KONSULTASI
Logo

Ekspor Sawit Melonjak 64 Persen pada Juni 2026, Stok Nasional Tertekan

28 Agustus 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
Ekspor Sawit Melonjak 64 Persen pada Juni 2026, Stok Nasional Tertekan

sawitsetara.co - Industri kelapa sawit Indonesia mencatat kinerja ekspor yang melonjak tajam pada Juni 2026. Volume ekspor produk sawit menembus 3,275 juta ton, meningkat 64,08 persen dibandingkan Mei 2026 yang berada di level 1,996 juta ton.

Lonjakan ekspor tersebut terjadi ketika produksi nasional sebenarnya juga mengalami peningkatan. Namun, kenaikan konsumsi domestik dan ekspor yang lebih besar membuat stok minyak sawit Indonesia pada Juni berada di bawah tekanan.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat produksi CPO pada Juni 2026 mencapai 4,823 juta ton, naik dari 4,165 juta ton pada Mei. Produksi palm kernel oil (PKO) juga meningkat menjadi 449 ribu ton dari sebelumnya 387 ribu ton.

Dengan demikian, total produksi CPO dan PKO pada Juni mencapai 5,277 juta ton, meningkat 8,59 persen dibandingkan Mei yang sebesar 4,552 juta ton.

Secara kumulatif, sepanjang Januari-Juni 2026 produksi CPO dan PKO mencapai 30,284 juta ton. Angka tersebut tumbuh 15,82 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 27,889 juta ton.

Di sisi lain, konsumsi domestik juga terus meningkat. Pada Juni 2026, konsumsi dalam negeri mencapai 2,201 juta ton atau naik 5,92 persen dibandingkan Mei sebesar 2,078 juta ton.

Sektor biodiesel menjadi penyumbang terbesar kenaikan konsumsi domestik. Konsumsi biodiesel pada Juni mencapai 1,131 juta ton, meningkat dari 1,035 juta ton pada Mei.

Konsumsi untuk pangan juga meningkat menjadi 878 ribu ton dari 856 ribu ton. Sementara konsumsi oleokimia naik menjadi 192 ribu ton dari 187 ribu ton.

apkasindo

Secara kumulatif Januari-Juni 2026, konsumsi domestik mencapai 12,994 juta ton atau tumbuh 5,48 persen dibandingkan periode yang sama 2025 sebesar 12,272 juta ton.

Ekspor CPO Melompat Hampir 10 Kali Lipat

Kenaikan paling mencolok terjadi pada sektor ekspor.

GAPKI mencatat total ekspor produk sawit pada Juni 2026 mencapai 3,275 juta ton. Selain naik 64,08 persen secara bulanan, komponen ekspor CPO mencatat lonjakan luar biasa, yakni dari hanya 31 ribu ton pada Mei menjadi 335 ribu ton pada Juni atau melonjak sekitar 980 persen.

Ekspor olahan minyak sawit juga meningkat dari 1,423 juta ton menjadi 2,357 juta ton atau naik sekitar 66 persen. Sementara ekspor olahan minyak inti sawit meningkat dari 55 ribu ton menjadi 116 ribu ton, atau sekitar 110 persen.

Kinerja ekspor tersebut turut mengerek nilai devisa. Nilai ekspor produk sawit pada Juni mencapai US$3,92 miliar, naik 57,45 persen dibandingkan Mei yang sebesar US$2,49 miliar.

Menariknya, kenaikan nilai ekspor terjadi meskipun harga rata-rata CPO justru mengalami penurunan. Harga rata-rata ekspor CPO pada Juni tercatat US$1.174 per ton, turun 4,32 persen dari US$1.227 per ton pada Mei.

Penurunan tersebut sejalan dengan harga CPO di pasar MDEX yang turun dari US$1.134 per ton pada Mei menjadi US$1.107 per ton pada Juni.

Artinya, peningkatan nilai ekspor Juni lebih banyak ditopang oleh lonjakan volume pengiriman, bukan kenaikan harga komoditas.

apkasindo

China Jadi Salah Satu Pasar yang Menguat

Peningkatan ekspor pada Juni terjadi di sejumlah pasar utama Indonesia.

Ekspor ke India melonjak 396 persen menjadi 328 ribu ton dibandingkan Mei. China menyerap 256 ribu ton atau naik 67 persen, Pakistan 132 ribu ton atau naik 88 persen, dan Malaysia 129 ribu ton atau meningkat 149 persen.

Kenaikan juga terjadi pada ekspor ke Afrika yang mencapai 114 ribu ton atau naik 45 persen, Bangladesh 98 ribu ton atau meningkat 133 persen, serta Amerika Serikat sebesar 85 ribu ton atau naik 64 persen.

Sebaliknya, ekspor ke Rusia turun 20 persen menjadi 25 ribu ton dan ekspor ke Uni Eropa 27 turun 2 persen menjadi 4 ribu ton.

Jika dilihat secara kumulatif Januari-Juni 2026, China menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan paling kuat. Ekspor ke China tercatat 31 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama 2025.

Kenaikan juga terjadi pada ekspor ke Malaysia sebesar 13 persen, Rusia 7 persen, Afrika 4 persen, dan Bangladesh 4 persen.

Sementara itu, ekspor kumulatif ke Amerika Serikat turun 8 persen, India turun 7 persen, Pakistan turun 7 persen, dan Uni Eropa 27 turun 1 persen.

Devisa Sawit Tembus US$19,45 Miliar

Secara keseluruhan, sepanjang Januari-Juni 2026 ekspor produk sawit Indonesia mencapai 16,595 juta ton. Volume tersebut meningkat 5,79 persen dibandingkan periode yang sama 2025 sebesar 15,686 juta ton.

apkasindo

Nilai ekspornya bahkan mencapai US$19,45 miliar, naik 12,57 persen dibandingkan US$17,277 miliar pada Januari-Juni 2025.

Kinerja tersebut ditopang oleh harga rata-rata CPO yang relatif lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Rata-rata harga ekspor CPO selama enam bulan pertama 2026 mencapai US$1.132 per ton, meningkat dibandingkan rata-rata Januari-Juni 2025 sebesar US$1.088 per ton.

Stok Akhir Juni 2,84 Juta Ton

Meski produksi meningkat dan ekspor memberikan kontribusi besar terhadap devisa, peningkatan arus keluar produk sawit membuat stok nasional tetap perlu dicermati.

Dengan stok awal tahun sebesar 2,068 juta ton, produksi Januari-Juni 2026 sebesar 30,284 juta ton, konsumsi domestik 12,994 juta ton, ekspor 16,595 juta ton, serta impor 32 ribu ton, stok akhir Juni tercatat sebesar 2,844 juta ton.

Data tersebut menunjukkan bahwa industri sawit Indonesia memasuki pertengahan 2026 dengan kombinasi produksi yang tumbuh kuat, konsumsi domestik yang meningkat, dan ekspor yang kembali agresif.

Khususnya setelah konsumsi biodiesel terus membesar, dinamika stok menjadi semakin penting karena minyak sawit harus memenuhi dua kebutuhan sekaligus: menjaga pasokan energi domestik melalui biodiesel dan mempertahankan daya saing ekspor Indonesia di pasar global.

Dengan produksi yang tumbuh 15,82 persen secara tahunan dan ekspor yang naik 5,79 persen pada semester pertama, industri sawit Indonesia masih menunjukkan fondasi yang kuat. Namun, perkembangan stok, konsumsi biodiesel, serta pergerakan permintaan negara-negara tujuan ekspor akan menjadi faktor penting yang menentukan arah pasar sawit pada paruh kedua 2026.


Berita Sebelumnya
Petani Harus Jadi Bagian Utama Industri Sawit

Petani Harus Jadi Bagian Utama Industri Sawit

Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Ditjenbun, Kementerian Pertanian, Dr. Iim Muharam, S.P., M.P., mengatakan petani harus menjadi bagian utama dalam transformasi industri kelapa sawit. Pemerintah, kata dia, perlu membangun ekosistem yang membuat petani lebih produktif, sejahtera, profesional, dan terintegrasi dengan rantai bisnis sawit.

27 Agustus 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *