
sawitsetara.co - PEKANBARU — Penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan jamur Ganoderma menjadi salah satu ancaman serius bagi perkebunan kelapa sawit. Penyakit tersebut dapat menyebar dari satu tanaman ke tanaman lain dan pada akhirnya mengurangi populasi tanaman produktif.
Praktisi perkebunan kelapa sawit Ferry Harianja mengatakan ancaman Ganoderma tidak hanya berkaitan dengan kesehatan tanaman, tetapi juga berpotensi memengaruhi produktivitas perkebunan.
“Ancaman serius yang sangat menakutkan bagi perkebunan kelapa sawit itu dikarenakan penyakit ini menular,” kata Ferry dalam program Sawit Talk, sawitsetara.co.
Menurut dia, penularan penyakit tersebut dapat menyebabkan jumlah tanaman kelapa sawit dalam satu areal terus berkurang. Kondisi itu pada akhirnya berpengaruh terhadap produktivitas perkebunan.
Ferry menjelaskan Ganoderma sebenarnya telah berada di dalam ekosistem tanah sejak kawasan tersebut masih berupa hutan. Jamur itu berperan sebagai pengurai bahan organik, termasuk batang pohon yang telah mati.

Persoalan muncul ketika kondisi lingkungan berubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Menurut Ferry, perubahan lingkungan dan perlakuan terhadap lahan dapat memengaruhi keseimbangan mikroorganisme di dalam tanah.
Di sisi lain, Trichoderma yang menjadi salah satu mikroorganisme antagonis alami terhadap Ganoderma dapat mengalami penurunan populasi. Ketidakseimbangan tersebut membuat Ganoderma berpotensi berkembang lebih dominan.
“Ganoderma yang awalnya bersifat saprofit atau memakan sel-sel atau batang-batang yang busuk, kemudian setelah overpopulasi dia pun bisa bersifat sebagai parasit,” ujar Ferry.
Penularan Ganoderma, kata dia, dapat terjadi melalui kontak akar. Akar tanaman yang telah terinfeksi dapat bersentuhan dengan akar tanaman sehat sehingga penyakit kemudian menyebar.
Selain itu, penyebaran dapat berlangsung melalui spora yang dihasilkan tubuh buah atau fruiting body. Spora tersebut dapat terbawa angin, serangga, hewan ternak maupun aktivitas manusia di dalam perkebunan.
Ferry mengatakan gejala serangan perlu dikenali sejak dini. Pada tanaman yang mengalami gangguan pada akar, misalnya, kemampuan tanaman menyerap air dan nutrisi akan menurun.
Beberapa indikasi yang perlu diperhatikan antara lain pelepah tombak yang tidak berkembang, daun menguning, pelepah melemah atau sengklek, hingga tanaman akhirnya tumbang.
“Kalau pelepah tombak lebih dari dua, pelepahnya sudah sengkle, daunnya sudah menguning, biasanya itu sudah warning,” kata dia.
Karena itu, Ferry menilai pengamatan rutin terhadap kondisi tanaman menjadi penting agar serangan dapat diketahui sebelum berkembang lebih luas.
Ia membagi tingkat serangan Ganoderma berdasarkan kondisi tanaman dalam satu hektare, mulai dari ringan, sedang hingga berat. Pada kondisi berat, jumlah tanaman yang terdampak dapat mencapai lebih dari lima pokok per hektare.
Dalam kondisi tertentu, Ferry mengatakan dampaknya dapat jauh lebih besar. Ia mencontohkan kasus di Sumatera Utara ketika populasi tanaman produktif dalam satu hektare dapat tersisa sekitar 60 pokok akibat serangan Ganoderma.
Salah satu pendekatan yang digunakan Ferry dalam penanganan Ganoderma adalah menjaga keberadaan mikroorganisme antagonis, khususnya Trichoderma, di sekitar perakaran tanaman. Menurut dia, mikroorganisme tersebut perlu ditempatkan pada lingkungan yang terlindung dari paparan langsung sinar matahari dan mendapat sumber bahan organik.

Pendekatan tersebut kemudian dikembangkan melalui penggunaan produk pupuk organik hayati TrichoCycle yang mengandung Trichoderma sp. Ferry mengatakan produk tersebut digunakan untuk membantu menekan perkembangan Ganoderma sekaligus mendukung kondisi lingkungan perakaran.
“Ini merupakan pupuk organik yang diperkaya oleh mikroba hayati. Di dalamnya banyak spora Trichoderma dan ada sedikit nutrisinya,” ujar Ferry.
Dalam penerapannya, Ferry mengatakan perlakuan perlu disesuaikan dengan kondisi tanaman. Ia menyebut aplikasi pada tanaman yang telah menunjukkan gejala memerlukan perlakuan berbeda dibandingkan tanaman sehat yang ditujukan untuk pencegahan.
Menurut dia, pengalaman penanganan di sejumlah lokasi menunjukkan perubahan kondisi tanaman dapat diamati setelah aplikasi, meski waktu pemulihan bergantung pada tingkat serangan. Pada kasus dengan gejala ringan, perubahan disebut dapat terlihat dalam sekitar dua bulan, sedangkan kondisi yang lebih berat membutuhkan waktu lebih panjang.

Contoh pohon sawit yang berhasil diselamatkan dari serangan Ganoderma
setelah diaplikasikan pupuk organik hayati TrichoCycle, indikasinya tumbuh akar baru.
Ferry menekankan keberhasilan pengendalian tidak hanya bergantung pada bahan yang digunakan, tetapi juga pada ketepatan cara aplikasi dan kondisi tanaman saat perlakuan dilakukan.
“Seharusnya kita mencegah lebih baik daripada mengobati,” kata Ferry.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *