KONSULTASI
Logo

B50 Diproyeksi Dongkrak Permintaan CPO, Analis Nilai Dampaknya ke Emiten Tak Instan

31 Juli 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorEditor
B50 Diproyeksi Dongkrak Permintaan CPO, Analis Nilai Dampaknya ke Emiten Tak Instan

sawitsetara.co - JAKARTA – Penerapan mandatori biodiesel B50 pada semester II 2026 diperkirakan akan meningkatkan permintaan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di dalam negeri. Namun, kebijakan tersebut belum tentu langsung tercermin pada kenaikan pendapatan maupun laba perusahaan-perusahaan sawit yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Analis CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI), Rut Yesika Simak dan Bob Setiadi, menilai implementasi B50 menjadi sentimen positif bagi industri sawit karena pemerintah telah menaikkan alokasi biodiesel nasional. Kendati demikian, mereka mengingatkan realisasi manfaat kebijakan tersebut masih bergantung pada sejumlah faktor pelaksanaan di lapangan.

Pemerintah menetapkan alokasi biodiesel B50 sebesar 16,75 juta kiloliter untuk semester II 2026 melalui Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 271 Tahun 2026 yang diterbitkan pada 29 Juli 2026.

Apj

Dari jumlah tersebut, sebanyak 8,24 juta kiloliter dialokasikan untuk segmen public service obligation (PSO), meningkat dibandingkan skema B40 yang sebesar 7,45 juta kiloliter. Sementara alokasi untuk segmen non-PSO mencapai 8,51 juta kiloliter, naik dari sebelumnya 8,19 juta kiloliter.

CGSI mencatat sekitar 68 persen alokasi biodiesel nasional masih dikuasai lima kelompok usaha besar, yaitu Wilmar, Apical, KPN, Musim Mas, serta Sinar Mas/Golden Agri Resources.

Di antara emiten yang tercatat di BEI, PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) memperoleh kenaikan alokasi biodiesel terbesar, sekitar 13 persen menjadi 810 ribu kiloliter. Adapun PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) tetap menjadi emiten dengan alokasi biodiesel terbesar.

Menurut CGSI, tambahan kuota tersebut membuka peluang bagi TBLA untuk memperoleh peningkatan volume penjualan paling besar dibandingkan emiten lainnya.

Apj

Sementara itu, perusahaan perkebunan hulu yang tidak memperoleh alokasi biodiesel secara langsung, seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), diperkirakan tetap memperoleh manfaat melalui potensi kenaikan harga CPO.

Meski begitu, CGSI mengingatkan besarnya alokasi biodiesel tidak otomatis meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Realisasi penyaluran biodiesel, kecukupan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), hingga kelancaran implementasi program masih menjadi faktor penentu.

CGSI juga mempertahankan rekomendasi neutral untuk sektor perkebunan. Menurut mereka, prospek positif dari implementasi B50 dan peluang kenaikan harga CPO akibat risiko El Niño masih dibayangi ketidakpastian implementasi Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) serta potensi meningkatnya persediaan CPO pada paruh kedua tahun ini.

“Meski El Niño berpotensi mendorong kenaikan harga CPO dengan mengganggu produksi, dampaknya biasanya baru baru terlihat setelah beberapa waktu,” tulis analis CGSI.

Apj

Di tengah berbagai faktor tersebut, CGSI tetap menempatkan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) sebagai pilihan utama di sektor perkebunan. Perusahaan dinilai memiliki produktivitas kebun yang tinggi, posisi kas bersih yang kuat, serta potensi imbal hasil dividen yang menarik.

Ke depan, sektor perkebunan diperkirakan memperoleh sentimen positif apabila harga CPO terus menguat, implementasi DSI semakin jelas, serta realisasi penyerapan biodiesel melampaui ekspektasi.

Sebaliknya, pelemahan ekspor, meningkatnya persediaan CPO, dan potensi tambahan pungutan dalam skema DSI dinilai masih menjadi risiko yang dapat membatasi prospek industri sawit sepanjang sisa tahun ini.

Tags:

B50Biosolar B50

Berita Sebelumnya
Harga TBS Mitra Plasma Sumut Turun Tipis, Usia 10–20 Tahun Dipatok Rp3.962,27/Kg

Harga TBS Mitra Plasma Sumut Turun Tipis, Usia 10–20 Tahun Dipatok Rp3.962,27/Kg

Tim Penetapan Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit Produksi Mitra Plasma Provinsi Sumatera Utara menetapkan harga TBS untuk periode 29 Juli–4 Agustus 2026. Penetapan dilakukan berdasarkan rapat tim pada 29 Juli 2026 di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara.

30 Juli 2026Harga TBS

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *