
sawitsetara.co - JAKARTA — Pemerintah mendorong perluasan Program Beasiswa Kelapa Sawit dengan menaikkan jumlah penerima dari sekitar 5.000 mahasiswa menjadi 20.000 mahasiswa. Perluasan ini diarahkan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia yang menopang industri kelapa sawit nasional.
Dorongan tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto seiring dengan penguatan kerja sama antara Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan perguruan tinggi penyelenggara Program Beasiswa Kelapa Sawit.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan pemerintah ingin memastikan pengembangan industri sawit diikuti dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
“Pemerintah terus memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui program beasiswa yang didukung oleh BPDP. Dalam kesempatan ini, dilakukan juga penandatanganan kerja sama BPDP dengan 9 (sembilan) perguruan tinggi dari total 42 perguruan tinggi yang tersebar dari Aceh hingga Papua yang akan menjadi mitra BPDP dalam pelaksanaan Program Beasiswa Kelapa Sawit,” ujar Haryo dalam penandatanganan kerja sama BPDP dengan perguruan tinggi di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Sebanyak sembilan perguruan tinggi menandatangani kerja sama dalam kesempatan tersebut. Mereka adalah Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY STIPER), Institut Pertanian STIPER Yogyakarta (INSTIPER), Institut Teknologi Sawit Indonesia (ITSI), Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi (CWE), Politeknik Kampar, Politeknik LPP Yogyakarta, Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro, Universitas Borobudur, dan Universitas Koperasi Indonesia (ΙΚΟΡΙΝ).
Kesembilan kampus tersebut merupakan bagian dari 42 perguruan tinggi yang akan menjadi mitra BPDP dalam pelaksanaan program beasiswa. Mitra pendidikan tersebut tersebar dari Aceh hingga Papua.
Menurut Haryo, perluasan penerima beasiswa menjadi 20.000 mahasiswa merupakan arahan langsung Airlangga untuk memperbesar basis tenaga terdidik di sektor kelapa sawit.
“Menko Airlangga juga mendorong peningkatan jumlah penerima beasiswa dari sekitar 5.000 mahasiswa menjadi 20.000 mahasiswa guna memperkuat kapasitas SDM untuk mendukung industri kelapa sawit nasional,” kata Haryo.
Program Beasiswa Kelapa Sawit menjadi salah satu instrumen pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor perkebunan. Program ini diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri, tetapi juga memperkuat kompetensi di tengah perkembangan teknologi, produktivitas, dan hilirisasi sawit.
PSR Capai Rp2,42 Triliun
Di sektor perkebunan, pemerintah juga mencatat perkembangan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Hingga Januari–Agustus 2026, realisasi PSR mencapai 40.484 hektare dengan dukungan dana sebesar Rp2,42 triliun.
Jika dihitung sejak program berjalan pada 2017 hingga Juli 2026, total realisasi PSR telah mencapai 427.441 hektare. Dana yang telah disalurkan mencapai Rp12,14 triliun.
Program peremajaan tersebut menjadi bagian dari kebijakan pemerintah untuk memperbaiki produktivitas perkebunan rakyat sekaligus memperkuat pasokan bahan baku industri sawit nasional.
Sementara itu, dari sisi perdagangan, volume ekspor kelapa sawit pada semester I 2026 mencapai 18,37 juta ton. Angka tersebut tumbuh 2,78 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Pemerintah menilai penguatan sumber daya manusia, peremajaan tanaman, dan peningkatan kinerja perdagangan perlu berjalan beriringan. Perluasan Program Beasiswa Kelapa Sawit hingga 20.000 penerima menjadi salah satu upaya menyiapkan tenaga terampil untuk menopang keberlanjutan industri sawit nasional.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *