KONSULTASI
Logo

Ekspor Sawit Masih Mendominasi, Sumbang Hampir 57 Persen Ekspor Nonmigas Riau

16 Juli 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Ekspor Sawit Masih Mendominasi, Sumbang Hampir 57 Persen Ekspor Nonmigas Riau

sawitsetara.co - PEKANBARU — Produk kelapa sawit masih menjadi penopang utama kinerja ekspor Provinsi Riau sepanjang Januari-Mei 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat ekspor kelompok lemak dan minyak hewan atau nabati, yang didominasi produk sawit, mencapai US$ 4,69 miliar atau meningkat 13,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kepala BPS Provinsi Riau Asep Riyadi mengatakan kenaikan ekspor komoditas sawit menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekspor nonmigas Riau selama lima bulan pertama tahun ini.

“Komoditas yang mengalami peningkatan terbesar adalah lemak dan minyak hewan atau nabati dengan kenaikan mencapai US$559,66 juta atau tumbuh 13,54 persen dibandingkan Januari hingga Mei tahun lalu. Komoditas ini masih menjadi penyumbang terbesar ekspor nonmigas Riau,” kata Asep Riyadi, Rabu (15/7/2026).

Apj

BPS mencatat total nilai ekspor Riau sepanjang Januari-Mei 2026 mencapai US$ 8,60 miliar, naik 5,58 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Kenaikan tersebut didorong pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 9,37 persen menjadi US$ 8,26 miliar, meskipun ekspor migas merosot 42,83 persen.

“Pertumbuhan tersebut ditopang ekspor nonmigas yang naik 9,37 persen menjadi US$8,26 miliar, meski ekspor migas turun 42,83 persen,” ujar Asep.

Selain produk sawit, sejumlah komoditas lain juga mencatat pertumbuhan. Ekspor bahan kimia organik meningkat 74,68 persen menjadi US$ 452,71 juta. Berbagai makanan olahan naik 20,20 persen, ampas dan sisa industri makanan bertambah 25,04 persen, sedangkan berbagai produk kimia meningkat 5,94 persen.

Di sisi lain, ekspor bubur kayu atau pulp mengalami penurunan terbesar. Nilainya berkurang US$ 109,38 juta atau turun 13,67 persen dibandingkan Januari-Mei tahun lalu. Penurunan juga terjadi pada komoditas buah-buahan yang merosot 48,05 persen.

“Di sisi lain, bubur kayu (pulp) menjadi komoditas yang mengalami penurunan terbesar. Nilai ekspornya turun US$109,38 juta atau 13,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan juga terjadi pada komoditas buah-buahan yang merosot 48,05 persen,” kata Asep.

Apj

Menurut dia, dominasi komoditas sawit menunjukkan industri hilir berbasis kelapa sawit masih menjadi motor utama perdagangan luar negeri Riau.

“Dari seluruh ekspor nonmigas Riau, kelompok lemak dan minyak hewan atau nabati memberikan kontribusi sekitar 56,82 persen. Artinya, lebih dari separuh ekspor nonmigas Riau masih berasal dari komoditas tersebut,” ujarnya.

Berdasarkan negara tujuan, Tiongkok masih menjadi pasar terbesar ekspor nonmigas Riau dengan nilai US$ 1,55 miliar atau berkontribusi 18,72 persen. Posisi berikutnya ditempati India sebesar US$ 694,01 juta dan Malaysia US$ 626,08 juta. Ketiga negara tersebut menyerap sekitar 34,71 persen dari total ekspor nonmigas Riau selama Januari-Mei 2026.

BPS juga mencatat peningkatan nilai ekspor ke sejumlah negara tujuan utama. Ekspor ke Tiongkok naik 22,22 persen, Amerika Serikat meningkat 16,59 persen, Vietnam tumbuh 17,89 persen, Rusia bertambah 9,86 persen, dan Italia melonjak 26,46 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sebaliknya, nilai ekspor ke Bangladesh turun 16,93 persen, Belanda turun 5,16 persen, Malaysia berkurang 1,59 persen, dan Filipina terkoreksi 1,64 persen.

Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan tetap menjadi penopang utama ekspor Riau dengan kontribusi mencapai 94,55 persen terhadap total ekspor. Selama Januari-Mei 2026, nilai ekspor sektor industri pengolahan meningkat 9,78 persen, sedangkan ekspor sektor pertanian menurun 11,08 persen.


Berita Sebelumnya
Setelah Sempat Anjlok, Harga TBS Sawit Berangsur Pulih di Sejumlah Daerah

Setelah Sempat Anjlok, Harga TBS Sawit Berangsur Pulih di Sejumlah Daerah

Upaya pemerintah menstabilkan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit mulai menunjukkan hasil. Setelah sempat mengalami penurunan yang dinilai tidak sejalan dengan pergerakan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dunia, harga TBS di sejumlah sentra produksi kini kembali menguat.

14 Juli 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *