KONSULTASI
Logo

Produksi Sawit 2027 Terancam El Niño, Ekspor CPO Indonesia Bisa Susut 5 Juta Ton

2 November 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
Produksi Sawit 2027 Terancam El Niño, Ekspor CPO Indonesia Bisa Susut 5 Juta Ton

sawitsetara.co – Industri kelapa sawit nasional menghadapi tantangan besar pada 2027. Ancaman fenomena El Niño yang berpotensi menekan produksi hingga 3 juta ton, ditambah meningkatnya kebutuhan minyak sawit untuk memenuhi mandatori biodiesel B50, diperkirakan akan memperketat pasokan crude palm oil (CPO) Indonesia.

Bahkan, kondisi tersebut berpotensi memangkas volume ekspor CPO Indonesia hingga 5 juta ton pada tahun depan.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, mengungkapkan bahwa penerapan mandatori biodiesel B50 secara penuh pada 2027 diperkirakan membutuhkan sekitar 17,4 juta ton CPO.

Besarnya kebutuhan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi industri sawit. Pasalnya, produksi CPO nasional saat ini masih cenderung stagnan, sementara kebutuhan dalam negeri terus meningkat, baik untuk sektor pangan maupun energi.

“Saat ini produksi stagnan, sehingga kebutuhan dalam negeri sudah pasti diutamakan, baik untuk pangan dan energi,” kata Eddy.

Tekanan terhadap pasokan diperkirakan semakin besar apabila fenomena El Niño benar-benar berdampak terhadap produktivitas perkebunan sawit nasional.

HUT APKASINDO - TRYCOCIRCLE

Eddy memperkirakan, dampak El Niño dapat menyebabkan penurunan produksi sekitar 2 juta hingga 3 juta ton pada 2027. Jika kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan peningkatan konsumsi domestik untuk B50, ruang ekspor Indonesia dipastikan semakin terbatas.

“Kebutuhan untuk B50 apabila diimplementasikan penuh di tahun 2027 maka kebutuhannya sekitar 17,4 juta ton. Produksi tahun 2027 diperkirakan turun sekitar 2-3 juta ton akibat El Niño. Ini bisa menurunkan ekspor sekitar 5 juta ton,” ujarnya.

Situasi ini menunjukkan bahwa industri sawit Indonesia berpotensi menghadapi tekanan dari dua arah sekaligus, yakni penurunan pasokan akibat faktor iklim dan peningkatan kebutuhan bahan baku untuk program energi nasional.

Di tengah tantangan tersebut, peningkatan produktivitas perkebunan menjadi salah satu kunci untuk menjaga keberlanjutan produksi CPO nasional.

GAPKI pun mendorong pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat pelaksanaan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Program ini dinilai strategis karena perkebunan rakyat menguasai sekitar 41 persen dari total luas perkebunan sawit Indonesia.

Namun, Eddy menilai realisasi PSR hingga saat ini masih berjalan lambat. Padahal, peremajaan tanaman sawit yang sudah tua dan kurang produktif menjadi langkah penting untuk meningkatkan hasil panen petani sekaligus memperkuat pasokan CPO nasional.

“Meningkatkan produktivitas melalui Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) agar produksi meningkat. Karena program PSR berjalan sangat lambat sementara kepemilikan petani 41%,” tutur Eddy.

HUT APKASINDO - TRYCOCIRCLE

Percepatan PSR dinilai semakin mendesak di tengah ancaman perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan CPO untuk energi. Tanpa peningkatan produktivitas dari perkebunan rakyat, tekanan terhadap pasokan sawit nasional berpotensi semakin besar.

Dengan demikian, keberhasilan menjaga produksi sawit pada 2027 tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan baku untuk B50, tetapi juga pada kemampuan Indonesia meningkatkan produktivitas kebun, khususnya milik petani rakyat.


Berita Sebelumnya
Petani Jangan Selamanya Jadi Pemasok TBS, Pabrik Sawit Sendiri Jadi Agenda Strategis APKASINDO

Petani Jangan Selamanya Jadi Pemasok TBS, Pabrik Sawit Sendiri Jadi Agenda Strategis APKASINDO

Penguatan industri pengolahan berbasis perkebunan rakyat menjadi salah satu topik yang dibahas dalam sesi diskusi Resolusi Hulu dan Hilir pada Pertemuan Nasional Petani Kelapa Sawit Indonesia (Penas) III APKASINDO di Jakarta, Rabu (28/10/2026).

31 Oktober 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *