
sawitsetara.co - MIRI — Pekebun kecil kelapa sawit di Sarawak, Malaysia, didorong tidak hanya bergantung pada satu komoditas untuk menjaga ketahanan pendapatan. Diversifikasi tanaman dan hasil pertanian dinilai penting di tengah perubahan persyaratan keberlanjutan sawit serta tuntutan pasar global yang semakin kompleks.
Menteri Industri Makanan, Komoditas dan Pembangunan Regional Sarawak Dato Sri Dr Stephen Rundi Utom mengatakan perubahan standar keberlanjutan dari pasar internasional perlu direspons pekebun secara proaktif. Menurut dia, diversifikasi dapat menjadi salah satu cara memperkuat sumber pendapatan sekaligus menjaga daya saing pekebun.
“Industri kelapa sawit, dengan sistem rantai pasoknya yang menyeluruh, sangat rentan terhadap persaingan dari produsen minyak nabati global seperti kedelai, jagung, kanola, dan rapeseed,” kata Rundi dalam pidato pembukaan Annual Dinner ke-11 Dayak Oil Palm Planters Association of Sarawak (Doppa) di Miri, Sabtu (27/9/2026).
Pidato Rundi dibacakan Menteri Transportasi Sarawak Dato Sri Lee Kim Shin yang mewakilinya dalam acara tersebut. Menurut Rundi, diversifikasi tanaman tidak hanya membantu pekebun menghadapi persaingan di pasar global. Langkah itu juga dapat menciptakan sumber pendapatan yang lebih stabil dan kompetitif.
Dia mengatakan perubahan persyaratan keberlanjutan industri sawit, serta tuntutan pembeli dan pedagang internasional yang terus berkembang, membuat pekebun perlu memperkuat sumber pendapatan di luar kelapa sawit.
Sawit Jadi Penopang Ekonomi Sarawak
Di sisi lain, pemerintah Sarawak mencatat industri kelapa sawit tetap menjadi salah satu sektor penting bagi perekonomian negara bagian tersebut.
Saat ini sekitar 1,67 juta hektare lahan di Sarawak ditanami kelapa sawit. Dari luasan itu, sekitar 292.392 hektare dikelola oleh 56.677 pekebun kecil mandiri.
Kontribusi industri tersebut juga terlihat dari penerimaan pemerintah daerah. Industri sawit menyumbang sekitar RM801 juta melalui pajak penjualan negara bagian atas crude palm oil (CPO), palm kernel, dan palm kernel oil.
“Hal ini menjadikan industri kelapa sawit sebagai penyumbang pendapatan terbesar kedua bagi negara bagian setelah produk minyak bumi,” ujar Rundi.
Pada 2025, ekspor produk kelapa sawit dari Sarawak diperkirakan mencapai RM18,70 miliar.
Pekebun kecil juga memiliki peran penting dalam struktur ekonomi tersebut. Mereka menyumbang sekitar 15 persen dari total pendapatan yang dihasilkan industri sawit Sarawak.
Menurut Rundi, capaian itu menunjukkan posisi strategis sawit bagi Sarawak. Selama dua dekade terakhir, sektor perkebunan sawit turut mendorong peningkatan pendapatan dan kondisi sosial ekonomi masyarakat pedesaan, terutama melalui pengembangan perkebunan skala kecil.
Doppa Jadi Wadah Pekebun Dayak
Rundi juga menyoroti peran Dayak Oil Palm Planters Association of Sarawak (Doppa) dalam menghimpun pekebun sawit Dayak di Sarawak.
Annual dinner ke-11 organisasi tersebut dihadiri sekitar 600 pekebun kecil dari berbagai wilayah Sarawak. Menurut Rundi, jumlah peserta itu menunjukkan dukungan dan solidaritas pekebun terhadap kegiatan Doppa.
Dia menilai Doppa memiliki posisi penting sebagai wadah yang merepresentasikan kepentingan pekebun kecil Dayak di Sarawak.
Rundi meminta pekebun terus memperkuat industri sawit sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan Sarawak. Upaya tersebut perlu dilakukan bersamaan dengan kemampuan pekebun beradaptasi terhadap perubahan pasar dan tuntutan industri global.
Acara tersebut turut dihadiri Deputy Minister of Public Health, Housing and Local Government Sarawak Datuk Dr Penguang Manggil, Presiden Doppa Dr Napolean Ningkos, serta Ketua Panitia acara Councillor Peter Mering.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *