KONSULTASI
Logo

Emiten Sawit Tetap Menjanjikan di 2026, Meski Dibayangi Penundaan B50 dan Kenaikan Pajak Ekspor

9 Februari 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
Emiten Sawit Tetap Menjanjikan di 2026, Meski Dibayangi Penundaan B50 dan Kenaikan Pajak Ekspor
HOT NEWS

sawitsetara.co - Kinerja emiten kelapa sawit masih menyimpan prospek positif sepanjang 2026, meskipun industri ini tengah dibayangi sejumlah sentimen negatif. Penundaan implementasi biodiesel B50 serta kenaikan pungutan ekspor (PE) crude palm oil (CPO) dinilai berpotensi menekan kinerja jangka pendek, namun belum cukup kuat untuk mengubah outlook sektor secara keseluruhan.

Penundaan penerapan B50 yang semula direncanakan berlaku awal 2026 menjadi salah satu sentimen negatif bagi emiten sawit. Padahal, kebijakan ini sebelumnya diharapkan menjadi katalis utama peningkatan permintaan domestik CPO.

Di saat yang sama, pemerintah resmi menaikkan pungutan ekspor kelapa sawit menjadi 12,5% dari sebelumnya 10%. Kebijakan ini akan berlaku mulai pertengahan 2026 guna menopang program biodiesel B40 serta menjaga keberlanjutan pendanaan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai penundaan B50 dan kenaikan pajak ekspor sebagai sentimen negatif jangka pendek. Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi menekan margin emiten dan menghilangkan tambahan permintaan domestik.

Promosi ssco

“Ini bisa menekan margin dan menghilangkan tambahan permintaan domestik. Namun dampaknya relatif terbatas karena program B40 tetap berjalan,” ujar Azis dikutip dari kontan.id.

Meski begitu, Azis melihat peluang perbaikan kinerja emiten sawit masih terbuka di tahun ini. Berjalannya program B40 dinilai mampu menjaga average selling price (ASP) emiten CPO. Selain itu, konsumsi domestik juga berpotensi meningkat seiring mendekatnya Ramadan dan Idul Fitri.

“Momentum musiman bisa mendorong konsumsi dalam negeri, sehingga kinerja emiten masih berpeluang membaik,” tambahnya.

Dari sisi valuasi, saham emiten CPO saat ini masih tergolong undervalue. Namun, investor tetap perlu mencermati dinamika kebijakan biodiesel, perubahan pajak ekspor, pergerakan harga CPO global, serta isu lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).

Atas pertimbangan tersebut, Azis merekomendasikan trading buy untuk PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) dengan target harga di kisaran Rp 1.820 – Rp 1.840 per saham.

Promosi ssco

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder AP Trading Insight Singapore, Kiswoyo Adi Joe, menilai penundaan B50 tidak akan mengganggu permintaan CPO secara signifikan. Ia memperkirakan produksi sawit nasional hanya tumbuh sekitar 1% dibandingkan 2025.

“Kondisi ini masih bisa menjaga harga CPO di kisaran MYR 4.200 hingga MYR 4.500 per ton sepanjang 2026,” ujarnya.

Kiswoyo menilai PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) masih berpotensi menjadi emiten unggulan di sektor sawit. Faktor usia tanaman yang berada pada fase produktif menjadi keunggulan utama kedua emiten tersebut.

Namun demikian, valuasi TAPG dan DSNG saat ini dinilai relatif mahal. Berdasarkan data RTI, TAPG mencatatkan price to earning ratio (PER) 8,36 kali dengan price to book value (PBV) 2,67 kali. Sementara DSNG memiliki PER 8,69 kali dan PBV 1,42 kali.

Dengan pertimbangan valuasi, Kiswoyo justru merekomendasikan beli saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP). Target harga masing-masing saham dipatok di Rp 9.000 dan Rp 1.500 per saham hingga akhir 2026. “PBV keduanya masih di bawah 1 kali, AALI di 0,63 kali dan LSIP 0,59 kali,” jelasnya.

Di sisi lain, Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, mengingatkan bahwa penundaan B50 berpotensi menekan ASP CPO dan margin emiten sawit. Namun, tingginya permintaan global, khususnya dari India dan China, dinilai masih mampu menopang kinerja sektor ini.


Berita Sebelumnya
Biorefinery Cilacap, Mengolah Jelantah Sawit menjadi Bioavtur

Biorefinery Cilacap, Mengolah Jelantah Sawit menjadi Bioavtur

Pertamina terus memperkuat perannya dalam mendukung transisi dan swasembada energi nasional melalui pengembangan Proyek Bioavtur/Biorefinery Cilacap yang memproduksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbahan baku Used Cooking Oil (UCO) atau disebbut limbah minyak goreng dari sawit. Proyek ini merupakan kelanjutan dari keberhasilan Phase 1 Revamp TDHT Cilacap yang mengolah bahan baku minyak jelantah menjadi SAF melalui skema co-processing.

8 Februari 2026 | Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *