
sawitsetara.co - JAKARTA — Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit petani skema plasma dan swadaya masih menunjukkan kesenjangan pada pekan 21–27 September 2026. Berdasarkan laporan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), rata-rata harga TBS plasma di 22 provinsi mencapai Rp3.586 per kilogram, sedangkan harga TBS petani swadaya Rp3.015 per kilogram.
Dengan demikian, terdapat selisih Rp571 per kilogram atau sekitar 15,9 persen antara kedua skema tersebut. Harga plasma tercatat lebih tinggi dibandingkan swadaya di seluruh 22 provinsi yang memiliki data lengkap.
Laporan bertajuk Laporan Harga TBS Kelapa Sawit Periode 21–27 September 2026: Skema Plasma & Swadaya – 22 Provinsi itu diterbitkan APKASINDO pada 28 September 2026. Data tersebut merupakan rekapitulasi harga penetapan Dinas Perkebunan provinsi yang dihimpun DPP APKASINDO.
Di tingkat provinsi, Sumatera Barat mencatat harga TBS plasma tertinggi, yakni Rp3.987 per kilogram. Berikutnya Sumatera Utara Rp3.971, Riau Rp3.948, Jambi Rp3.908, dan Sumatera Selatan Rp3.851 per kilogram.
Sementara itu, harga TBS swadaya tertinggi tercatat di Kalimantan Timur sebesar Rp3.450 per kilogram, disusul Jambi Rp3.410, Lampung Rp3.369, Kalimantan Tengah Rp3.350, dan Riau Rp3.280 per kilogram.
Perbedaan harga paling lebar terjadi di Papua Barat. Harga TBS plasma di provinsi tersebut mencapai Rp3.239 per kilogram, sedangkan swadaya hanya Rp1.900 per kilogram. Selisihnya mencapai Rp1.339 per kilogram.
Kesenjangan besar juga tercatat di Papua dengan selisih Rp951 per kilogram dan Gorontalo Rp906 per kilogram. Sebaliknya, Lampung mencatat perbedaan paling kecil, yakni Rp92 per kilogram.
Riau Rp3.948 per Kilogram
Untuk Riau, harga TBS plasma pada periode tersebut tercatat Rp3.948 per kilogram. Angka itu turun 0,7 persen dibandingkan pekan sebelumnya.
Adapun harga TBS swadaya Riau berada di level Rp3.280 per kilogram atau turun 3,8 persen. Dengan demikian, selisih harga antara plasma dan swadaya mencapai Rp668 per kilogram.
Riau juga termasuk tiga provinsi yang masuk daftar pantauan APKASINDO pada pekan berikutnya karena harga plasma mengalami penurunan selama setidaknya dua pekan berturut-turut. Dua provinsi lainnya adalah Sumatera Utara dan Jambi. APKASINDO menyebut pemicunya perlu ditelaah bersama, antara lain terkait rendemen, pasokan, maupun harga CPO.
Harga Plasma Masih di Atas Estimasi Paritas
Laporan APKASINDO juga membandingkan harga TBS dengan estimasi paritas berdasarkan harga tender CPO domestik KPBN, rendemen 21 persen, dan indeks K 85 persen. Dari perhitungan tersebut, estimasi paritas TBS berada di Rp2.731 per kilogram.
Rata-rata harga TBS plasma sebesar Rp3.586 per kilogram berada 31,3 persen di atas estimasi tersebut. Sementara harga TBS swadaya Rp3.015 per kilogram berada 10,4 persen di atas estimasi paritas. APKASINDO menegaskan angka tersebut merupakan perhitungan indikatif untuk bahan telaah, bukan penetapan harga.
Di pasar CPO, laporan mencatat harga CPO Indonesia berdasarkan KPBN sebesar Rp15.300 per kilogram. Harga CPO Bursa ICDX tercatat Rp16.200, CPO Malaysia Rp19.681, sedangkan CPO CIF Rotterdam setara Rp26.965 per kilogram.
Untuk empat pekan mendatang, laporan memproyeksikan harga TBS plasma bergerak naik secara bertahap dari Rp3.597 per kilogram pada pekan pertama menjadi Rp3.611 per kilogram pada pekan keempat. Harga swadaya diproyeksikan dari Rp3.041 menjadi Rp3.052 per kilogram.
APKASINDO memperkirakan tren harga secara nasional cenderung naik sekitar 0,7 persen dalam empat pekan. Namun, laporan menegaskan proyeksi tersebut bersifat statistik dan indikatif, bukan jaminan harga.
Adapun harga TBS resmi tetap ditetapkan secara mingguan oleh Tim Penetapan Harga TBS Dinas Perkebunan provinsi. Pergerakannya dipengaruhi harga CPO dunia, nilai tukar, rendemen, kebijakan pemerintah, serta faktor di tingkat perkebunan seperti jarak angkut, mutu buah, dan umur tanaman.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *