanaman, teknologi pengolahan hasil, teknik mesin perkebunan, hingga berbagai kompetensi teknis lain yang dibutuhkan dalam rantai nilai industri kelapa sawit.
Menurut Iim, pemerintah sengaja mengarahkan program beasiswa pada bidang-bidang yang memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan industri agar lulusan yang dihasilkan memiliki daya saing tinggi dan siap memasuki dunia kerja.
“Dalam pelaksanaannya harus memenuhi beberapa kriteria yang terkait dengan kebutuhan kerja sepanjang rantai nilai industri kelapa sawit,” ujarnya.
Program beasiswa ini terbuka bagi berbagai kelompok masyarakat yang memiliki hubungan dengan sektor sawit. Sasaran penerima meliputi pekebun dan keluarga pekebun, pekerja atau karyawan perkebunan beserta keluarganya, pengurus kelembagaan pekebun, pengurus asosiasi sawit, aparatur sipil negara yang bertugas di bidang kelapa sawit, serta penyuluh perkebunan.
Khusus bagi pengurus kelembagaan pekebun dan pengurus asosiasi, pemerintah mensyaratkan masa pengabdian minimal dua tahun pada organisasi terkait.

Iim mengatakan batas usia maksimal peserta adalah 23 tahun. Untuk peserta lulusan SMA, SMK, atau MA, nilai rata-rata rapor dari semester satu hingga lima minimal 7. Sedangkan lulusan diploma diwajibkan memiliki indeks prestasi kumulatif minimal 2,75.
Namun demikian, pemerintah memberikan kebijakan afirmasi bagi peserta dari Papua, Nusa Tenggara, wilayah perbatasan, serta daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
“Khusus bagi calon penerima yang berasal dari wilayah Papua, Nusa Tenggara, serta daerah 3T atau perbatasan, diberikan kriteria khusus berupa rata-rata nilai rapor minimal 6 untuk lulusan SMA, SMK, dan MA, serta IPK minimal 2,5 untuk lulusan diploma,” kata Iim.
Selain faktor akademik, pemerintah juga membuka peluang bagi peserta dari keluarga kurang mampu. Status tersebut dapat dibuktikan melalui surat keterangan tidak mampu yang diterbitkan kepala desa atau pejabat yang berwenang.
Menurut Iim, kebijakan tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk memastikan akses pendidikan tinggi dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, khususnya keluarga yang selama ini menjadi bagian dari industri kelapa sawit nasional.
“Melalui program ini diharapkan kita dapat menciptakan SDM perkebunan kelapa sawit yang kompeten, profesional, dan mampu mendukung pengembangan industri sawit yang berkelanjutan,” ujarnya.

Selain meningkatkan kualitas individu penerima beasiswa, pemerintah juga berharap program tersebut dapat memperkuat daya saing industri sawit Indonesia dalam jangka panjang. Dengan semakin banyak tenaga kerja terdidik yang memahami aspek teknis, manajerial, dan keberlanjutan perkebunan, sektor sawit diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan global yang terus berkembang.
Pada tahun ini, sebanyak 42 perguruan tinggi dilibatkan dalam program beasiswa, terdiri atas akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, dan universitas yang telah memenuhi persyaratan akreditasi dan legalitas penyelenggaraan pendidikan.
Menutup paparannya, Iim mengingatkan para calon peserta agar memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik-baiknya.
“Ini kesempatan yang sangat baik bagi Bapak-Ibu semuanya dan rekan-rekan calon penerima beasiswa. Segera dipenuhi dokumennya agar kita bisa mendapatkan hasil terbaik di perguruan tinggi yang menjadi tujuannya dengan dibiayai oleh Beasiswa SDM Sawit,” kata dia.
Tags:



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *