KONSULTASI
Logo

Tulis Novel “Kisah Cinta Petani Sawit” untuk HUT APKASINDO ke-26, Prof. Agus Sardjono Turun ke Kebun Sawit Rakyat

8 Juni 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Tulis Novel “Kisah Cinta Petani Sawit” untuk HUT APKASINDO ke-26, Prof. Agus Sardjono Turun ke Kebun Sawit Rakyat
HOT NEWS

sawitsetara.co - KAMPAR – Guru Besar Program Ilmu Doktoral Fakultas Hukum Universitas Indonesia Prof. Dr. Agus Sardjono, S.H., M.H. bersama rombongan mengunjungi kebun kelapa sawit swadaya milik Ketua DPW APKASINDO Provinsi Riau K.H. Suher di Desa Petapahan, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau, Sabtu (6/6/2026).

Kunjungan ini spesial. Prof. Agus turun ke lapangan sebagai upaya mendalami kehidupan petani sawit, utamanya terkait proses pemanenan tandan buah segar (TBS) sebagai bahan menulis novel “Kisah Cinta Petani Sawit” yang tengah dipersiapkan dalam rangka memperingati HUT APKASINDO ke-26 pada Oktober mendatang.

Dalam kunjungan yang didampingi Ketua Umum DPP APKASINDO Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO. dan Sekwil APKASINDO Riau Dr. (cn) Djono A. Burhan, S.Kom, MMgt (Int. Bus), CC, CL. Tersebut, Prof. Agus diajak melihat secara langsung seluruh tahapan pemanenan kelapa sawit rakyat.

WhatsApp Image 2026-06-08 at 08.47.38.jpeg

Mulai dari proses pemangkasan pelepah, identifikasi tandan matang panen, penggunaan egrek untuk memanen tandan buah segar (TBS) pada tanaman yang lebih tinggi, pengangkutan TBS hingga kehidupan sosial budaya petani sawit.

Dr. Gulat mengatakan, kunjungan ini untuk memberikan gambaran nyata tentang kehidupan petani sawit kepada Prof. Agus dan Tim sebagai penulis. Menurutnya, pengalaman langsung di lapangan penting agar berbagai aktivitas dan dinamika kehidupan petani dapat tergambar secara lebih utuh dalam karya yang sedang disiapkan.

“Hari ini kita didatangi oleh guru besar, bapak kita, orang tua kita dari Program Ilmu Doktoral Fakultas Hukum Universitas Indonesia Prof. Dr. Agus Sardjono, S.H., M.H. didamping Ibu Prof, yang juga ikut merancang lahirnya novel ini,” kata Dr. Gulat.

“Berbeda dari biasanya di mana Prof. Agus biasanya bicara hukum perdata, sekarang beliau datang ke kebun kelapa sawit, dalam hal ini diawali ke kebun petani sawit swadaya untuk melihat langsung bagaimana proses pemanenan sawit dilakukan petani, termasuk juga dimensi sosial dan budaya petani” tambahnya.

Sawit Setara Default Ad Banner

Tidak hanya menyaksikan, Prof. Agus juga turun langsung mencoba pekerjaan yang sehari-hari dilakukan petani sawit. Ia bahkan mempraktikkan penggunaan egrek untuk memotong pelepah dan menjatuhkan TBS. Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa memanen sawit jauh lebih berat dibandingkan yang terlihat.

WhatsApp Image 2026-06-08 at 08.45.36.jpeg

“Saya senang sekali berkesempatan untuk bisa melihat langsung proses pemanenan kelapa sawit hari ini. Ketika saya sedang menulis, salah satu topiknya itu kan kebun, berhenti saya nulis, karena apa? Karen saya ingin merasakan ‘aroma’ tentang kebun sawit. Karena saya ingin merasakan secara langsung, saya kemudian menghubungi Pak Gulat, bagaimana kalau saya dikasih kesempatan untuk melihat kebun,” ujar Prof. Agus.

Saat mencoba menggunakan egrek, Prof. Agus mengaku cukup kewalahan. Menurutnya, apa yang terlihat mudah ketika dilakukan petani ternyata membutuhkan tenaga, keterampilan, dan pengalaman yang tidak sedikit.

Kesan serupa juga dirasakan sang istri, Purwani Eko Prihatin atau yang akrab disapa Ipung. Setelah melihat langsung proses panen dan menyaksikan suaminya mencoba menjadi pemanenan sawit, ia mengaku semakin menghargai kerja keras petani.

“Ternyata sulit sekali ya. Kalau lihat petani kayaknya mudah tinggal ditarik-tarik. Setelah lihat Bapak tadi mencoba, wah sulit. Wajar kalau minyak goreng sawit mahal. Ibu-ibu jangan mengeluh ya, karena memang susah sekali panennya,” ujarnya.

WhatsApp Image 2026-06-08 at 08.48.04.jpeg

Prof. Agus mengatakan bahwa kunjungan lapangan tersebut sangat membantu proses penulisan novel yang sedang dikerjakannya. Ia mengaku sempat mengalami kesulitan ketika harus menuliskan suasana kebun sawit karena belum pernah melihatnya secara langsung.

“Jadi mudah-mudahan apa yang saya tulis, walaupun sifatnya fiksi, isi dari ceritanya berdasarkan fakta dari apa yang saya lihat hari ini. Intinya sebenarnya adalah saya ingin memberikan wawasan kepada pembaca yang bukan petani sawit,” ujar Prof. Agus.

Menurutnya, novel tersebut akan lebih banyak menyasar masyarakat umum yang belum mengenal kehidupan petani sawit secara dekat, termasuk berbagai persoalan yang melingkupi sektor sawit seperti isu tenurial, konflik lahan, dan tantangan yang dihadapi petani dalam kehidupan sehari-hari.

Sawit Setara Default Ad Banner

Sementara itu, H. Suher menjelaskan bahwa kebun yang dikunjungi merupakan bagian dari Asosiasi Petani Swadaya Petapahan Maju Bersama yang juga merupakan anggota APKASINDO. Kelompok tani ini, kata dia, merupakan salah satu yang terbaik karena berhasil mendapatkan penghargaan pada 2018.

“Kebun ini merupakan bagian dari Asosiasi Petani Swadaya Petapahan Maju Bersama yang juga anggota APKASINDO. Kebun kami menjadi salah satu yang terbaik, di mana pada tahun 2018 mendapatkan predikat kebun dengan produktivitas tertinggi mencapai 36 ton per hektare per tahun yang penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Presiden Joko Widodo,” jelasnya.

WhatsApp Image 2026-06-08 at 08.49.02 (1).jpeg

Di akhir pertemuan, di atas kapal apung, Dr. Gulat menjelaskan kepada petani sawit, bahwa novel ini nantinya akan menjadi Hadiah HUT APKASINDO ke 26, "Yang menggambarkan bahwa petani sawit sangat mencintai NKRI dan ingin dicintai melalui regulasi yang lebih berpihak ke petani sawit," ujarnya mengakhiri briefing evaluasi kunjungan.

Tags:

APKASINDOHUT APKASINDO

Berita Sebelumnya
Dalam Rangka HUT ke-26, APKASINDO Luncurkan Novel Kisah Cinta Petani Sawit Indonesia

Dalam Rangka HUT ke-26, APKASINDO Luncurkan Novel Kisah Cinta Petani Sawit Indonesia

Novel ini diharapkan menjadi media yang mampu menggambarkan perjalanan, perjuangan, serta kehidupan sosial petani sawit Indonesia yang selama ini menjadi salah satu pilar penting pembangunan ekonomi nasional.

6 Juni 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *