KONSULTASI
Logo

Gen Z Harus Jadi Pejuang Masa Depan Sawit Indonesia, Jangan Hanya Jadi Penonton

14 Agustus 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Gen Z Harus Jadi Pejuang Masa Depan Sawit Indonesia, Jangan Hanya Jadi Penonton

sawitsetara.co - JAKARTA — Industri kelapa sawit Indonesia membutuhkan regenerasi. Generasi penerus milenial alias Generasi Z (gen z) di kawasan pedesaan sawit dinilai perlu mengambil peran lebih besar agar sektor yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi nasional itu tetap berkembang di tengah perubahan zaman.

Pemerhati Sawit DPP APKASINDO, Dermawan Harry Oetomo, mengatakan sawit telah memberikan nilai tambah bagi negara sekaligus masyarakat di 25 provinsi dan 167 kabupaten/kota di Indonesia.

Menurut dia, manfaat ekonomi tersebut semakin terasa melalui berbagai program yang menyentuh langsung masyarakat sawit, mulai dari Program Beasiswa, Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), hingga pembangunan sarana dan prasarana.

“SAWIT (Sumberdaya Alam Wujudkan Indonesia Terbarukan) sudah secara ekonomi membuktikan memberikan nilai tambah baik bagi kepentingan negara maupun rakyat Indonesia,” kata Dermawan, dalam keterangannya kepada sawitsetara.co, Jumat (14/8/2026).

DPP

Meski memiliki kontribusi besar, Dermawan menilai pembangunan industri sawit nasional masih membutuhkan arah kebijakan yang lebih terintegrasi. Ia menyoroti munculnya sejumlah regulasi yang dinilai belum sepenuhnya memiliki dasar perencanaan jangka panjang.

Menurut dia, persoalan tersebut berkaitan dengan belum adanya Grand Design of Palm Oil yang dapat menjadi acuan bersama dalam mengembangkan industri sawit dari hulu hingga hilir.

“Bila dilakukan kajian secara akademik ini akibat dari ketiadaan Grand Design of Palm Oil, sehingga menciptakan semacam gurita sistem operasi yang terkadang amburadul arahnya,” ujarnya.

Di tengah persoalan kebijakan tersebut, tantangan baru juga datang dari perubahan teknologi. Era globalisasi dan digitalisasi membuat sektor perkebunan harus semakin terbuka terhadap inovasi. Kondisi ini sekaligus menjadi peluang untuk menarik generasi muda masuk lebih dalam ke industri sawit.

DPP

Dermawan menilai generasi penerus milenial tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai penerus lahan dan usaha perkebunan. Gen Z perlu dibekali pendidikan, kemampuan teknologi, manajemen, serta pemahaman terhadap perkembangan industri global.

Perubahan tersebut, kata dia, akan berlangsung secara perlahan tetapi pasti dan turut membentuk pola pikir generasi muda. Karena itu, kawasan pedesaan sawit harus menjadi ruang bagi tumbuhnya sumber daya manusia yang mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah.

“Sudah saatnya pemerintah Indonesia juga berhati-hati pada era globalisasi dan era digitalisasi yang didukung kemajuan dari inovasi dan transformasi teknologi kekinian,” kata Dermawan.

DPP

Ia berharap pemerintah bersama pelaku industri dan organisasi petani memberikan ruang yang lebih besar bagi gen z untuk terlibat dalam pembangunan sawit. Regenerasi petani dinilai bukan sekadar menggantikan generasi lama, melainkan menyiapkan pelaku baru dengan kemampuan yang sesuai tuntutan zaman.

Dengan sumber daya alam yang besar, dukungan program pemerintah, serta perkembangan teknologi, kawasan pedesaan sawit dinilai memiliki peluang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi sekaligus tempat lahirnya generasi baru perkebunan Indonesia.

Bagi Dermawan, generasi penerus milenial harus berani mengambil posisi sebagai bagian dari masa depan sawit nasional.

Slow but sure merombak pola pikir atau mindset yang semakin mencerdaskan anak bangsa sebagai generasi penerus bangsa Indonesia di dunia sawit yang siap menerima sebagai pejuang milenial yang memiliki kecerdasan dan SDM canggih,” tuturnya.

Tags:

Berita SawitSawitkelapa sawit

Berita Sebelumnya
Minyak Sawit Merah: Superfood dari Sawit yang Berpotensi Lawan Stunting dan Gerakkan Ekonomi Desa

Minyak Sawit Merah: Superfood dari Sawit yang Berpotensi Lawan Stunting dan Gerakkan Ekonomi Desa

Guru Besar Fakultas Teknik dan Teknologi Pertanian IPB University, Prof. Endang Prangdimurti, mengatakan minyak sawit merah memiliki kandungan tokoferol, tokotrienol, dan karotenoid yang relatif tinggi.

13 Agustus 2026Edukasi

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *