
sawitsetara.co - JAKARTA — CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Rosan Roeslani mengungkapkan temuan awal PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dalam memantau perdagangan komoditas strategis nasional. Salah satu temuan tersebut adalah dugaan under invoicing dalam ekspor produk turunan kelapa sawit, khususnya Refined, Bleached, Deodorized (RBD) Olein.
Dugaan itu muncul setelah DSI mengintegrasikan data perdagangan komoditas dari sejumlah instansi pemerintah yang sebelumnya belum terkonsolidasi dalam satu sistem. Data tersebut mencakup informasi dari Kementerian Perdagangan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian Keuangan, hingga Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
Rosan mengatakan integrasi data memungkinkan DSI membandingkan harga ekspor yang dideklarasikan eksportir dengan harga acuan atau indeks pasar internasional. Dari pemantauan awal, ditemukan adanya selisih yang cukup besar antara kedua harga tersebut.
“Nah jadi sekarang kita bisa menarik data itu semua, kemudian kita bisa ke dalam platform kita, dan kita bisa lihat bahwa yang namanya secontohnya ya, tadi RBD Olein atau Kelapa Sawit, biasanya itu antara declare price, jadi harga yang dideklarasi oleh pada saat penjualan itu, dan indeks itu selama ini ternyata selalu ada gap,” kata Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (21/7/2026).
Menurut Rosan, rata-rata selisih antara harga yang dideklarasikan dengan harga indeks sebelumnya mencapai lebih dari 30 persen. Pemerintah kini menggunakan sistem pemantauan DSI untuk mengawasi pergerakan harga ekspor tersebut secara lebih terintegrasi.
Ia mengatakan perbedaan harga itu mulai menyempit sejak sistem pemantauan diberlakukan.
“Nah sekarang sejak kemarin kita mulai berlakukan, gap yang tadi average kurang lebih 30% lebih itu, sekarang sudah dengan indeks ini sudah berdekatan, sudah sangat berdekatan gitu ya,” tuturnya.
Rosan tidak merinci nilai transaksi maupun perusahaan yang diduga melakukan praktik under invoicing. Namun, ia mengatakan sistem yang dikembangkan DSI memungkinkan pemerintah memantau kesesuaian antara harga transaksi yang dilaporkan dan harga referensi secara harian.
Pemantauan tersebut tidak hanya mencakup harga. DSI juga dapat mengintegrasikan informasi mengenai asal komoditas, volume ekspor, pembayaran bea keluar, hingga kewajiban pajak.
“Jadi dengan itu kita tahu dari dari mana saja mereka berjalan, kemudian volumenya berapa, pembayaran bea berapa, pajaknya berapa, nah jadi kita bisa bandingkan, oh kok ada gap-gap di sini,” kata Rosan.
Pada tiga bulan pertama operasionalnya, DSI akan memusatkan perhatian pada tahap evaluasi dan monitoring terhadap tiga komoditas utama, yakni batu bara, kelapa sawit, ferro alloy, serta berbagai produk turunannya.
DSI mulai menjalankan fungsi pemantauan perdagangan komoditas strategis nasional sejak 1 Juni 2026. Perusahaan ini diberi akses untuk menarik dan mengonsolidasikan data dari berbagai kementerian dan lembaga yang sebelumnya berjalan secara terpisah.
Integrasi data tersebut menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk mengawasi arus perdagangan komoditas strategis, termasuk potensi ketidaksesuaian antara nilai transaksi, harga pasar, penerimaan negara, serta kewajiban perpajakan.
Selain temuan terkait perdagangan komoditas, PT DSI juga telah mengelola devisa sebesar lebih dari US$10,5 miliar dalam waktu sekitar enam pekan sejak mulai beroperasi.
Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan angka tersebut dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin, 20 Juli 2026. Prabowo mengatakan pencapaian itu terjadi ketika DSI masih berada dalam masa transisi dan baru beroperasi sekitar satu bulan dua minggu.
“Saya mendapat laporan dari CEO Danantara Rosan Roeslani Perkasa, baru satu bulan dua minggu bekerja, PT DSI beroperasi dan sudah mengelola devisa sebesar lebih dari US$10,5 miliar,” ujar Prabowo.
Prabowo mengapresiasi capaian tersebut. Adapun bagi Rosan, integrasi data perdagangan dan pengawasan terhadap komoditas strategis menjadi bagian dari upaya memperkuat pengelolaan devisa serta meningkatkan penerimaan negara dari aktivitas ekspor.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *