
sawitsetara.co - PINGGIR - Proses Seleksi Beasiswa SDM Sawit BPDP Tahun 2026 saat ini telah memasuki tahapan verifikasi daerah yang dilakukan secara berjenjang melalui Dinas Perkebunan Kabupaten sebelum diteruskan ke Dinas Perkebunan Provinsi. Namun, di tengah proses tersebut, muncul keluhan dari sejumlah peserta yang mengalami perubahan status administrasi secara mendadak.
Dua peserta asal Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, yakni Intan, binaan DPU APKASINDO Pinggir, dan Cristin Melisa, siswi SMA Negeri 5 Pinggir, mengaku mengalami perubahan status pada akun pendaftaran mereka.
Sebelumnya, keduanya telah dinyatakan Lulus Administrasi, yang ditandai dengan status akun berwarna hijau. Namun saat melakukan pengecekan ulang pada 13 Juli 2026 untuk melihat informasi tahapan seleksi berikutnya, keduanya dikejutkan karena status akun berubah menjadi “Perlu Perbaikan” dengan tampilan berwarna merah.


Kondisi tersebut kemudian dilaporkan kepada DPU APKASINDO Pinggir yang selama ini menjadi pendamping para peserta.

Ketua DPU APKASINDO Pinggir sekaligus Pengurus Bidang SDM DPW APKASINDO Riau, Rahmat W. Hidayat, mempertanyakan perubahan status tersebut.
“Tahun ini sungguh aneh. Anak yang sebelumnya sudah dinyatakan lulus administrasi saat seleksi administrasi, kok sekarang statusnya bisa berubah seperti ini,” ujar Rahmat yang akrab disapa Dayat.
Menurutnya, kejadian serupa juga pernah terjadi pada proses seleksi tahun sebelumnya.
“Ini merupakan kejadian kedua yang dialami anak petani dan pekerja sawit asal Pinggir. Tahun lalu juga ada peserta yang sudah dinyatakan lulus administrasi, tetapi ketika hendak melihat jadwal Tes Potensi Akademik (TPA), justru statusnya berubah menjadi tidak lulus administrasi. Ada apa sebenarnya dengan sistem dan proses verifikasi nasional dalam dua tahun terakhir?” katanya.
Rahmat mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi langsung dengan Koordinator Panitia Seleksi Nasional untuk meminta penjelasan. Namun setelah dilakukan pengecekan, akun peserta justru tidak lagi dapat diakses sehingga tidak diketahui bagian mana yang harus diperbaiki.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Koordinator Panitia Seleksi Nasional dan mengikuti arahan yang diberikan. Namun setelah dicek oleh tim IT kami, akun anak sudah tidak bisa diakses lagi sehingga tidak diketahui apa yang harus diperbaiki,” jelasnya.
Ia menilai persoalan tersebut berpotensi merugikan peserta karena perubahan status terjadi setelah proses pendaftaran dan verifikasi administrasi selesai.
“Yang menjadi persoalan adalah peserta sudah dinyatakan lulus administrasi dan hasilnya sudah diumumkan di website resmi panitia seleksi nasional. Namun setelah masa pendaftaran dan verifikasi selesai, peserta diminta melakukan perbaikan data tanpa dijelaskan apa yang harus diperbaiki, sementara akses pendaftaran sudah ditutup,” tegas Rahmat.
Atas kondisi tersebut, APKASINDO Pinggir meminta Panitia Seleksi Nasional mengambil langkah yang adil agar peserta tidak dirugikan akibat persoalan sistem maupun proses verifikasi.
“Kami memohon kepada Panitia Seleksi Nasional agar mengambil keputusan yang bijaksana. Jangan korbankan mimpi dan harapan anak-anak petani dan pekerja sawit yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Jika memang terdapat kekeliruan, hendaknya jangan dibebankan kepada peserta yang telah memenuhi seluruh persyaratan seleksi,” ujarnya.

Rahmat juga berharap evaluasi menyeluruh dilakukan terhadap tata kelola seleksi Beasiswa SDM Sawit BPDP agar proses seleksi di masa mendatang lebih profesional, transparan, dan memberikan kepastian kepada para peserta.
Selain itu, ia turut menyampaikan harapannya kepada Presiden Prabowo Subianto agar memberikan perhatian terhadap persoalan yang dialami para calon penerima beasiswa.
“Bapak Presiden Prabowo, kami sebagai masyarakat di kampung mengetahui bahwa Bapak sangat peduli dan selalu berpihak kepada masyarakat kecil, khususnya yang berada di pelosok desa. Kami berharap Bapak dapat memberikan perhatian agar proses seleksi Beasiswa SDM Sawit BPDP benar-benar berjalan adil, transparan, dan tidak menghilangkan kesempatan anak-anak petani sawit untuk meraih pendidikan yang lebih baik,” tutup Rahmat.



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *