
sawitsetara.co - PEKANBARU — Pelaksanaan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) tidak selalu berjalan mudah. Tantangan terbesar justru kerap muncul ketika petani harus diyakinkan untuk menumbang tanaman sawit yang selama bertahun-tahun menjadi sumber utama penghidupan mereka.
Pengalaman Dewan Perwakilan Daerah Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPD APKASINDO) Rokan Hilir, Riau, menunjukkan bahwa kegigihan dalam membangun kepercayaan petani menjadi salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan PSR. Hingga kini, hampir 7.000 hektare kebun sawit rakyat di daerah tersebut telah diremajakan.
Lantas apa rahasia di balik kesuksesan PSR di Rokan Hilir?
Ketua DPD APKASINDO Rokan Hilir, Tomi Sihombing, mengatakan keberhasilan tersebut tidak diraih secara instan. Tim di lapangan harus melakukan pendekatan dan sosialisasi secara terus-menerus untuk menjelaskan kepada petani bahwa peremajaan merupakan investasi untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan mereka ke depan.
“Memang awalnya petani sulit untuk diajak, apalagi dengan lahan yang sempit, kehidupannya hanya Cuma itu. Harus ditumbang pula, mengajak hal seperti ini yang sulit,” kata Tomi saat mengunjungi Kantor DPW APKASINDO Riau di Pekanbaru, Kamis (10/9/2026).
Menurut dia, kondisi tersebut sangat wajar karena kebun sawit menjadi sumber pendapatan utama petani. Ketika tanaman ditebang untuk diremajakan, petani harus menghadapi masa tunggu sebelum tanaman baru kembali menghasilkan.
Karena itu, pendekatan kepada petani tidak cukup dilakukan sekali. DPD APKASINDO Rokan Hilir terus melakukan sosialisasi dengan memberikan pemahaman mengenai manfaat PSR dan prospek kebun setelah diremajakan. Tomi menilai kegigihan, kepatuhan, dan kedisiplinan menjadi prinsip penting dalam menjalankan program sekaligus membangun kepercayaan petani.
“Dalam merekrut petani, kita di sinilah harus menunjukkan kegigihan, kepatuhan, dan kedisiplinan. Tunjukkan sikap dan motivasi yang baik, akan mendapatkan hasil yang baik,” katanya.
Pendekatan tersebut perlahan membuahkan hasil. Dari sosialisasi yang dilakukan ke sejumlah kelompok dan petani, cakupan PSR di Rokan Hilir terus bertambah hingga mencapai hampir 7.000 hektare yang didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Tomi mengatakan hasil peremajaan yang telah berjalan juga mulai memberikan gambaran positif. Hal itu menjadi modal penting untuk meyakinkan lebih banyak petani agar tidak ragu mengikuti program PSR.
“Alhamdulillah sampai saat ini kita sudah mencapai hampir tujuh ribuan lebih yang sudah kita replanting. Dan dari hasil yang sudah kita lihat, ternyata membawa dampak yang baik dan positif,” ujarnya.
Tak Hanya Kebun, SDM Sawit Juga Disiapkan
Selain mendorong peremajaan kebun, salah satu DPD APKASINDO terbaik tersebut juga memberikan perhatian terhadap penguatan sumber daya manusia (SDM) di sektor sawit. Salah satunya dengan merekrut anak-anak petani yang telah lulus sekolah untuk diarahkan menjadi generasi penerus di sektor perkebunan kelapa sawit.
Mereka didorong menjadi pelopor bagi generasi muda lainnya sekaligus berbagi pengalaman mengenai pendidikan dan dunia sawit.
“Kita merekrut anak-anak yang telah lulus, kita jadikan mereka jadi pelopor untuk anak-anak yang ingin, dan mereka bisa bercerita tentang suka-dukanya menjadi mahasiswa sawit,” kata Tomi.
Menurut dia, dari anak-anak yang direkrut tersebut, sekitar 60 persen berhasil mengikuti proses yang diberikan. DPD APKASINDO Rokan Hilir juga memberikan bimbingan secara gratis tanpa pungutan biaya bagi anak petani sawit yang mengikuti seleksi Beasiswa SDM Sawit.
Bagi Tomi, keberhasilan PSR tidak hanya ditentukan oleh seberapa luas kebun yang berhasil diremajakan, tetapi juga bagaimana petani dan generasi penerusnya dipersiapkan menghadapi masa depan industri sawit.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *