KONSULTASI
Logo

Kebijakan Tarif, dan Isu Keberlanjutan Memukul Ekspor Sawit

15 November 2025
AuthorIbnu
EditorIbnu
Kebijakan Tarif, dan Isu Keberlanjutan Memukul Ekspor Sawit
HOT NEWS

sawitsetara.co – BALI – Industri kelapa sawit Indonesia menunjukkan kinerja solid sepanjang Januari-Agustus 2025. Hal ini disampaikan dalam 21st Indonesia Palm Oil Conference and 2025 Price Outlook (IPOC 2025) yang digelar di Bali.

Para pemangku kepentingan menyoroti peningkatan produksi, konsumsi, serta ekspor, sekaligus menegaskan perlunya strategi menghadapi perubahan struktur permintaan global.

Ketua Bidang Luar Negeri Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Fadhil Hasan, menyampaikan bahwa produksi sawit nasional meningkat 13% dibanding periode yang sama tahun 2024, sementara konsumsi domestik naik 5%. Namun demikian, ia mencatat adanya ketidakseimbangan dalam pola ekspor.

"Beberapa pasar utama seperti Uni Eropa dan India mengalami penurunan, mencerminkan pasar global yang semakin terfragmentasi akibat kebijakan, tarif, dan regulasi keberlanjutan," ujar Fadhil dalam paparannya.


Sawit Setara Default Ad Banner

Fadhil menambahkan bahwa ekspor sawit Indonesia justru mengalami pemulihan signifikan, tumbuh 15% pada Januari-Agustus 2025. Penguatan ekspor terjadi terutama ke Rusia, Malaysia, dan Bangladesh.

Meski demikian, melemahnya ekspor ke Uni Eropa dan India tetap menjadi perhatian karena erat kaitannya dengan isu keberlanjutan dan regulasi deforestasi yang semakin ketat.

"Industri sawit kini dihadapkan pada tantangan yang lebih kompleks. Selain dinamika pasar, standar keberlanjutan di negara tujuan makin menentukan akses pasar kita," jelasnya.


Sawit Setara Default Ad Banner

Lebih lanjut, Fadhil memperkirakan harga minyak sawit dalam jangka pendek hingga kuartal pertama tahun 2026 akan tetap tinggi. Setelah itu, harganya akan berada di kisaran USD1.050-1.125 dolar/ton.

Sekedar catatan, ekspor sawit Indonesia pada tahun 2024 mengalami penurunan, baik dari segi volume maupun nilai. Total volume ekspor turun menjadi 29 juta ton dari 32 juta ton pada tahun 2023, sementara nilai ekspornya mencapai sekitar Rp440 triliun (USD27,76 miliar), turun dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp463 triliun (USD30,32 miliar). Penurunan ini disebabkan oleh menurunnya ekspor ke Tiongkok dan India, meskipun ekspor ke Pakistan dan Timur Tengah meningkat.



Berita Sebelumnya
Polemik Realisasi Kebun Plasma Sawit di Kalteng Masih Berlanjut, Sekda Minta Media Jadikan Headline Berita

Polemik Realisasi Kebun Plasma Sawit di Kalteng Masih Berlanjut, Sekda Minta Media Jadikan Headline Berita

Kepala Dinas Perkebunan Kalimantan Tengah (Kalteng), Rizky R Badjuri, memaparkan bahwa realisasi kebun plasma di provinsi tersebut pada periode 2021–2025 baru terealisasi 52,66 persen dari target 100 persen. Artinya, masih terdapat sekitar 47 persen kewajiban plasma yang belum ditunaikan perusahaan.

14 November 2025Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *