KONSULTASI
Logo

Desa Wisata Pentingsari Jadi Potret Keajaiban Sawit Ikut Dongkrak Ekonomi Warga

24 Maret 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Desa Wisata Pentingsari Jadi Potret Keajaiban Sawit Ikut Dongkrak Ekonomi Warga

sawitsetara.co - SLEMAN — Di desa yang terletak di lereng Merapi itu, Desa Wisata Pentingsari, pariwisata tak lagi sekadar soal kunjungan. Ia telah menjelma menjadi ruang produksi, tempat warga tidak hanya menyambut tamu, tetapi juga menciptakan nilai.

Beberapa tahun terakhir, arah pengembangan desa wisata memang bergeser. Wisatawan tak lagi puas hanya melihat, mereka ingin merasakan. Di sinilah Desa Pentingsari membaca peluang itu. Bukan dengan membangun atraksi besar, melainkan dengan menghidupkan potensi yang sudah ada.

Salah satu pintunya datang dari komoditas yang selama ini identik dengan industri besar: kelapa sawit.

Idul Fitri

Melalui kolaborasi antara Haisawit Indonesia dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), warga desa mulai diperkenalkan pada berbagai produk turunan sawit. Bukan minyak goreng atau biodiesel, melainkan barang-barang yang lebih dekat dengan keseharian wisatawan—lilin aromaterapi, sandal, hingga taplak meja.

Produk-produk itu kini hadir di sudut-sudut desa. Di dalam homestay, misalnya, tamu bisa menemukan taplak meja buatan warga. Di etalase kecil dekat pintu keluar, lilin aromaterapi tersusun rapi, menunggu untuk dibawa pulang.

Nilainya bukan semata pada barang, tetapi pada cerita yang menyertainya. Wisatawan sekarang membeli pengalaman, bukan hanya produk. Kalimat itu terasa klise, tapi di Pentingsari, ia menemukan bentuknya yang konkret.

Idul Fitri

Dalam ekosistem seperti ini, UMKM tidak berdiri di pinggir. Mereka menjadi pusat. Dari dapur hingga ruang tamu, dari kerajinan hingga layanan, semuanya terhubung dalam satu rantai ekonomi yang saling menghidupi.

Direktur Haisawit Indonesia, M. Danang MRQ, menyebut persoalan utama UMKM bukan pada produksi, melainkan pada akses. Banyak produk berhenti di tangan pembuatnya, tak pernah benar-benar menemukan pasar.

Untuk itu, pendekatan yang digunakan tidak berhenti pada pelatihan teknis. Warga didorong memahami bagaimana produk mereka bisa masuk ke pasar yang lebih luas—termasuk sektor perhotelan dan industri. Platform digital pun mulai diperkenalkan, membuka kemungkinan baru yang sebelumnya terasa jauh dari desa.

Idul Fitri

Di sisi lain, BPDP melihat pendekatan ini sebagai cara memperluas makna sawit itu sendiri.

Selama ini, sawit kerap dibicarakan dalam skala makro—ekspor, harga global, hingga isu lingkungan. Namun di Pentingsari, narasinya diperkecil, dibumikan. Sawit menjadi bahan baku yang bisa diolah, disentuh, dan dijual langsung oleh masyarakat.

Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menilai integrasi antara sektor perkebunan dan pariwisata sebagai langkah strategis. Melalui kemitraan dengan koperasi petani, rantai pasok mulai tertata—dari bahan mentah hingga produk jadi.

Bagi warga, dampaknya terasa sederhana tapi nyata: ada kepastian bahan baku, ada pasar, dan ada penghasilan.

Data dari Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman mencatat sekitar 32 ribu kunjungan wisatawan sepanjang 2025. Namun angka itu hanya sebagian cerita. Yang lebih penting adalah efek berantai yang ditinggalkannya.

Setiap tamu yang datang mengisi homestay, memesan makanan, membeli kerajinan, dan menggunakan jasa lokal. Uang berputar lebih lama di dalam desa, tidak langsung keluar.

Idul Fitri

Ketua Desa Wisata Pentingsari, Ciptaningtias, mengatakan bahwa semua ini tidak terjadi dalam semalam. Ada proses panjang yang bertumpu pada satu hal: manusia.

Pelatihan demi pelatihan dilakukan. Warga belajar membuat produk berbasis sawit, mengemasnya, hingga menjualnya. Tapi lebih dari itu, mereka belajar melihat desa mereka sendiri sebagai sumber peluang.

Perubahan terbesar, barangkali, bukan pada produk yang dihasilkan, melainkan pada cara pandang.

Di Desa Pentingsari, warga tak lagi sekadar menjadi tuan rumah bagi wisatawan. Mereka menjadi pelaku utama dalam ekosistem ekonomi yang mereka bangun sendiri.

Model seperti ini memang tidak menawarkan pertumbuhan yang instan. Ia tumbuh perlahan, dari bawah, dari hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian. Namun justru di situlah kekuatannya.

Ketika desa mampu mengelola sumber dayanya sendiri—menghubungkan pariwisata, UMKM, dan komoditas lokal—ia tidak hanya menciptakan destinasi. Ia membangun fondasi ekonomi yang lebih tahan lama.


Berita Sebelumnya
Sawit, Dari Limbah Menjadi Berkah

Sawit, Dari Limbah Menjadi Berkah

Limbah kelapa sawit dapat diolah menjadi berbagai macam produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus ramah lingkungan melalui penerapan teknologi yang tepat.

23 Maret 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *