KONSULTASI
Logo

BPDP Tantang Mahasiswa Cari Cara Dongkrak Produktivitas Sawit Tanpa Buka Lahan Baru

10 Agustus 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
BPDP Tantang Mahasiswa Cari Cara Dongkrak Produktivitas Sawit Tanpa Buka Lahan Baru


sawitsetara.co – JAKARTA – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menantang mahasiswa Indonesia untuk menghadirkan inovasi yang mampu meningkatkan produktivitas kelapa sawit, kakao, dan kelapa tanpa menambah luasan lahan. Tantangan tersebut menjadi fokus dalam Web Seminar Call for Proposal Lomba Riset Tingkat Mahasiswa Tahun 2026–2027, yang sekaligus membuka kesempatan bagi perguruan tinggi untuk menawarkan solusi atas berbagai persoalan perkebunan rakyat.

Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, mengatakan keterlibatan generasi muda menjadi penting karena sektor perkebunan membutuhkan gagasan baru yang tidak hanya kuat secara akademis, tetapi juga dapat diterapkan di lapangan.

Dalam pembukaan webinar, Alfansyah menegaskan bahwa riset mahasiswa diharapkan mampu menjawab kebutuhan nyata industri sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Mahasiswa memiliki ruang yang sangat besar untuk menghadirkan perspektif baru dan solusi yang berani. Melalui lomba ini, kami berharap lahir inovasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga dapat menjawab persoalan nyata serta meningkatkan kesejahteraan pekebun sawit, kakao, dan kelapa,” ujar Mohammad Alfansyah.

Program Lomba Riset Tingkat Mahasiswa merupakan bagian dari dukungan BPDP terhadap kegiatan penelitian dan pengembangan komoditas perkebunan. Melalui program tersebut, mahasiswa didorong menghasilkan gagasan yang kreatif, inovatif, aplikatif, dan memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut guna meningkatkan produktivitas, efisiensi, keberlanjutan, serta kesejahteraan pekebun.

Dalam webinar itu, anggota Tim Penilai Lomba Riset BPDP, Dr. Bandung Sahari, memaparkan bahwa tantangan terbesar industri perkebunan saat ini terletak pada peningkatan produktivitas perkebunan rakyat. Menurut dia, sekitar 41 persen areal perkebunan kelapa sawit dikelola oleh pekebun rakyat. Sementara itu, lebih dari 90 persen kebun kakao dan kelapa juga berada di tangan pekebun rakyat.

Besarnya porsi tersebut membuat peningkatan produktivitas menjadi faktor penentu masa depan industri perkebunan nasional. Namun, upaya menaikkan produksi tidak lagi dapat bertumpu pada pembukaan lahan baru karena harus sejalan dengan perlindungan lingkungan, pengendalian konversi lahan, dan komitmen pembangunan rendah karbon.

“Pertanyaan penting yang perlu dijawab melalui riset adalah bagaimana meningkatkan produktivitas sawit, kakao, dan kelapa tanpa menambah luasan lahan, sekaligus memastikan inovasi tersebut tetap terjangkau dan dapat diterapkan oleh pekebun rakyat,” ujar Bandung.

Ia menjelaskan, pada komoditas kelapa sawit, tantangan yang dihadapi pekebun rakyat masih berkisar pada keterbatasan akses terhadap benih unggul, pupuk, pembiayaan, praktik pembibitan, pengendalian penyakit, hingga penerapan praktik budidaya yang baik. Adapun pada komoditas kakao dan kelapa, persoalan yang muncul antara lain tanaman yang telah tua, dampak perubahan iklim, serangan organisme pengganggu tanaman, mutu hasil panen, serta keterbatasan akses terhadap teknologi dan pasar.

Karena itu, Bandung menilai proposal riset tidak cukup hanya menawarkan ide yang menarik. Menurut dia, setiap usulan penelitian harus berangkat dari persoalan nyata di lapangan, memiliki analisis kesenjangan yang kuat, menggunakan metodologi yang tepat, dan menawarkan solusi yang realistis untuk diterapkan.

Ruang inovasi yang dapat dikembangkan mahasiswa mencakup pengembangan varietas unggul yang tahan terhadap perubahan iklim, peningkatan kesehatan tanah, pemupukan presisi, pengendalian hama dan penyakit yang ramah lingkungan, pengelolaan air, mekanisasi, hingga pemanfaatan Internet of Things (IoT), kecerdasaan buatan (AI), dan data geospasial.

Selain itu, peluang riset juga terbuka pada aspek pascapanen, ketertelusuran rantai pasok, pemanfaatan limbah, ekonomi sirkular, pengurangan emisi gas rumah kaca, hingga penguatan kelembagaan dan kapasitas pekebun.

“Riset harus mampu menjadi jembatan antara pengetahuan di perguruan tinggi dan kebutuhan nyata industri serta pekebun. Ukuran keberhasilannya bukan hanya publikasi, melainkan juga seberapa besar solusi tersebut dapat memberikan dampak,” kata Bandung.

Sementara itu, Kepala Divisi Penyaluran Dana Riset BPDP, Rahmat Widiana, menjelaskan peserta lomba merupakan mahasiswa aktif jenjang sarjana maupun diploma dari perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia. Setiap tim terdiri atas tiga hingga lima mahasiswa dengan pendampingan seorang dosen pembimbing.

“Kami mencari proposal yang mampu menunjukkan dengan jelas persoalan yang ingin diselesaikan, kebaruan solusi yang ditawarkan, dan manfaat yang dapat dihasilkan. Gagasan yang baik perlu diterjemahkan menjadi rancangan riset yang terukur, realistis, serta memiliki peluang untuk diterapkan dan dikembangkan lebih lanjut,” ujar Rahmat.

Ia menambahkan, penilaian proposal meliputi analisis kesenjangan, kualitas dan kreativitas kegiatan riset, tingkat kebermanfaatan, serta prospek pengembangan hasil penelitian. Adapun ruang lingkup riset meliputi bidang budidaya, tanah dan lahan; pascapanen dan pengolahan; pangan dan kesehatan; bioenergi; biomaterial dan oleokimia; pengolahan limbah dan lingkungan; serta sosial, ekonomi, manajemen, bisnis, dan teknologi informasi.

Melalui penyelenggaraan Lomba Riset Tingkat Mahasiswa Tahun 2026–2027, BPDP berharap lahir inovasi yang mampu meningkatkan hasil per hektare, menekan biaya produksi, menjaga kesehatan ekosistem, meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, sekaligus memperkuat kesejahteraan pekebun rakyat.

Dengan fokus tersebut, BPDP menempatkan mahasiswa sebagai bagian dari upaya mencari terobosan agar kebun yang telah ada dapat menjadi lebih produktif, efisien, tangguh, dan berkelanjutan tanpa perlu membuka lahan baru.

Tags:

Berita Sawit

Berita Sebelumnya
PSR Bangka Tengah Capai 161,49 Hektare, Didukung BPDP pada 2026

PSR Bangka Tengah Capai 161,49 Hektare, Didukung BPDP pada 2026

Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, melaksanakan program Peremajaan Sawit Pekebun (PSR) seluas 161,49 hektare pada 2026.

7 Agustus 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *