
JAKARTA — Upaya mewujudkan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan menuntut pengelolaan kebun yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga pada konservasi tanah dan air.
Salah satu praktik yang dinilai relevan dengan prinsip Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) adalah penanaman tanaman penutup tanah sebagai bagian dari pemeliharaan tanaman untuk menjaga produktivitas kebun.
Di antara berbagai jenis vegetasi yang tumbuh di perkebunan sawit, gulma pakis Nephrolepis biserrata menunjukkan potensi besar sebagai tanaman penutup tanah. Tanaman ini banyak ditemukan di kebun kelapa sawit dan memiliki sifat toleran terhadap naungan, sehingga dapat tumbuh baik di areal kelapa sawit menghasilkan.
Pertumbuhannya relatif lambat, tidak agresif, dan tidak menimbulkan gangguan berarti terhadap tanaman utama. Karena itu, N. Biserrata cenderung dipertahankan keberadaannya oleh sebagian pengelola kebun.
Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari IPB University, Universitas Padjadjaran, dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit menunjukkan bahwa Nephrolepis biserrata dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai tanaman penutup tanah. Tim yang terdiri dari Sudirman Yahya, Suwarto, Kukuh Murtilaksono, Mira Ariyanti, dan Hasril H. Siregar meneliti peran gulma pakis ini dalam mendukung konservasi tanah dan air di perkebunan kelapa sawit.
Seperti dilansir dari laman IPB University, Sudirman Yahya menjelaskan bahwa gulma tidak selalu merugikan. Dalam konteks kebun sawit, Nephrolepis biserrata awalnya dipertahankan untuk menjaga kelembapan tanah di sekitar pokok.
Selanjutnya, tanaman ini berperan sebagai vegetasi konservasi yang membantu mengendalikan aliran permukaan dan memperbaiki kondisi tanah. Dengan pengelolaan yang tepat, keberadaan gulma pakis ini justru mendukung pertumbuhan kelapa sawit.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak tanam menjadi faktor kunci dalam pemanfaatan Nephrolepis biserrata sebagai tanaman penutup tanah. Jarak tanam 10 sentimeter x 10 sentimeter dinilai paling optimal karena menghasilkan jumlah daun terbanyak dan tingkat penutupan tanah tertinggi.
Pada umur 20 minggu setelah tanam, penutupan tanah pada jarak tanam ini mencapai lebih dari 94 persen. Penutupan lahan yang rapat berfungsi melindungi permukaan tanah dari erosi sekaligus menekan kehilangan air akibat penguapan.
Selain melindungi tanah, Nephrolepis biserrata juga memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan bahan organik dan cadangan karbon. Tanaman ini mampu menghasilkan biomassa sekitar 15,7 ton bobot kering per hektare per tahun dengan stok karbon mencapai 7,7 ton karbon per hektare per tahun.
Selama proses dekomposisi, biomassa tersebut meningkatkan kandungan unsur hara tanah, terutama nitrogen, fosfor, kalium, dan karbon organik. Peningkatan unsur hara ini berperan dalam memperbaiki kesuburan tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman kelapa sawit.
Peran Nephrolepis biserrata juga terlihat dalam pengelolaan air di kebun sawit. Penanaman tanaman penutup tanah ini terbukti mampu mengurangi defisit air tanah pada musim kemarau atau pada periode curah hujan rendah. Penelitian mencatat bahwa keberadaan N. Biserrata dapat menekan defisit air tanah lebih dari 36 persen. Kondisi ini membantu menjaga ketersediaan air bagi kelapa sawit dan mengurangi tekanan stres air pada tanaman.
Efektivitas Nephrolepis biserrata semakin kuat ketika dikombinasikan dengan penerapan teras gulud sebagai bangunan konservasi. Penelitian yang dilakukan pada 2016 di perkebunan kelapa sawit PTPN VII di Lampung Selatan menunjukkan bahwa kombinasi teras gulud dan penanaman N. Biserrata secara signifikan mengurangi aliran permukaan.
Pada lahan yang menggunakan teras gulud dan ditanami N. Biserrata, aliran permukaan berkurang hingga lebih dari 95 persen. Bahkan pada lahan tanpa teras gulud, penanaman N. Biserrata tetap mampu menekan aliran permukaan secara signifikan.
Pengurangan aliran permukaan berdampak langsung pada pertumbuhan kelapa sawit. Ketersediaan air tanah yang lebih stabil mendorong pertumbuhan vegetatif tanaman, terutama pada peningkatan jumlah pelepah dan penurunan jumlah pelepah patah atau sengkleh. Dengan kondisi air yang lebih terjaga, tanaman kelapa sawit memiliki lingkungan tumbuh yang lebih mendukung untuk berproduksi secara optimal.
Temuan penelitian ini menegaskan bahwa Nephrolepis biserrata memiliki nilai strategis dalam pengelolaan kebun kelapa sawit. Pemanfaatannya sebagai tanaman penutup tanah tidak hanya mendukung konservasi tanah dan air, tetapi juga sejalan dengan prinsip ISPO dalam pemeliharaan tanaman dan peningkatan produktivitas secara berkelanjutan.
Gulma yang selama ini dianggap tidak bernilai justru terbukti menjadi bagian penting dari solusi pengelolaan kebun sawit yang lebih efisien dan berkelanjutan.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *