KONSULTASI
Logo

Dampak Perang Global Menjalar ke Riau, Petani Sawit Terpaksa Kurangi Pemupukan

27 Maret 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
Dampak Perang Global Menjalar ke Riau, Petani Sawit Terpaksa Kurangi Pemupukan
HOT NEWS

sawitsetara.co - PEKANBARU - Gejolak geopolitik global yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel mulai merambat hingga ke sektor perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Di Provinsi Riau, dampaknya kini dirasakan langsung oleh petani melalui lonjakan harga pupuk yang semakin sulit dijangkau.

Kenaikan harga pupuk ini dipicu oleh terganggunya pasokan energi global, terutama gas alam yang menjadi bahan baku utama industri pupuk. Ketergantungan Indonesia terhadap impor membuat biaya produksi di tingkat petani ikut melonjak.

Dr. Cecep Ijang Wahyudin, S.P., M.Si dosen dari Institut Teknologi Perkebunan Pelalawan Indonesia (ITP2I) menilai kondisi ini dapat berdampak serius terhadap produktivitas kebun sawit. “Ketika harga pupuk meningkat, petani cenderung mengurangi dosis maupun frekuensi pemupukan. Ini tentu akan berdampak pada penurunan hasil panen ke depan,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa pemupukan merupakan faktor krusial dalam menjaga pertumbuhan optimal tanaman kelapa sawit. Jika praktik ini tidak dilakukan secara tepat, produksi tandan buah segar (TBS) berpotensi menurun, yang pada akhirnya memengaruhi pendapatan petani.

Secara tidak langsung, Cecep mengingatkan bahwa penurunan intensitas pemupukan akan berdampak berantai terhadap stabilitas produksi dan kesejahteraan petani.

Idul Fitri

Tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, kondisi ini juga berpotensi mengganggu keberlanjutan sistem perkebunan. Keterbatasan biaya dapat mendorong petani mengurangi penerapan teknik budidaya yang baik, sehingga kualitas tanah dan kesehatan tanaman ikut menurun dalam jangka panjang.

Sebagai solusi, Ia mendorong pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai alternatif pupuk organik. Limbah seperti POME (limbah cair pabrik), tandan kosong kelapa sawit (tankos), solid, hingga pelepah dan seresah dinilai memiliki kandungan hara yang cukup untuk menunjang pertumbuhan tanaman jika diolah dengan baik.

793775e8-ba39-48b2-b9c2-02a5324e6f85.jpeg

“Pengembalian pelepah dan seresah ke lahan terbukti mampu meningkatkan bahan organik tanah, memperbaiki struktur tanah, serta menjaga kelembaban dan aktivitas mikroorganisme,” jelas Cecep.

Ia menambahkan secara langsung bahwa tankos dan solid dapat diolah menjadi kompos, sementara POME berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk cair organik yang kaya unsur hara.

Idul Fitri

Pendekatan ini dinilai memberikan manfaat ganda, yakni menekan biaya produksi sekaligus mendukung praktik perkebunan yang lebih ramah lingkungan. Namun, penerapannya di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari keterbatasan teknologi pengolahan hingga minimnya pendampingan teknis bagi petani.

Di sisi lain, Cecep juga menyoroti pentingnya keterbukaan akses terhadap hasil penelitian akademik. Menurutnya, banyak karya ilmiah seperti skripsi, tesis, dan disertasi yang sebenarnya memuat inovasi praktis, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal.

Ia menyatakan bahwa hasil penelitian tersebut seharusnya dapat diakses luas melalui platform digital agar bisa dimanfaatkan oleh petani dan praktisi di lapangan.

Secara tidak langsung, ia menekankan bahwa keterbukaan akses riset akan mempercepat transfer teknologi dari perguruan tinggi ke sektor pertanian, khususnya dalam pengelolaan limbah sawit dan efisiensi pemupukan.

Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku industri dinilai menjadi kunci untuk membangun sistem informasi pertanian yang terbuka dan mudah diakses. Dengan demikian, hasil penelitian tidak hanya menjadi arsip akademik, tetapi benar-benar memberikan manfaat nyata bagi petani.

Di tengah ketidakpastian global, kondisi ini sekaligus menjadi momentum bagi petani sawit di Riau untuk beradaptasi. Pemanfaatan limbah dan peningkatan akses pengetahuan diharapkan mampu mendorong kemandirian serta menciptakan sistem perkebunan yang lebih efisien dan berkelanjutan.


Berita Sebelumnya
Harga TBS Sawit Sumut Turun Setelah Lebaran, Sentuh Rp 3.834 per Kg

Harga TBS Sawit Sumut Turun Setelah Lebaran, Sentuh Rp 3.834 per Kg

Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Sumatera Utara kembali terkoreksi pada periode 25–31 Maret 2026.

26 Maret 2026Harga TBS

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *