
sawitsetara.co - PONTIANAK — Wakil Gubernur Kalimantan Barat (Wagub Kalbar) Krisantus Kurniawan mendorong pemanfaatan cangkang kelapa sawit sebagai sumber energi alternatif bagi PT PLN. Menurut dia, pemanfaatan limbah padat industri crude palm oil (CPO) itu bukan hanya dapat mendukung kebutuhan energi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah komoditas sawit di daerah.
Krisantus mengatakan pemanfaatan cangkang sawit sebagai energi dapat membuat nilai ekonomi dari komoditas tersebut tidak keluar dari Kalimantan Barat. Dengan produksi kelapa sawit yang besar, menurut dia, potensi limbah padat berupa cangkang perlu diolah menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat.
“Kalau cangkang sawit dapat dimanfaatkan sebagai alternatif energi untuk PLN, maka perputaran ekonominya bisa tetap berada di Kalimantan Barat,” kata Krisantus di Pontianak, Kamis (10/9/2026).
Menurut dia, pemanfaatan limbah sawit sebagai bahan energi dapat mendukung kebutuhan listrik sekaligus menjaga perputaran ekonomi dari komoditas perkebunan tetap berlangsung di Kalimantan Barat. Pemanfaatan tersebut juga dinilai sejalan dengan agenda hilirisasi karena potensi lokal tidak berhenti pada produk utama kelapa sawit.
Dampaknya, kata Krisantus, tidak hanya dirasakan oleh industri sawit. Aktivitas pemanfaatan cangkang sebagai sumber energi berpotensi menciptakan efek berantai terhadap berbagai sektor, mulai dari transportasi, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga kegiatan ekonomi masyarakat.
Ia menilai Kalimantan Barat memiliki modal besar untuk mengembangkan skema tersebut karena produksi kelapa sawit di provinsi itu cukup besar. Karena itu, limbah cangkang yang selama ini dihasilkan industri perlu dioptimalkan agar memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi daerah.
Industri Sawit Diminta Tak Abaikan Lingkungan
Di tengah dorongan pemanfaatan limbah sawit untuk energi, Krisantus mengingatkan pelaku industri agar aspek lingkungan tetap menjadi perhatian. Menurut dia, pengembangan industri sawit tidak boleh hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus memastikan kualitas lingkungan di sekitar kawasan industri tetap terjaga.
“Kita ingin industri tumbuh, tetapi lingkungan juga harus tetap terjaga. Karena itu, pengendalian emisi dan asap dari cerobong pabrik harus menjadi perhatian,” ujar dia.
Krisantus mendorong perusahaan sawit meningkatkan penggunaan teknologi pengendalian emisi serta menerapkan standar operasional yang lebih ramah lingkungan. Langkah tersebut dinilai penting agar pengembangan industri dan pemanfaatan potensi sawit berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan.
Menurut Krisantus, hilirisasi sawit idealnya tidak berhenti pada peningkatan nilai tambah. Pengembangan industri juga harus memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Pemprov Kalbar berharap pemanfaatan potensi lokal, termasuk limbah cangkang sawit sebagai energi alternatif, dapat memperkuat kemandirian energi sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi sektor perkebunan bagi masyarakat daerah,” katanya.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *