KONSULTASI
Logo

Cangkang Sawit Berpotensi Jadi Biokokas, BRIN Ungkap Peluang Hilirisasi Limbah Perkebunan

12 Oktober 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Cangkang Sawit Berpotensi Jadi Biokokas, BRIN Ungkap Peluang Hilirisasi Limbah Perkebunan

sawitsetara.co - PONTIANAK — Limbah kelapa sawit berpeluang memasuki rantai industri metalurgi melalui pengembangan biokokas sebagai alternatif kokas batu bara. Inovasi ini dapat membuka pasar baru bagi hasil samping perkebunan sekaligus mendukung upaya menekan emisi karbon dalam pengolahan logam.

Potensi tersebut dipaparkan dalam webinar Diskusi Seputar Mineral Strategis Indonesia seri ke-10 yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Mineral (PRTM), Kamis (13/8/2026). Forum itu membahas pemanfaatan limbah perkebunan dan residu pengolahan mineral untuk menghasilkan bahan baku bernilai ekonomi.

Dosen Program Studi Teknik Kimia Institut Teknologi Kalimantan, Asful Hariyadi, menjelaskan bahwa cangkang kelapa sawit dapat diolah menjadi biokokas terbarukan untuk mendukung proses metalurgi, termasuk pengolahan nikel dan besi.

Selama ini, industri peleburan logam masih bergantung pada kokas berbasis batu bara. Selain memenuhi kebutuhan proses produksi, penggunaan bahan tersebut turut menyumbang emisi karbon.

Biokokas berbasis cangkang sawit menawarkan alternatif melalui pemanfaatan residu industri perkebunan. Dalam pemaparan Asful, briket biokokas tersebut memiliki kadar karbon terikat di atas 80 persen dan kekuatan tekan mekanis yang memenuhi kriteria standar penggunaan pada blast furnace atau tanur tinggi.

Pengujian peleburan feronikel juga menunjukkan tingkat perolehan nikel mencapai 92 persen dan besi 88 persen. Angka ini merupakan hasil pengujian yang disampaikan dalam forum, bukan bukti penerapan komersial teknologi tersebut di Kalimantan Barat.

apkasindo

Studi Life Cycle Assessment (LCA) yang dipaparkan Asful turut menunjukkan potensi pengurangan dampak pemanasan global. Integrasi biokokas cangkang sawit disebut mampu menekan potensi pemanasan global hingga di bawah 0,5 kilogram ekuivalen karbon dioksida per kilogram produk. Nilai tersebut jauh lebih rendah dibandingkan penggunaan kokas batu bara konvensional berdasarkan hasil studi yang dipresentasikan.

Peluang Baru bagi Industri Sawit Kalimantan Barat

Bagi industri kelapa sawit, pengembangan biokokas berpotensi memperluas pemanfaatan cangkang yang selama ini menjadi hasil samping pengolahan tandan buah segar. Jika memenuhi kebutuhan industri metalurgi, material tersebut dapat menjadi bahan baku alternatif dengan nilai tambah lebih tinggi.

Peluang ini relevan bagi Kalimantan Barat yang memiliki kegiatan perkebunan kelapa sawit sekaligus industri pengolahan mineral, terutama bauksit. Kedekatan kedua sektor tersebut membuka ruang untuk membangun keterkaitan rantai pasok antara industri perkebunan dan metalurgi.

Namun, peluang tersebut belum otomatis menjadi kegiatan usaha yang layak. Ketersediaan cangkang sawit, konsistensi pasokan, biaya pengolahan, standar mutu biokokas, serta kebutuhan industri harus diperhitungkan. Pengujian pada skala komersial juga diperlukan untuk memastikan kinerja teknologi dalam kondisi operasional yang sesungguhnya.

Dengan demikian, pemanfaatan cangkang sawit sebagai biokokas masih membutuhkan kajian teknis dan ekonomi sebelum dapat diterapkan secara luas. Keberhasilan pengembangannya akan bergantung pada kemampuan menghubungkan pasokan residu perkebunan dengan kebutuhan industri mineral.

Residu Bauksit Menyimpan Potensi Logam Tanah Jarang

Selain cangkang sawit, BRIN membahas peluang pemanfaatan residu bauksit atau red mud. Material sisa pengolahan bauksit ini selama ini menjadi persoalan lingkungan karena memiliki tingkat alkalinitas tinggi. Namun, kandungan logam di dalamnya membuka peluang pemanfaatan sebagai sumber daya sekunder.

Purna bakti periset Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN, Sariman, menyebut volume residu bauksit mencapai 6 juta hingga 10 juta ton per tahun. Karena memiliki pH tinggi, material tersebut perlu dikelola agar tidak mencemari lingkungan.

Di sisi lain, residu bauksit mengandung besi dengan kadar berkisar 20–60 persen. Material itu juga mengandung logam tanah jarang, seperti neodimium, skandium, dan lantanum, yang berpotensi dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan industri.

Sariman memaparkan pengembangan metode hidrometalurgi dan pirometalurgi untuk mengambil unsur bernilai dari residu tersebut. Dalam pengujian yang disampaikan, proses pelindian menggunakan asam sulfat pada kondisi optimum menghasilkan efisiensi perolehan neodimium hingga 99,6 persen dan skandium 80,3 persen secara selektif.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa residu pengolahan bauksit berpotensi diolah kembali untuk menghasilkan material bernilai ekonomi. Pendekatan ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, yakni memanfaatkan kembali material sisa untuk mengurangi limbah sekaligus menciptakan nilai tambah.

Meski demikian, tingkat perolehan unsur dalam pengujian laboratorium atau kondisi tertentu tidak serta-merta mencerminkan kelayakan produksi massal. Kebutuhan energi, biaya ekstraksi dan pemurnian, karakteristik sisa pengolahan, serta pengendalian dampak lingkungan tetap perlu diperhitungkan.

apkasindo

BRIN Dorong Metalurgi Hijau

Kepala PRTM BRIN, Fajar Nurjaman, mengatakan penelitian pengolahan mineral di Indonesia mulai mengarah pada pemanfaatan sisa kegiatan pertambangan dan industri sebagai bahan baku produk baru.

Jika sebelumnya hilirisasi lebih banyak berfokus pada pengembangan produk dari mineral utama, seperti nikel dan bauksit, riset kini juga mencakup pengolahan residu untuk mengambil unsur yang masih memiliki nilai ekonomi.

Pengembangan teknologi tersebut membutuhkan kolaborasi antara lembaga riset, perguruan tinggi, pemerintah, dan pelaku industri. Kerja sama diperlukan agar hasil penelitian dapat dikembangkan menjadi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan produksi dan memenuhi persyaratan lingkungan.

Bagi Kalimantan Barat, tantangan berikutnya adalah menerjemahkan hasil riset menjadi peluang usaha yang terukur. Pemetaan volume residu bauksit, ketersediaan cangkang sawit, kesiapan teknologi, serta kebutuhan industri setempat menjadi langkah penting untuk menilai potensi penerapannya.

Jika layak secara teknis dan ekonomi, pemanfaatan kedua jenis residu tersebut dapat memperluas nilai tambah industri perkebunan sawit dan pengolahan mineral. Namun, manfaat ekonominya tetap harus dibuktikan melalui pengujian lanjutan, perhitungan biaya, dan penerapan teknologi pada skala industri.

Tags:

Berita Sawit

Berita Sebelumnya
Hadapi Ancaman El Nino, Malaysia Dorong Pengelolaan Kebun Sawit Adaptif

Hadapi Ancaman El Nino, Malaysia Dorong Pengelolaan Kebun Sawit Adaptif

Pengelolaan air dan konservasi kelembapan tanah menjadi perhatian pemerintah Malaysia untuk menghadapi ancaman El Nino terhadap produktivitas kelapa sawit. Pemerintah mendorong pengelolaan perkebunan yang adaptif terhadap perubahan cuaca guna menekan risiko penurunan produksi.

9 Oktober 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *