KONSULTASI
Logo

PKS Tanpa Kebun Tingkatkan Ekonomi Petani

5 Mei 2026
AuthorIbnu
EditorIbnu
PKS Tanpa Kebun Tingkatkan Ekonomi Petani
HOT NEWS

sawitsetara.co - JAKARTA – Hasil kemajuan pelaksanaan Perkebunan Inti Rakyat (PIR) menodorong petani mengembangkan kebunnya sendiri dan kebutalan lokasinya jauh dari pabrik. Sedangkan karakterisktik tandan buah segar (TBS) kelapa sawit tidak boleh jauh dari pabrik kelapa sawit (PKS). Sebab TBS kelapa sawit tidak boleh dibiarkan terlalu lama setelah dipetik. Jika dibiarkan terlalu lama dapat menyebabkan penurunan drastis kualitas minyak sawit (CPO/crude palm oil) akibat kenaikan kadar Asam Lemak Bebas (ALB) atau Free Fatty Acid (FFA).

“Sehingga dalam hal ini dengan adanya PKS tanpa kebun menjadi solusi bagi petani yang memiliki kebun jauh dari pabrik. Tidak hanya itu, dengan adanya PKS tanpa kebun maka bisa menghemat biaya pengiriman bagi petani yang lokasinya jauh dari pabrik yang sudah ada,” kata Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung dalam diskusi di salah satu televisi swasta, Selasa (5/5/2026).


Sawit Setara Default Ad Banner

Lebih dari itu, lanjut Tungkot, dengan adanya PKS tanpa kebun bisa menciptakan persaingan usaha yang kompetitif. Tidak ada lagi monopoli untuk mempermainkan harga TBS ditingkat petani. “Dengan begitu maka TBS tanpa kebun dapat meningkatkan harga TBS ditingkat petani yang artinya meningkatkan ekonomi petani,” tambah Tungkot.

Menurut Tungkot, berkembangnya di petani swadaya maka diperlukan PKS baru. Sebab PKS inti plasma tidak bisa menampung semua hasil panen dari petani. Padahal luas perkebunan petani swadaya lebih besar daripada luas perkebuan petani plasma yang sudah ada saat ini.

Selain itu PKS tanpa kebun juga memiliki perizinan yang jelas. Artinya PKS tanpa kebun ini izinnya legal. Sehingga dalam hal ini kehadiran PKS tanpa kebun menciptakan persaingan usaha yang sehat dan memberikan manfaat yang petani.

“Harga diterima petani makin baik lalu pembayarannya juga lebih cepat. Semakin banyak PKS maka semakin baik dan ini menjadi kompetitif. Ini menjadi solulsi dan persaingan makin sehat,” kata Tungkot.


Sawit Setara Default Ad Banner

Sehingga dalam hal ini PKS tanpa kebun bukanlah pesaing bagi PKS inti plasma. Sebab masing-masing PKS mempunyai segmen pasar yang berbeda-beda, PKS inti plasma tidak akan sanggup menampung semua hasil panen petani. Sebab PKS inti plasma wajib mengolah kebun inti dan baru petani plasma, setelah itu baru petani swadaya. Panjangnya antrian tersebut maka diperlukan PKS tanpa kebun untuk mengolah hasil panen dari petani swadaya.

Jika PKS bisa merawat petani sebagai pemasok bahan baku dari industri maka otomatis petani tidak akan pindah ke pabrik yang lain. Namun jika pabrik membiarkan petani menunggu lama hasil panennya untuk diolah maka otomatis petani akan mencari pabrik lainnya yang dapat mengolah hasil panennya dengan cepat. Sperti diketahui bahwa karakteristik TBS setelah dipanen harus segera diolah.

“Dalam hal ini hal yang perlu dibangun adalah membangun kemitraannya yang benar antara PKS dengan petani. Sehingga dalam hal ini PKS perlu merawat petani sebagai pemasok dengan memberikan harga yang lebih tinggi dan pembayaran yang cepat. Maka PKS dan petani harus saling menghargai dan mendukung,” saran Tungkot.


Sawit Setara Default Ad Banner

Tungkot mencontohkan, jika petani mambawa hasil panen dan tidak segera diolah maka bukan tidak mungkin petani akan mencari pabrik yang lebih baik, apalagi jika diberikan harga yang ttidak sesuai.

Tungkot pun memberikan saran, alangkah baiknya jika PKS inti plasma dan PKS tanpa kebun duduk bersama untuk menciptakan kelapa sawit yang sustainable (berkelanjutan). Sebab di Malaysia yang juga sebagai salah satu negara produsen kelapa sawit juga memilik PKS tanpa kebun.

Sekedar catatan, berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian hingga sekitar 2022-2023, luas lahan perkebunan kelapa sawit milik petani mencapai sekitar 6 juta hektar dari total total luas nasional yang mendekati 16,83 juta hektar. Dari sekitar 6 juta hektar tersebut, sekitar 90 persennya adalah lahan milik petani swadaya dan sisanya petani plasma. Artinya luas perkebunan petani swadaya lebih besar dari petani plasma.



Berita Sebelumnya
Kelompok Tani Makmur dan Gapoktan Berkah Sawit Sejahtera Kunjungi APKASINDO Riau, Bahas Sengketa Lahan dan PSR

Kelompok Tani Makmur dan Gapoktan Berkah Sawit Sejahtera Kunjungi APKASINDO Riau, Bahas Sengketa Lahan dan PSR

“Selama kurang lebih 18 hingga 20 tahun bermitra dengan perusahaan, masyarakat merasa dirugikan karena hasil yang tidak sesuai dengan harapan. Selain itu, muncul persoalan lahan yang masuk dalam kawasan hutan serta konflik dengan pihak perusahaan dan koperasi,” ujar Dahlan.

4 Mei 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *