
sawitsetara.co - PEKANBARU — APKASINDO mendorong koperasi petani sawit mengembangkan usaha hilir melalui pembangunan pabrik pupuk organik dan pengolahan biomassa. Langkah ini dibahas bersama perwakilan koperasi dari tujuh provinsi dalam pertemuan di Kantor Perwakilan DPP APKASINDO di Pekanbaru, Sabtu (10/10/2026).
Koperasi yang hadir berasal dari Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Banten, Jambi, dan Sumatera Utara. Mereka didampingi Wakil Ketua Umum DPP APKASINDO Suhendrik dan Kepala Divisi Pembiayaan Syariah LPDB Kemenkop Saefuddin Zufri.
Rombongan disambut Ketua Umum DPP APKASINDO Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO, serta Sekretaris Jenderal DPP APKASINDO Dr. (cn) Djono A. Burhan, S.Kom., MMgt (Int. Bus), CC, CL.
Salah satu agenda utama pertemuan tersebut adalah menjajaki pengembangan pabrik pupuk organik. Koperasi juga membahas peluang mengolah biomassa sawit menjadi produk bernilai tambah, termasuk arang hayati atau biochar.
Dr. Gulat mengatakan pengembangan pupuk organik perlu memperhatikan biaya produksi dan harga jual. Menurut dia, produk yang dihasilkan harus terjangkau agar dapat digunakan petani untuk mendukung produktivitas kebun.
Ia menilai potensi pengembangan pupuk organik cukup besar. Namun, pembangunan fasilitas produksi harus mempertimbangkan kemampuan koperasi, ketersediaan bahan baku, dan kebutuhan pasar.
“Saya sangat yakin, itu pasti berhasil,” kata Dr. Gulat saat menyampaikan optimismenya terhadap pengembangan pupuk organik.
Ia menegaskan, keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh kemampuan membangun pabrik. Koperasi juga harus memastikan fasilitas yang dibangun dapat beroperasi dan menghasilkan produk dengan harga kompetitif.
Dr. Gulat mencontohkan, penggunaan pupuk harus memperhatikan ketepatan dosis, cara, jenis, waktu, dan harga. Menurut dia, pupuk yang terlalu mahal dapat menyulitkan petani meskipun memiliki manfaat bagi tanaman.
Karena itu, ia berharap kerja sama dengan Kementerian Koperasi dapat mempercepat realisasi pengembangan pabrik pupuk organik di sejumlah daerah.
Sementara itu, Suhendrik menjelaskan beberapa koperasi telah menyampaikan rencana pengembangan usaha. Koperasi dari Kalimantan Timur, misalnya, berencana membangun pabrik pupuk organik dengan mengadopsi teknologi yang telah dikembangkan perusahaan penyedia pupuk.
Suhendrik mengatakan koperasi tersebut memiliki kegiatan usaha memasok TBS ke pabrik kelapa sawit. Hubungan dengan rantai pasok sawit itu menjadi salah satu modal untuk mengembangkan usaha yang berkaitan dengan kebutuhan perkebunan.
Selain Kalimantan Timur, potensi pengembangan pabrik pupuk organik juga dibahas untuk Kalimantan Tengah dan Kalimantan Utara. Sementara itu, koperasi dari daerah lain menjajaki pengembangan usaha berdasarkan potensi dan kebutuhan masing-masing.
“Memang ada beberapa potensi yang bisa dilakukan untuk pengembangan kelapa sawit,” kata Suhendrik. Ia berharap kerja sama antarkoperasi dan APKASINDO dapat mempercepat realisasi rencana tersebut.
Dari sisi pembiayaan, Kepala Divisi Pembiayaan Syariah LPDB Kemenkop Saefuddin Zufri mengatakan pihaknya terbuka mendukung usaha produktif koperasi. Pembangunan pabrik pupuk organik dan pengolahan biomassa menjadi salah satu peluang yang dapat dipertimbangkan.
“Selama itu mendukung bisnis koperasi, di sinilah kami bisa masuk,” ujar Saefuddin.
Ia menjelaskan, pengajuan pembiayaan perlu disertai perhitungan investasi dan model bisnis yang jelas. Koperasi harus memperhitungkan kebutuhan mesin, ketersediaan bahan baku, biaya operasional, serta potensi pendapatan dari produk yang dihasilkan.
Saefuddin juga membuka peluang pendampingan bagi koperasi yang masih membutuhkan penguatan administrasi dan perencanaan bisnis. Menurut dia, kelayakan usaha harus menjadi dasar sebelum pembiayaan diberikan.
Sekretaris Jenderal DPP APKASINDO Djono A. Burhan mendorong agar potensi usaha yang dibahas dalam pertemuan tersebut ditindaklanjuti melalui koordinasi antarpihak. Ia menilai kesiapan koperasi dan kejelasan rencana usaha menjadi bagian penting dalam mempercepat realisasi kerja sama.
Pengembangan pabrik pupuk organik dan pengolahan biomassa diharapkan tidak hanya menghasilkan produk bernilai tambah, tetapi juga memperkuat posisi koperasi dalam rantai usaha sawit.
Melalui pengembangan tersebut, koperasi berpeluang membangun sumber pendapatan baru sekaligus membantu memenuhi kebutuhan sarana produksi perkebunan. APKASINDO berharap rencana yang dibahas dapat berlanjut ke tahap perencanaan teknis, penghitungan investasi, dan pelaksanaan usaha.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *